Pengunjuk rasa palestina melarikan diri dari gas air mata yang ditembakkan militer Israel di Nablus, Tepi Barat, Senin (13/9/2021). | AP/Nasser Nasser
01 Oct 2021, 03:45 WIB

Tentara Israel Halangi Anak Palestina Bersekolah

Lebih dari 600 ribu orang Yahudi Israel tinggal di permukiman di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur.

YERUSALEM -- Tentara Israel pada Rabu (29/9) mengejar anak-anak Palestina yang sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah di desa Al-Lubban Al-Sharqiya, dekat Nablus. Penduduk setempat mengatakan kepada kantor berita Wafa bahwa tentara itu menghalangi anak-anak pergi ke sekolah.

Dilansir Middle East Monitor, Kamis (30/9), tentara Israel memaksa anak-anak mengambil rute alternatif yang lebih panjang untuk menuju ke sekolah. Awal pekan ini, seorang pemukim Israel memarkir mobilnya di pintu masuk sekolah menengah khusus perempuan di Desa Al-Lubban Al-Sharqiya.

Wafa menyebutkan, tindakan itu merupakan upaya untuk memprovokasi anak-anak dan guru mereka. Tentara kemudian menutup gerbang sekolah dan mencegah para murid masuk dan keluar dari tempat itu.

Pasukan Israel juga menahan seorang anak Palestina berusia 17 tahun dari desa terdekat, di Ammuriya selama lebih dari dua jam. Dia kemudian dibebaskan tanpa tuduhan.

Terkait

Anak-anak sekolah sering diganggu dan diserang oleh tentara Israel dan pemukim Yahudi. Lokasi sekolah mereka memang berada di jalan utama Tepi Barat, yang digunakan sebagai lalu lintas para pemukim Yahudi.

Israel telah menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur sejak 1967. Pendudukan itu tidak diakui oleh hukum internasional. Israel kerap melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Palestina dan pelanggaran hukum internasional.

Lebih dari 600 ribu orang Yahudi Israel tinggal di pemukiman di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur. Menurut hukum internasional, semua pemukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur adalah ilegal.

Sorotan PBB   

Sementara itu PBB mengatakan, Palestina menghadapi situasi ekonomi terburuk pada 2020. Dalam laporan tahunan the UN Conference on Trade and Development (UNCTAD) yang diterbitkan pada Selasa (28/9), disebutkan, penurunan ekonomi Palestina tahun lalu adalah kelanjutan dari kondisi ekonomi 2019. Dua penyebab utama terjadinya hal tersebut, yakni pendudukan Israel dan pandemi Covid-19.

UNCTAD mengatakan, perekonomian Palestina pada 2020 menyusut 11,5 persen. Itu merupakan penurunan terbesar kedua sejak Otoritas Palestina terbentuk pada 1994. UNCTAD mencatat, lebih dari 66 ribu warga Palestina kehilangan pekerjaan dan tingkat pengangguran melonjak hingga 26 persen.

Menurut UNCTAD, sebelum pandemi melanda dunia, perekonomian Palestina mengalami disintegrasi dan ketidakstabilan. Kendati demikian, menurut mereka, pendudukan Israel menjadi hambatan utama bagi pembangunan Palestina. 


×