Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika
22 Sep 2021, 03:30 WIB

Pedoman Hidup Sukses

Keempat hadis ini cukup untuk dijadikan sebagai pedoman bagi orang yang ingin hidup sukses.

OLEH ABDUL SYUKKUR

Imam Abu Dawud Sulaiman bin asy-Asyasy as-Sijistani, seorang ahli hadis dan fikih yang masyhur dengan sebutan Abu Dawud pernah berkata, “Cukuplah bagi seseorang itu mengamalkan empat hadis. Sesungguhnya semua amal itu bergantung niatnya. Di antara kesempurnaan keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.

Tidak sempurna keimanan seseorang sampai ia mencintai saudaranya (seiman) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Dan sesuatu yang halal itu sudah jelas, yang haram pun sudah jelas, sedang di antara keduanya adalah perkara yang syubhat."

Apa yang disampaikan Imam Abu Dawud tidak hendak menafikan hadis-hadis lain, tetapi yang hendak beliau sampaikan adalah keempat hadis ini bisa menjadi landasan setiap orang dalam menggapai kesuksesan hidup. Pertama, sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung niatnya dan perbuatan seseorang dinilai berdasarkan niat yang diinginkannya.

Terkait

Dalam aktivitas setiap Muslim, niat memiliki peranan penting, terutama untuk perbuatan yang bersifat mubah. Dalam lanjutan hadis di atas, Nabi Muhammad mewanti-wanti para sahabat untuk meluruskan niat ketika hendak berangkat hijrah ke Madinah karena selain niat menyelamatkan akidah, juga menebarkan dakwah dan memperjuangkan risalah.

Kedua, di antara tanda kesempurnaan keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Muslim sejati tidak main-main dengan jadwal kehidupannya, apa yang harus dilakukan, dan apa yang harus ditinggalkan semua telah terpatri dalam dirinya, sehingga tidak akan terjerumus pada hal-hal yang nir-manfaat.

Bahkan, aktivitas yang akan dilakukannya pun pilihannya bukan antara perbuatan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, tapi antara perbuatan yang bermanfaat dengan perbuatan yang lebih bermanfaat. Artinya, amal perbuatannya berkisar di level paling tinggi.

Ketiga, tidak sempurna keimanan seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Mencintai diri sendiri suatu yang lazim dan lumrah, tetapi ketika seseorang bisa mencintai orang lain sama dengan mencintai dirinya sendiri atau bahkan lebih baru istimewa.

Hal ini senada dengan bunyi ayat Alquran yang menyatakan, “Kalian tidak akan mendapat kebajikan sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa pun yang kalian infakkan, tentang hal itu sungguh Allah Maha Mengetahui.” (QS Ali Imran: 92).

Keempat, sesuatu yang halal itu sudah jelas, yang haram pun sudah jelas, sedang di antara keduanya adalah perkara yang syubhat. Dalam ajaran Islam segala sesuatunya sudah ada ketentuannya, bahkan sesuatu yang belum terjadi di masa tasyri’ (turunnya syariah) sudah dipersiapkan perangkat dan cara menentukan hukumnya. Sehingga segala sesuatunya sudah jelas dan terang benderang.

Keempat hadis ini cukup untuk dijadikan sebagai pedoman bagi orang yang ingin hidup sukses karena keempatnya mencakup cara meluruskan niat, menentukan sikap, cara bermuamalah, dan berinteraksi yang baik dengan orang lain.

Wallahu a’lam bisshawab.


×