KH Abul Fadhol Senori. | DOK NU
03 Oct 2021, 03:39 WIB

KH Abul Fadhol Senori, Teladan Alim dari Tuban

Salah seorang murid Mbah Fadhol ialah KH Maimun Zubair.

 

OLEH MUHYIDDIN

 

 

Terkait

Syiar Islam telah lama menyebar luas di Tuban, salah satu kabupaten Jawa Timur. Setidaknya, dakwah agama ini mulai berkembang pesat sejak zaman Sunan Bonang, yang hidup antara tahun 1465 dan 1525 Masehi. Di daerah itu pula, jenazah sang Wali Songo dimakamkan.

Dalam catatan sejarah Tuban, tentunya tidak hanya Sunan Bonang yang berjasa dalam mengukuhkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Di antara banyak nama, tersebutlah KH Abul Fadhol Senori. Tokoh ini dikenang sebagai seorang ulama besar dari kalangan ahlus sunnah waljamaah (aswaja).

Pengarang kitab Al-Kawakibul Lama’ah ini juga pernah berguru pada Hadrastus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Oleh karena itu, dirinya mewariskan semangat keaswajaan dari sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut. Melalui antara lain karyanya itu, ia berkomitmen untuk terus menjaga akidah umat.

Kiai Abul Fadhol Senori adalah seorang dai yang masyhur pada masanya. Ia termasuk pendakwah dengan kedalaman ilmu dan wawasan yang luas. Dengan penuh ketekunan dan disiplin, dirinya menguasai berbagai disiplin keilmuan Islam. Masyarakat juga mengenalnya sebagai seorang alim yang sangat zuhud.

Sosok yang akrab disapa Mbah Fadhol ini dalam usia sepuhnya mencetak banyak ulama. Salah seorang muridnya yang di kemudian hari menjadi mubaligh besar ialah KH Maimun Zubair. Di samping itu, ada pula KH Abdullah Faqih Langitan, KH Dimyati Rois, dan lain-lain. Tidak mengherankan bila dai lama berkiprah di Tuban itu dijuluki sebagai “gurunya ulama-ulama Nusantara”.

Reputasinya tidak hanya ditunjang kiprahnya semasa hidup. Setelah ia wafat, namanya melambung tinggi seiring dengan kepopuleran kitab-kitab karangannya. Banyak buku yang ditulisnya kemudian dijadikan sebagai rujukan utama di pesantren-pesantren Nahdliyin se-Indonesia.

 
Tidak mengherankan bila Kiai Abdul Fadhol Senori yang lama berkiprah di Tuban itu dijuluki sebagai “gurunya ulama-ulama Nusantara”.
 
 

Meskipun terkenal di Tuban, Kiai Abul Fadhol Senori merupakan tokoh kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Desa Sedan merupakan kampung halamannya. Putra KH Abdus Syakur itu lahir pada 1921 M. Ayahandanya itu adalah seorang ulama besar yang pernah menimba ilmu di Tanah Suci. Adapun ibundanya, Nyai Sumiah, merupakan putri seorang alim, yakni Kiai Ibrahim.

Semasa kecil, Abul Fadhol Senori belajar langsung kepada bapaknya sendiri. Melalui didikan kedua orang tuanya, ia tumbuh menjadi pribadi yang gemar menuntut ilmu-ilmu agama. Selain itu, dirinya memang dikaruniai daya tangkap dan kreativitas yang di atas rata-rata. Bahkan, saat usianya baru enam tahun, anak lelaki ini sudah mahir membuat syair berbahasa Arab. Sambil bermain di pinggir sungai, mulutnya melantunkan syair karangannya sendiri.

Pada usia sembilan tahun, Fadhol tidak hanya lancar mengaji. Ia pun sudah mampu menghafal Alquran 30 juz. Hafiz cilik ini juga menguasai beberapa kitab keislaman. Di antaranya adalah Aqidatul Awam, Jurumiyah, Imrithi, dan Al-Fiyah Ibnu Malik.

Kiai Abdus Syakur wafat pada 1940 M. Sepeninggalan ayahnya, Fadhol melanjutkan rihlah keilmuannya dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Salah satu lembaga tujuannya ialah Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang diasuh oleh Hadrastus Syekh KH Hasyim Asy’ari.

Di sinilah ia mulai mewarisi keilmuan Mbah Hasyim, khususnya dalam lingkup ilmu hadis. Sebab, pendiri NU itu memberikan ijazah periwayatan hadis kepadanya, seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

 
Pada usia sembilan tahun, Fadhol tidak hanya lancar mengaji. Ia pun sudah mampu menghafal Alquran 30 juz. Hafiz cilik ini juga menguasai beberapa kitab keislaman.
 
 

Kakek presiden keempat RI itu mendapatkan periwayatan dari Syekh Mahfudz at-Termasi, yang terus sampai hingga para sahabat dan Rasulullah SAW. Selain berguru kepada Mbah Hasyim, Fadhol juga pernah menimba ilmu dari KH Faqih Abdul Jabbar Maskumambang.

Nama-nama besar lain yang menjadi gurunya ialah Syekh Muhammad Baghir bin al-Jogjawi al-Makki serta Syekh Abu Bakar Syatho’ ad-Dimyati al-Makki.

Hijrah ke Tuban

Setelah mengaji kepada KH Hasyim Asy’ari, Fadhol dinikahkan dengan Syari’ati, seorang putri Kiai Djoned bin Kusno. Mertuanya itu kemudian meminta Fadhol untuk pindah ke Senori, Tuban. Ia pun menyanggupi. Maka dimulailah kiprahnya di daerah pesisir utara Jawa Timur itu. Masyarakat setempat menyambut gembira kepindahannya.

Begitu menjadi warga Tuban, Kiai Abul Fadhol mengadakan majelis taklim. Banyak Muslim yang mengikuti kajian keagamaan yang digelarnya. Melihat antusiasme masyarakat itu, Kiai Djoned lantas mewakafkan hartanya untuk pembangunan sebuah sekolah Islam tradisional di sana.

Beberapa waktu kemudian, berdirilah Pondok Pesantren Darul Ulum pada 1963 di atas tanah wakaf pemberian seseorang. Lokasnya berada di Desa Jatisari, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban.

Dalam mengembangkan Darul Ulum, Mbah Fadhol murni menggunakan dana pribadi. Ia pun berupaya sekuat tenaga untuk menghidupkan lembaga ini agar menjadi tempat yang nyaman bagi para penuntut ilmu. Sikap swadaya selalu diutamakannya. Karena itu, beberapa kali dirinya menolak tawaran pemerintah yang hendak membantu pengembangan pesantren tersebut.

Sebagai sumber nafkahnya, Mbah Fadhol berdagang banyak komoditas, mulai dari jagung, minyak wangi, hingga barang-barang elektronik. Pekerjaannya itu dilakukan tanpa “mengganggu” fokusnya sendiri dalam berdakwah dan menyebarkan ilmu-ilmu agama di Darul Ulum.

 
Sebagai sumber nafkahnya, Mbah Fadhol berdagang banyak komoditas, mulai dari jagung, minyak wangi, hingga barang-barang elektronik.
 
 

Bahkan, tidak sedikit dari penghasilannya itu yang kemudian ditabung. Sedikit demi sedikit, terkumpullah dana untuk kepentingan mengembangkan pesantren.

Selama masa-masa pertama diasuh Mbah Fadhol, Pesantren Darul Ulum bisa dikatakan dalam tahap awal. Kebanyakan murid yang belajar di sana adalah santri kalong. Mereka hanya mengaji kepadanya, tanpa menginap di asrama. Barulah pada era 1990-an, Darul Ulum menerapkan peraturan yang lebih ketat. Ada lebih banyak pula kegiatan yang diselenggarakan.

Salah seorang murid Mbah Fadhol ialah KH Maimun Zubair. Sosok yang kini akrab disebut Mbah Moen itu bahkan sudah menjadi pengikutnya sejak Darul Ulum belum berdiri. Tokoh Pondok Pesantren al-Anwar Sarang itu rutin mengikuti pengajian di rumah Mbah Fadhol. Metode yang dilaluinya ialah sistem sorogan, baik sebelum maupun sesudah pesantren di Senori terbentuk.

Sebagai seorang pengasuh pesantren, Mbah Fadhol juga memberikan dampak yang sangat baik di tengah masyarakat. Siapapun yang ingin belajar mengaji di Darul Ulum tidak akan dipungut biaya. Dengan begitu, pihak orang tua dari para santri tidak akan terbebani finansialnya. Ia pun kerap mengadakan pengajian untuk masyarakat umum, khususnya tiap malam Selasa. Beberapa materi yang diajarkannya ialah kitab Ihya Ulum ad-Din karya Imam al-Ghazali.

Tidak hanya mengabdi lewat pesantren, Mbah Fadhol juga menjalani aktivas dakwahnya lewat organisasi keagamaan. Ia adalah seorang kiai yang sangat aktif dalam NU.

Selama di jam’iyah ini, dirinya pernah mengemban amanah sebagai rais syuriah NU Cabang Tuban. Tidak hanya itu, saat usianya sudah sepuh, posisi mustasyar NU pernah diisinya. Itu berlangsung hingga sang alim meninggal dunia.

Produktif berkarya

KH Abdul Fadhol Senori sangat tekun menyisihkan waktu untuk menelaah dan menulis kitab. Kebiasaan ini sudah dijalaninya bahkan sejak usia remaja. Selama hidupnya, ia telah produktif melahirkan ratusan karya tulis.

Namun sayangnya, banyak karyanya yang tidak terdokumentasikan dengan baik. Sebab, sebagian besar naskahnya sempat hanyut diterjang banjir besar yang melanda Tuban pada 1971. Ada pula tulisannya yang dibawa murid-muridnya dari berbagai daerah. Alhasil, sulit untuk dilacak hingga sekarang.

Di antara karya tulis Mbah Fadhol yang sudah dicetak dan relatif mudah dijumpai ialah kitab Tashilul Masalik Syarah Alfiah Ibnu Malik, Kasfyfut Tabarih fi Shalatit Tarawih, Ahli Musamarah fi Bayani Auli’il Asyrah, Durrul Farid fil ‘Ilmit Tauhid, dan Al-Kawakib Al-lamma'ah fi Tahqiq al- Musamma bi Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Karya yang tersebut akhir itu marak dikaji banyak peneliti. Kitab itu juga menjadi salah satu rujukan di banyak pesantren, khususnya yang berhaluan NU. Isinya menjadi pegangan bagi ulama-ulama dalam mempertahankan akidah Islam perspektif aswaja.

 
Dalam Al-Kawakib, Mbah Fadhol memberikan berbagai penjelasan yang bernas. Semua itu dikelompokkannya ke dalam lima pasal yang menguraikan pokok-pokok aswaja.
 
 

Aswaja sendiri merupakan paham keagamaan umat Islam Sunni yang berasal dari kalam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Paham ini mengambil jalan tengah antara kelompok rasional dan ahlul hadis. Dengan begitu, pemikiran dan gagasan yang muncul menjadi wasathiyah atau moderat.

Dalam Al-Kawakib, Mbah Fadhol memberikan berbagai penjelasan yang bernas. Semua itu dikelompokkannya ke dalam lima pasal yang menguraikan pokok-pokok aswaja. Misalnya, epistemologi yang digagas Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi.

Sepanjang sejarah, perdebatan tentang aswaja selalu melibatkan dua kelompok yang berhadap-hadapan. Pada perkembangannya, diskusi tentang paham ini juga merambah pada wacana para ulama di Indonesia. Melalui kitab ini, Mbah Fadhol memberikan pencerahan kepada kaum Muslimin.

Ulama besar ini berpulang ke rahmatullah pada 1989 M. Jenazahnya dimakamkan di Senori, Tuban, Jawa Timur.

Mbah Fadhol Dalam Kenangan

 

Ojo isin dadi wong Jowo, delok toh Mbah Fadhol Senori. Ora tahu ngaji ning Arab, tapi geneyo kok iso ‘alim ngalahno sing ning Arab. Alime koyok ngono, karangane kitab pirang-pirang,” begitu nasihat Mbah Maimun Zubair kepada para santrinya.

Arti petuah itu: “Jangan malu menjadi orang Jawa. Lihatlah Mbah Fadhol. Beliau tidak pernah sekalipun belajar di Tanah Arab, tetapi kealimannya mengalahkan yang (belajar) di Arab. Betapa alimnya beliau. Kitab-kitab karangan beliau pun sangat banyak.”

Tokoh Pondok Pesantren al-Anwar Sarang, Rembang, itu sedang menceritakan kehebatan gurunya, KH Abul Fadhol Senori atau Mbah Fadhol. Selama bertahun-tahun, dai yang wafat di Makkah al-Mukarramah pada 2019 lalu itu pernah menjadi muridnya.

Mbah Fadhol merupakan salah seorang ulama besar pada masanya. Pribadinya juga dikenal zuhur, selalu bervisi ukhrawi, alih-alih duniawi. Kesehariannya sangat bersahaja. Untuk nafkah diri dan keluarganya, ia berdagang. Sebagian besar penghasilan disedekahkannya untuk keberlangsungan lembaga pendidikan yang diasuhnya, Pondok Pesantren Darul Ulum, Tuban, Jawa Timur.

 
Mbah Fadhol merupakan salah seorang ulama besar pada masanya. Pribadinya juga dikenal zuhur, selalu bervisi ukhrawi, alih-alih duniawi.
 
 

Dilansir dari berbagai sumber, Mbah Moen mengisahkan betapa tawadhu gurunya itu. Pada hari wafatnya KH Zubair Dahlan—ayah Mbah Moen—pengarang kitab Al-Kawakibul Lama’ah ini turut bertakziah. Ia hadir di tengah banyak orang. Dan, nyaris tak ada satu pun yang menyadadri bahwa dirinya termasuk ulama besar.

Tak ayal, saat itu banyak orang mengabaikannya. Apalagi, kopiah hitam yang dipakainya saat itu sudah kusam. Pakaian yang dikenakannya pun layaknya orang biasa. Orang-orang baru tahu kalau sosok itu adalah Mbah Fadhol setelah Kiai Maimoen Zubair memergokinya di tengah jalan. Mbah Moen pun langsung menciumi tangan gurunya itu dan mempersilakannya duduk di ruang depan.

Sebagai seorang ulama zuhud, Mbah Fadhol juga memiliki amalan rutin yakni mengkhatamkan Alquran dua kali dalam sehari atau 60 kali dalam sebulan dengan hafalan. Selain itu, putra KH Abdus Syakur tersebut juga terbiasa membaca kitab-kitab tebal sampai khatam dalam 10 hari.

Alhasil, dirinya bisa menghafal isi literatur itu. Tak heran bila Mbah Moen sendiri menyebut gurunya itu sebagai “Kamus Berjalan”.

 

 


×