Warga menyeberang di zebra cross di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (5/5/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 0,74 persen pada kuartal I 2021. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj. | ANTARA FOTO
24 Sep 2021, 08:46 WIB

Waspadai Tekanan Eksternal Perekonomian Indonesia

BI telah melakukan stress test mengantisipasi dampak tapering terhadap perekonomian Indonesia.

JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai sejumlah sentimen eksternal yang dapat berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Tekanan itu, antara lain, krisis yang sedang dialami perusahaan properti Cina Evergrande dan sinyal tapering bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (Fed).

“Isu risiko stabilitas sektor keuangan, terutama di Tiongkok, itu menjadi perhatian pada pekan ini," ujarnya saat konferensi pers APBN Kita secara virtual, Kamis (23/9).

Menurut Sri, salah satu faktor fundamental penting yang dimiliki Indonesia adalah inflasi yang terkendali. Tercatat saat ini laju inflasi terjaga pada level 1,59 persen (yoy). Sri mengatakan, Indonesia bisa terus menjaga tingkat inflasi guna mendukung pemulihan yang lebih solid.

“Dalam hal ini, Indonesia masih terjaga pada level 1,59 persen dan Pak Gubernur (Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo) sudah menyampaikan mengenai posisi kebijakan moneternya yang tetap mempertahankan suku bunga pada level 3,5 persen,” ujarnya.

Terkait

Sri mencontohkan, banyak negara yang kini ekonominya mendapat tekanan dari Inflasi. Korea Selatan, kata dia, mengalami inflasi 2,6 persen saat masa pemulihan ekonomi belum solid. Hal ini akan berdampak pada kebijakan moneter atau suku bunga negara tersebut.

Sri juga menyoroti inflasi di Turki yang masih berjuang dalam pemulihan ekonomi. Inflasi negara tersebut mencapai 19,25 persen. "Brasil juga mengalami inflasi yang melonjak hingga delapan persen dan telah menyebabkan respons suku bunganya meningkat 5,25 persen," kata Sri.

Meski terdapat sejumlah potensi tekanan, Sri optimistis perekonomian dunia tetap berada pada teritori positif. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar empat persen sampai lima persen pada kuartal III 2021.

 

Menurut Sri, hal itu didukung kinerja PPKM yang efektif meredam penyebaran Covid-19. Dengan adanya penurunan kasus Covid-19, pemerintah mulai melonggarkan pembatasan dan kemudian memicu pemulihan konsumsi maupun produksi.

"Pada kuartal III 2021, proyeksi pertumbuhannya meningkat menjadi empat hingga lima persen. Ini karena kita lihat dari indikator-indikator, baik dari sisi konsumsi maupun sisi produksi, menggambarkan cukup bertahannya ekonomi kita," ujar Sri.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pihaknya telah melakukan stress test dalam mengantisipasi dampak pengurangan likuiditas atau tapering Fed. "Kami terus melakukan stress test maupun evaluasi, baik mingguan dan bulanan serta kami terus memperbarui informasi dan menakar dampaknya terhadap Indonesia," kata Perry.

Hasil stress test menunjukkan, tapering yang kemungkinan akan dilakukan Fed pada November 2021 akan memberikan dampak yang jauh lebih kecil dibandingkan taper tantrum pada 2013.

Terdapat tiga alasan yang menyebabkan hal tersebut, yakni semakin jelasnya komunikasi Fed kepada investor, media, dan masyarakat mengenai rencana tapering yang diterima dengan sangat baik oleh pasar. Hal tersebut, kata Perry, terlihat dari indikator tingkat suku bunga obligasi AS yang tidak naik secara signifkan pada saat ini.

"Berbeda dengan pada 2013 di mana suku bunga US Treasury Note 10 tahun naik menjadi 3,5 persen," ucap dia.

Kedua, alasan lainnya yaitu langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang terus membaik saat ini oleh BI bersama Kementerian Keuangan terutama melalui triple intervention di pasar spo, Domestic Non-Delivery Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Ketiga, ia mengatakan, hal tersebut juga ditopang oleh ketahanan eksternal Indonesia yang terus terjaga dengan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang terus membaik serta cadangan devisa yang kuat.

Fed mengisyaratkan siap untuk mengurangi program pembelian obligasi serta menaikkan suku bunga hingga 2022. Hal ini mencerminkan keyakinan kuat bahwa ekonomi AS segera pulih sepenuhnya.

Gubernur Fed Jerome Powell mengatakan, bank sentral akan mengumumkan pengurangan pembelian obligasi pada November jika ekonomi terus melanjutkan pemulihan. Pemulihan juga tecermin dari tingkat inflasi yang naik tajam sebesar 2 persen.

Fed telah membeli surat utang berharga negara senilai 80 miliar dolar AS dan sekuritas berbasis mortgage senilai 40 miliar dolar AS setiap bulan sejak tahun lalu. Langkah ini dilakukan untuk menjaga suku bunga jangka panjang tetap rendah dan memacu permintaan.  

Fed telah beberapa kali menyampaikan rencana tapering. Namun, pengumuman resminya diperkirakan akan dilakukan pada pertemuan Fed pada 2-3 November.


×