Pelajar antre mengikuti vaksinasi massal Covid-19 di Kudus, Jawa Tengah, Selasa (28/9/2021). Sebanyak 3.000 pelajar mengikuti kegiatan vaksinasi itu. | ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho
29 Sep 2021, 03:45 WIB

Prioritas Vaksinasi di Sekolah

Sebanyak 15 persen remaja sekolah di Jakarta berusia 12-17 tahun belum divaksin karena tak diizinkan orang tua.

BANDUNG – Dinas Kesehatan Pemprov Jawa Barat mengakui banyak anak di wilayahnya yang terinfeksi Covid-19 dibandingkan daerah lain. Dari data yang ada, mayoritas anak yang meninggal akibat Covid-19 atau 51 persen di antara kasus pada anak, terjadi pada rentang usia 12-18 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Nina Susana Dewi mengatakan, data itu menunjukkan bahwa anak yang meninggal seharusnya sudah bisa untuk divaksin. Di sisi lain, Nina mengakui capaian vaksinasi pada anak di Jawa Barat relatif masih rendah. Atas dasar itu, Pemprov Jabar akan memprioritaskan vaksinasi terhadap anak di sekolah.

“Sekolah akan lebih dapat prioritas karena kan sampai ke bawah-bawah. Jadi lebih cepat jalur dan sasaranya. Anak kan sudah pasti divaksin kalau menyasar sekolah. Itu jadi strategi,” kata Nina kepada Republika, Selasa (28/9).

Pengurus Pusat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebelumnya menyampaikan data kasus Covid-19 pada anak di Indonesia. Berdasarkan data IDI, di antara anak-anak terkonfirmasi Covid-19 yang ditangani, angka kematian tertinggi pada anak usia 10-18 tahun.

Terkait

Laporan IDAI juga menunjukkan terdapat 10 daerah di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi Covid-19 terbanyak, yakni Jawa Barat (10.903), Riau (3.580), Jawa Tengah (3.108), Sumatra Barat (2.600), Kalimantan Timur (2.033). Kemudian, Jawa Timur (1.884), Bali (1.524), Sumatra Utara (1.448), DIY (1.275), dan Papua (1.220).

photo
Sejumlah pelajar SMP Negeri 60 Surabaya mengantre untuk tes usap PCR di SMP Negeri 60 Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/9/2021). Dinas Kesehatan Kota Surabaya melakukan tes usap PCR kepada 965 pelajar, sejumlah guru serta tenaga pendidik sebagai upaya antisipasi penyebaran Covid-19 menyusul akan dimulainya pembelajaran tatap muka terbatas di tempat itu. - (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Menurut Nina, berdasarkan data dari New All Record (NAR), kasus positif Covid-19 pada anak usia 0-18 tahun di Jabar pada 2020 sebanyak 17.119 kasus. Kemudian, pada 2021 ada 81.970 kasus, sehingga total kasus Covid-19 pada anak di Jabar mencapai 99.089 kasus.

Terkait kematian anak karena Covid-19, dari data yang ada, sampai 27 September 2021 tercatat 1.180 orang. Namun, kata dia, data tersebut belum diolah lebih detail. Artinya, data kematian anak akibat Covid-19 itu tidak secara spesifik menyebutkan apakah anak meninggal disertai komorbid atau yang lain.

Akan tetapi, lanjut Nina, berdasarkan data beberapa tahun lalu, pernah dikaji sebagian anak yang meninggal karena ada komorbid seperti diabetes atau leukeumia. “Itu beberapa waktu lalu. Kami akan ada kerja sama dengan IDAI agar data lebih pas, meninggalnya karena apa,” katanya.

Nina menduga, salah satu penyebab tingginya kasus Covid-19 pada anak memang karena cakupan vaksinasi masih rendah. “Kami terus bergerak kan kemarin vaknasi ke anak masih sedikit sekitar 25 persen. Jadi akan digalakkan agar vaksinasi ke anak bisa lebih tinggi,” katanya.

Strategi yang sama juga dilakukan Pemprov Jawa Tengah yang akan mempercepat vaksinasi Covid-19 untuk kalangan remaja atau SMP-SMK. “Saya minta PTM diawasi. Untuk level SMP, SMA, SMK, kami minta untuk dilakukan percepatan vaksinasi,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Semarang.

Provinsi Jawa Tengah, kata Ganjar, telah mendapatkan alokasi vaksin dari pemerintah pusat 2,6 juta dosis vaksin yang diberikan dalam kurun satu pekan. Oleh karena itu, Ganjar meminta pemerintah kabupaten/kota bekerja dengan cepat dan tepat untuk menghabiskan dosis vaksin Covid-19 yang telah diberikan.

Pemprov DKI Jakarta akan mengajak forum Komite Sekolah dan kelompok siswa sebaya (peer group) untuk mengejar cakupan vaksinasi terhadap anak dan remaja usia sekolah. Saat ini tersisa 15 persen yang belum divaksinasi. Berbagai alasan menjadi pemicu 15 persen remaja di DKI Jakarta berusia 12-17 tahun belum divaksin. Salah satunya kendalah perizinan dari orang tua karena ketidaksepahaman.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti menyatakan, akan menggandeng beberapa pihak untuk memberikan edukasi kepada orang tua murid terkait pentingnya vaksinasi melalui Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3). “Akan banyak cara yang kita tempuh supaya memberikan pencerahan pada orang tua. Salah satunya melalui Komite Sekolah dan peer group siswa itu sendiri,” kata dia.

Sumber : Antara


×