IMAN SUGEMA | Daan Yahya | Republika
27 Sep 2021, 03:11 WIB

Bebas Pandemi?

Pelaku ekonomi perlu menyusun strategi untuk bertahan selama pandemi berlangsung.

OLEH IMAN SUGEMA

Terdapat perbedaan pendapat yang cukup tajam di antara para ahli mengenai kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Buat ekonom, perbedaan pendapat tersebut sangatlah tidak nyaman.

Sebab, kita sebagai bagian dari pelaku ekonomi perlu menyusun strategi untuk bertahan selama pandemi berlangsung. Kalau bisa malah bangkit kembali. Untuk itu, kami harus mengetahui bagaimana dan kapan pandemi akan berakhir.

Kalau pandemi akan berlangsung cukup lama, mungkin sekitar lima sampai enam tahun, tentunya pelaku ekonomi tidak mungkin berlama-lama menunggu Covid-19 berakhir. Kalau menunggu, sebagian besar dari usaha produktif, baik itu yang berskala besar maupun kecil, akan keburu hancur lebur.

Terkait

Pasti kita harus mengubah cara berbisnis supaya tetap bisa bertahan. Perusahaan mungkin harus mengadopsi praktik bisnis yang konsisten dengan penyebaran wabah Covid-19.

Sebagian pekerjaan mungkin harus dilakukan secara remote atau mungkin dipecah-pecah sehingga tidak terjadi kerumunan. Sebagian lagi mungkin harus beralih ke platform digital. Layanan perbankan dan pendidikan tampaknya harus melakukan ini.

Perubahan-perubahan ini tentunya akan menelan biaya investasi dan pelatihan karyawan. Biaya ini akan bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Hanya saja, kita bisa memastikan bahwa biaya ini tidak kecil. Salah mengambil keputusan, maka biaya akan melonjak dan akhirnya kerugian bertambah besar.

 
Kalau pandemi akan berlangsung cukup lama, mungkin sekitar lima sampai enam tahun, tentunya pelaku ekonomi tidak mungkin berlama-lama menunggu Covid-19 berakhir.
 
 

Negara-negara yang telah mengalami gelombang kedua, sekarang memasuki wabah gelombang ketiga. Kita yang masih berada di gelombang kedua, sedikit agak beruntung karena bisa belajar dari negara-negara yang lebih dulu memasuki berbagai gelombang secara bertubi-tubi. Tentu belajar dari kegagalan dan keberhasilan mereka. Salah satu contoh adalah PPKM multilevel yang kita adopsi dari Inggris.

Masalahnya, untuk bisa membuat skenario apakah Covid-19 akan berlangsung lama atau singkat, terlalu banyak hal yang tidak diketahui tentang virus ini. Dengan kemajuan teknologi, akhirnya para ilmuwan bisa membuat vaksin dalam kurun waktu kurang dari 1,5 tahun.

Biasanya, penemuan vaksin baru bisa didapatkan setelah lima atau enam tahun. Akan tetapi, walaupun dunia sudah memiliki vaksin, masih banyak ahli yang pesimistis bahwa pandemi akan berakhir tahun depan. Tahun depan tentunya kita sudah memasuki tahun ketiga pandemi.

Apa saja yang sudah kita ketahui dan belum kita ketahui tentang virus SARS-Cov 2? Pertama, kita tahu bahwa setiap virus akan selalu bermutasi. Berdasarkan pengalaman sejarah, biasanya virus akan cenderung bermutasi ke arah yang menguntungkan, yakni akan semakin lemah dibandingkan dengan kekebalan yang kita miliki.

 
Masalahnya, untuk bisa membuat skenario apakah Covid-19 akan berlangsung lama atau singkat, terlalu banyak hal yang tidak diketahui tentang virus ini.
 
 

Kira-kira itulah pendapat dari Sarah Gilbert, profesor penemu vaksin dari Inggris. Ini tentu merupakan berita yang menggembirakan. Tetapi di sisi lain, kita belum mengetahui secara pasti kapan mutasi yang menguntungkan ini akan datang? Kami sebagai ekonom, perlu mengetahui kepastian yang satu ini.

Yang melanda dunia sekarang ini justru adalah varian Delta dan Mu yang lebih cepat menular dan lebih ganas. Dengan kata lain, mutasi yang terjadi justru berkebalikan dengan apa yang pernah terjadi pada virus flu lainnya. Mungkin juga varian selanjutnya akan lebih lemah seperti yang diprediksikan para ahli. Semoga saja begitu. Namun sampai detik ini, kita belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai hal ini.

Kedua, kita tahu bahwa vaksin dapat meningkatkan kekebalan tubuh pada umumnya. Namun demikian tidak semua vaksin telah diuji coba secara lokal di Indonesia.

Kita baru akan tahu tingkat efikasi dari masing-masing vaksin ini justru setelah jutaan orang divaksin. Maaf, kita bicara mengenai efikasi di Indonesia, bukan di negara lain.

Tetapi itulah pilihan hidup. Daripada mendapatkan proteksi sama sekali, pada akhirnya kita semua harus menerima kenyataan bahwa vaksin merupakan pilihan yang tak terhindarkan.

 
Dalam ilmu ekonomi, hal seperti ini disebut dengan decision under uncertainty atau pengambilan keputusan dalam situasi ketidakpastian.
 
 

Dalam ilmu ekonomi, hal seperti ini disebut dengan decision under uncertainty atau pengambilan keputusan dalam situasi ketidakpastian. Para pelaku ekonomi sudah terbiasa dengan hal ini, dan wabah merupakan salah satu sumber ketidakpastian.

Namun, dalam situasi seperti ini unsur subjektivitas sangat tinggi: orang yang tidak percaya vaksin akan cenderung melakukan penolakan. Karena itu, menjadi sangat penting bagi pemerintah untuk meyakinkan masyarakat bahwa tidak ada alternatif yang lebih baik dari vaksin.

Hal ini sangat penting karena berakhir tidaknya pandemi sangat bergantung pada tercapainya herd immunity secara alamiah maupun secara artifisial melalui vaksinasi massal. Dengan belum pastinya tingkat efikasi vaksin, maka yang bisa kita lakukan adalah mendorong vaksinasi dalam skala yang sebesar-besarnya dan dalam tempo sesingkat mungkin. Itu karena tingkat efikasi bukanlah sesuatu yang bisa kita kita kendalikan. Bukti efikasi yang nyata hanya bisa kita peroleh secara faktual di lapangan.

Sampai saat ini yang bisa kita lakukan adalah berusaha agar pandemi ini bisa cepat berakhir. Kita tahu bahwa virus Covid-19 akan terus ada di sekitar kita selamanya dan terus bermutasi. Yang bisa kita lakukan hanya dua, yaitu berusaha menghindar dari jangkitan melalui penjarakan fisik dan atau meningkatkan kekebalan tubuh melalui vaksin.

Kalau penyebaran bisa terkendali, aktivitas ekonomi akan bergerak lagi. Semoga saja.


×