Sejumlah atlet basket putri Bali melakukan latihan menjelang PON XX Papua di Denpasar, Bali, Senin (6/9/2021). Tim basket putri Bali menargetkan mampu meraih medali emas pada PON XX Papua. | ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/hp.

Olahraga

PON XX Papua: Jangan Sampai Arena Terlupakan

Pemerintah Indonesia sudah menaruh perhatian pada kelanjutan arena PON setelah dipakai.

OLEH MUHAMMAD IKHWANUDDIN 

Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua dijadwalkan benar-benar bergulir pekan ini, lebih tepatnya 22 September mendatang. Meski upacara pembukaan baru digelar pada 2 Oktober, beberapa nomor lomba sudah dipertandingkan beberapa hari sebelumnya. 

Penantian penikmat olahraga nasional akhirnya terwujud setelah PON seri ke-20 itu sempat tertunda satu tahun akibat pagebluk Covid-19. 

Satu hal yang tak kalah penting dari sebuah ajang olahraga adalah arena. Sejak provinsi Papua dipilih menjadi tuan rumah pada 2014 lalu, wilayah paling timur di Indonesia itu langsung berbenah menyiapkan infrastruktur sesuai standar kompetisi. 

Setidaknya sudah tujuh tahun Papua pontang-panting membangun stadion, kolam renang, arena balap, hingga gedung penginapan atlet. Semua hal dilakukan agar PON yang hanya bergulir tiga pekan itu bisa terlaksana sesuai rencana. Sudah barang tentu, acara yang mulus tak akan terwujud tanpa derasnya gelontoran fulus. 

Pembangunan venue PON Papua dikabarkan mengeruk dana mencapai Rp 3,8 triliun yang dibagi dalam lima seri APBD pemerintah provinsi Papua sejak 2016 hingga 2020. Itu membuat PON saat ini menelan biaya tertinggi untuk membangun arena sejak pertama kali dihelat di Solo, 1948 lalu. 

Panitia Besar (PB) PON sejauh ini menggunakan anggaran untuk membangun empat arena berstandar internasional. Bukan stadion sepakbola yang menelan biaya tertinggi, melainkan arena renang. Fasilitas cabang olahraga akuatik itu membutuhkan Rp401 miliar demi menyediakan sertifikasi Renang Internasional (FINA). 

Arena kriket dan hoki indoor turut menjadi salah satu yang menghabiskan dana paling banyak. Arena yang dibangun di lahan seluas 2.802 meter persegi itu kabarnya dilengkapi papan skor LED plus sistem pencahayaan lapangan berkekuatan 1.000 Lux. Venue itu juga sudah dilengkapi sertifikat International Cricket Council (ICC).

Kesan mewah mungkin terlintas di benak publik ketika uang triliunan rupiah dipakai untuk mendirikan arena bertahun-tahun, kemudian dipakai tak kurang dari satu bulan. Karena itu, selain membangun pemerintah juga harus memikirkan cara merawatnya. 

Jika salah-salah manajemen, bukan tak mungkin arena bernilai triliunan itu lapuk dimakan usia. Kita bisa mengambil pelajaran dari beberapa edisi PON sebelumnya ketika stadion-stadion dibiarkan terbengkalai tanpa perhatian. 

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh PON XX PAPUA 2021 (ponxx2020papua)

Salah satu arena yang kurang mendapat perhatian adalah stadion Palaran di Samarinda. Ketika dipakai sebagai salah satu arena PON 2008 Kalimantan Timur, arena berkapasitas 67 ribu penonton itu dinilai menjadi yang termegah pada masanya. Namun pada akhirnya, arena berbiaya Rp800 miliar itu kini dinyinyiri warga yang menganggap stadion tersebut sudah kurang mendapat perhatian. 

Contoh lain yang tak kalah mengiris hati adalah lapangan tembak di Manggar, Balikpapan, dan kolam renang di Palaran. Kabarnya arena tersebut benar-benar hanya dipakai untuk PON 2008. 

Masyarakat tentu tidak ingin mendengar kabar kolam renang hanya menjadi penadah hujan di kemudian hari, lalu stadion yang ditumbuhi rumput-rumput liar. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PUPR sejatinya sudah menaruh perhatian pada kelanjutan arena PON setelah dipakai. 

Akan tetapi, imbauan lisan agaknya tak cukup untuk melindungi arena itu agar tak tergerus zaman. Perlu ada badan khusus yang nantinya bertanggungjawab mengelola venue setelah PON usai. Sistem kelola kompleks Gelora Bung Karno dapat menjadi acuan. 

Kepastian perubahan nama stadion Papua Bangkit menjadi Lukas Enembe--sang gubernur--menjadi tanggungjawab lebih baginya untuk merawat segala yang sudah dibangun, terutama namanya sudah abadi menjadi sebuah lapangan megah. Jangan sampai ada judul berita 'Stadion Lukas Enembe Terbengkalai' di masa depan.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat