Warga mengambil air untuk keperluan sehari-hari di sumur untuk umum warga Dusun Sawit, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (15/9). Setiap kemarau warga Dusun Sawit bergantung pada salah satu sumur untuk umum ini. Setiap pagi dan sore warga bergantian mengamb | Wihdan Hidayat / Republika
29 Sep 2021, 03:41 WIB

Akses Air Bagi Pertanian Berkelanjutan

Coca Cola berkomitmen menjaga kelestarian air.

Coca-Cola secara konsisten terus berkolaborasi dengan para mitranya dalam berbagai Program Air untuk Masyarakat (Community Water Program) sebagai bentuk upaya mempertahankan kelestarian air dan lingkungan. Melalui Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI), Coca-Cola System di Indonesia (Coca-Cola Indonesia dan Coca-Cola Europacific Partners Indonesia) telah menjalankan sejumlah Community Water Program di berbagai wilayah di Indonesia dan membantu mengembalikan sekitar 160 persen dari air yang digunakan dalam proses produksi produk Coca-Cola kepada alam dan masyarakat pada 2020.

Salah satu Community Water Program ini adalah pemanfaatan embung tadah hujan untuk daerah kering di Indonesia. Hingga 2021, sebanyak tujuh embung tadah hujan telah dibangun di seluruh Indonesia dengan dukungan dari Coca-Cola. 

Inisiatif ini sejalan dengan program strategis pengembangan embung dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia sebagai infrastruktur penting untuk memenuhi kebutuhan air di sektor pertanian. Untuk itu, CCFI bersama dengan Yayasan Obor Tani (YOT) menginisiasi pembangunan Embung Grigak, sebuah embung tadah hujan dengan lapisan geomembran untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan Pantai Grigak. Embung tadah hujan seluas 1 hektare ini mulai dibangun pada Maret 2020 dan diresmikan pada Mei lalu.

Director of Public Affairs Communications and Sustainability of PT Coca-Cola Indonesia dan Ketua Pelaksana CCFI Triyono Prijosoesilo menjelaskan, water stewardship dan pengelolaan air (water management) yang bertanggung jawab telah menjadi prioritas Coca-Cola sejak lama dan kami selalu berupaya untuk memberikan dampak positif yang lebih besar bagi masyarakat dan ekosistem lingkungan pada masa depan. Selama bertahun-tahun, Coca-Cola telah menjalankan berbagai Community Water Program guna membantu meningkatkan akses terhadap air bersih, sanitasi, dan air untuk pertanian bagi masyarakat Indonesia.

Terkait

"Kami berharap dapat terus mengembangkan kerja sama ini dengan para mitra kami," ujarnya  melalui keterangan pers yang diterima Republika.

Embung Grigak yang terletak di Dukuh Karang, Kelurahan Girikato, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, ini merupakan daerah yang tandus dengan kondisi tanah berupa perbukitan kapur. Untuk mendapatkan akses air, para petani biasanya menunggu musim hujan yang menyebabkan mereka kesulitan untuk bercocok tanam sepanjang tahun.

"Tujuan awal pengadaan Embung Grigak ini untuk mengairi lahan pertanian di musim kemarau dan sebagai wadah budi daya ikan. Potensi lainnya dari adanya embung tadah hujan ini juga untuk menarik wisatawan. Ketiga sumber pendapatan potensial ini dipercayakan pengelolaannya kepada perkumpulan Eco-Camp Mangun Karsa milik masyarakat yang kebanyakan petani," kata Romo Dr Ir P Wiryono Priyotamtama SJ, tokoh pendamping masyarakat setempat. 

Bangun enam sumur

Pemerintah Desa Jagoan Kecamatan Sambi Kabupaten Boyolali di, Jawa Tengah membangun enam sumur dalam mendukung irigasi persawahan untuk menjamin ketahanan pangan di wilayahnya.

Pembangunan enam sumur dalam untuk irigasi sawah di Desa Jagoan Sambi Boyolali tersebut anggarannya diambilkan dari anggaran pendapatan belanja desa (APBDes), total senilai Rp270 juta, kata Kepala Desa Jagoan, Sambi, Yulianto, di Boyolali, Selasa. "Biaya pembuatan satu sumur dalam sekitar Rp45 juta, termasuk biaya pajak. Sehingga, total anggaran Rp 270 juta untuk enam sumur dalam," kata Yulianto.

Pembuatan enam sumur dalam tersebut, kini mampu mengairi sawah warga setempat. Total sumur dalam yang ada di Desa Jagoan sekarang sebanyak 33 titik. Sedangkan, pembuatan enam sumur dalam ini tersebar dibeberapa titik persawahan warga setempat.

Selain itu, dengan membangun enam sumur dalam tersebut juga membawa berkah bagi para petani. Indeks tanam (IP) di area persawahan tersebut jadi meningkat dari 1,5 kali menjadi 3 kali dalam setahun.

"Sumur ini, sangat membantu dan bisa memaksimalkan masa tanam. Banyak sawah yang mendapat pengairan dengan baik. Karena biasanya musim kemarau seperti ini tanah tandus tidak bisa ditanami. Sekarang mulai bisa ditanami termasuk padi," katanya.

Ketahanan pangan penting untuk menjamin keberlangsungan hidup. Apalagi di masa pandemi Covid-19. Tidak hanya berfokus pada penanganan Covid-19, Desa Jagoan, Sambi juga berupaya menjamin ketahanan pangan. Salah satunya dengan membuat sumur dalam untuk pengairan sawah di wilayahnya.

"Pandemi Covid-19 tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir. Sehingga, Pemdes Jagoan menyikapi maksimal untuk pemberdayaan masyarakat. Salah satunya mengenai ketahanan pangan desa," katanya.

Menurut Kepala Paguyuban Kelompok Tani Desa Jagoan, Pardi, sejak memiliki sumur dalam, pengairan sawah pada musim kemarau di Desa Jagoan, cukup lancar. Masa tanam juga bisa dilakukan tiga kali dalam setahun. Bahkan, petani juga iuran untuk membuat sumur dalam.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali Bambang Jiyanto mengatakan Sambi memiliki potensi besar dalam pemanfaatan sumur untuk pengairan sawah. Mengingat kontur tanah di Sambi datar dan air dalam mudah ditemukan. Berbeda dengan beberapa wilayah lain, yang memiliki kontur tanah datar namun, tidak ada sumber air.Menurut Bambang sawah di Sambi mayoritas tadah hujan dan hanya sekitar 700 hektare lahan yang memiki irigasi air baik.

Lainnya hanya mengandalkan air hujan. Meski pengairannya sulit dan indeks tanam 1,5, tetapi hasil pertaniannya baik. Sambi merupakan penyumbang ke empat prosuksi pangan setelah Kecamatan Nogosari, Simo dan Andong."Setelah ada sumur dalam di Desa Jagoan ini, IP bisa naik jadi 3 kali dalam setahun," katanya.

Bambang menjelaskan sistem sumur dalam untuk pengairan sawah cocok diterapkan di wilayah Sambi. Lahan pertanian mayoritas datar dan mudah menemukan titik yang bisa diambil airnya. Sehingga, wilayah Sambi akan didorong untuk membuat sumur dalam dalam menompang pengairan sawah di daerah itu.


×