Petani memanen jagung di persawahan Desa Donorojo, Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Ahad (26/9/2021). Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan memperkirakan kebutuhan jagung untuk pakan pada tahun 2021 mencapai 10,76 juta ton yang terd | ANTARA FOTO/Anis Efizudin
30 Sep 2021, 03:45 WIB

Membenahi Data Jagung

Data produksi tanpa diimbangi data kebutuhan riil berisiko ketidaktepatan menghitung stok jagung.

TASMILAH, Statistisi pada BPS Kota Malang

Melonjaknya harga jagung sebagai komponen utama pakan membuat peternak unggas menjerit. Ini terutama terjadi pada peternak unggas mandiri dengan modal terbatas.

Lonjakan harga jagung, secara teori erat kaitannya dengan permintaan dan penawaran di pasar. Dari sisi penawaran, Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, stok jagung tersedia 2,37 juta ton sebagaimana disampaikan kepada komisi IV DPR.

Dari sinilah, kemudian dipertanyakan keabsahan data produksi jagung nasional oleh legislatif. Kementerian Perdagangan (Kemendag) pun mempertanyakan keberadaan stok jagung 2,37 juta ton tersebut.

Terkait

Secara teori, dengan stok cukup, harga jagung tak akan sampai melonjak hingga di atas Rp 6.000 per kilogram. Untuk menjawab keraguan itu, Kementan mengungkapkan adanya masalah distribusi jagung hingga mengakibatkan kenaikan.

Data produksi jagung nasional berasal dari satu sumber, yaitu Kementan. Menurut laporan tahunan Kementan, produksi jagung dalam tiga tahun terakhir meningkat dari 21,65 juta ton pada 2018 menjadi 25,18 juta ton pada 2020.

 

 
Secara teori, dengan stok cukup, harga jagung tak akan sampai melonjak hingga di atas Rp 6.000 per kilogram. Untuk menjawab keraguan itu, Kementan mengungkapkan adanya masalah distribusi jagung hingga mengakibatkan kenaikan.
 
 

 

Dengan produksi jagung itu, seharusnya kebutuhan jagung dalam negeri terpenuhi. Produksi jagung ini dihitung berdasarkan laporan luas panen dan produktivitas jagung per hektare. Jadi, luas panen menjadi salah satu yang krusial dalam akurasi data produksi jagung.

Jika untuk produksi padi nasional sudah merujuk satu data luas panen hasil estimasi dari survei kerangka sampel area (KSA), harapannya untuk produksi jagung bisa memanfaatkan metode yang sama dengan penyesuaian.

KSA inovasi BPPT dan BPS untuk mengestimasi luas panen dengan memanfaatkan citra satelit dan data dari pemetaan radar. Secara empiris, penggunaan KSA meningkatkan akurasi data produksi padi daripada penghitungan berdasarkan eye estimate.  

Penggunaan KSA untuk mengestimasi luas panen jagung diuji coba  BPS sejak 2019, tetapi belum dimanfaatkan dalam penghitungan produksi jagung nasional.

Berbicara data jagung, sebenarnya tidak cukup hanya data produksi, tetapi harus didukung data kebutuhan nasional. Data produksi yang akurat tanpa diimbangi data kebutuhan riil berisiko menimbulkan ketidaktepatan menghitung stok jagung.

Hal yang tak kita inginkan, data produksi jagung over estimate, membuat pemerintah over convidence dengan membatasi impor jagung. Padahal di lapangan, bisa jadi peternak sulit memperoleh jagung atau mendapatkannya dengan harga tinggi.

 

 
Hal yang tak kita inginkan, data produksi jagung over estimate, membuat pemerintah over convidence dengan membatasi impor jagung.
 
 

Jika kebutuhan jagung lebih besar daripada produksi dalam negeri, impor jadi solusi jangka pendek demi mengamankan stok sekaligus menjaga kestabilan harga. Solusi jangka panjangnya, meningkatkan produksi jagung untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Stabilitas harga jagung penting karena saat harga meningkat akan menaikkan biaya produksi usaha peternakan unggas dan mengurangi pendapatan peternak.

Biaya pakan

Jagung merupakan komponen utama pakan ternak. Berdasarkan publikasi statistik perusahaan unggas oleh BPS tahun 2020, pengeluaran terbesar perusahaan peternakan unggas adalah untuk pakan dengan proporsi mencapai 65,36 persen.

Pada usaha peternakan unggas level rumah tangga, pengeluaran untuk pakan 56,96 persen untuk ayam pedaging dan 71,71 persen untuk ayam petelur. Kenaikan biaya produksi tanpa diimbangi kenaikan harga jual produk, maka kerugian yang diperoleh peternak.

Melihat nilai tukar usaha peternakan, indeks yang diterima peternak unggas menurun dari Mei (108,61) hingga Agustus 2021 (103,43). Ini mengindikasikan, harga produk peternakan unggas turun dalam tiga bulan terakhir.

Pada sisi lain, biaya yang harus dibayar peternak meningkat. Ini membuat nilai tukar usaha peternakan menurun.

Dalam menghitung kebutuhan jagung nasional, tak terlepas dari data usaha peternakan unggas. Untuk peternakan unggas berbentuk perusahaan, BPS mendatanya setiap tahun.

 
Pendataan ini mencakup jumlah produksi, faktor produksi termasuk jumlah pakan dan tenaga kerja. Laporan perusahaan ternak unggas yang rutin dikumpulkan setiap tahun ini, bisa untuk mengestimasi kebutuhan pakan nasional.
 
 

Pada 2020, jumlah perusahaan peternakan unggas 397 usaha atau turun dibanding pada 2019 yang mencapai 400 perusahaan. Penurunan pada perusahaan berbentuk PT/CV/Firma sebanyak delapan perusahaan dan berbentuk yayasan tiga usaha.

Pendataan ini mencakup jumlah produksi, faktor produksi termasuk jumlah pakan dan tenaga kerja. Laporan perusahaan ternak unggas yang rutin dikumpulkan setiap tahun ini, bisa untuk mengestimasi kebutuhan pakan nasional.

Untuk pendataan peternak mandiri atau usaha ternak rakyat perlu menggandeng asosiasi, seperti Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia, Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli), Gabungan Peternak Ayam Nasional (Gopan).

Usaha peternakan unggas sangat dinamis, maka pemutakhiran data peternak beserta kebutuhan pakan dan produksinya sangat penting guna mengestimasi kebutuhan pakan atau jagung setiap tahun termasuk produk peternakan, seperti telur dan daging ayam ras.

Penghitungan kebutuhan jagung dengan pendekatan usaha peternakan ini, lebih menggambarkan kebutuhan menurut wilayah daripada pendekatan kebutuhan industri pakan ternak. 

Database usaha ternak ini bisa untuk memetakan potensi/sentra usaha peternakan unggas nasional dan kebutuhan pakan/jagung menurut wilayah, yang berguna untuk mencegah distribusi tak merata dan menjaga stabilitas harga jagung. 


×