Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS), Jamal Wiwoho (kanan) mengajar mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tatap muka dengan melakukan protokol kesehatan di Fakultas Hukum kampus setempat, Solo, Jawa Tengah, Senin (6/9/2021). Sebagai entitas epistemik, ka | ANTARA FOTO/Maulana Surya/hp.
18 Sep 2021, 19:55 WIB

Kampus Diharapkan Steril dari Paham Ekstrem

Sebagai entitas epistemik, kampus seharusnya menjadi lembaga yang steril dari paham dan perilaku ekstrem.

 

JAKARTA — Kegiatan dakwah Islam di lingkungan perguruan tinggi tumbuh pesat. Bukan saja di masjid kampus, banyak juga mahasiswa yang membuat komunitas untuk tujuan kegiatan dakwah.

Kendati demikian, sebagian pihak masih mengkhawatirkan kegiatan dakwah di lingkungan kampus bisa ditunggangi orang-orang atau kelompok tertentu untuk menanamkan dan menyebarkan paham ekstrem.  

Terkait hal ini, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) Prof Kamaruddin Amin berharap, sebagai entitas epistemik, kampus seharusnya menjadi lembaga yang steril dari paham dan perilaku ekstrem. Sebab, di kampus berkumpul para akademisi dan orang-orang pintar.

Terkait

“Dakwah, pencerahan, pengarusutamaan moderasi beragama harus disampaikan secara terukur di lembaga pendidikan oleh para dosen agar mahasiswa tidak terpapar (paham dan perilaku ekstrem),” ujar dia kepada Republika, Kamis (16/9).

Ia pun berpesan kepada para mahasiswa agar memperluas horison akademiknya, tidak fanatik buta terhadap sebuah pandangan, serta memahami akar setiap masalah yang dihadapi.

Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag Syamsul Bahri menambahkan, mahasiswa harus cermat dan waspada terhadap doktrin radikal yang dapat menggiring kemudian menjebak tanpa disadari.

 
Kampus seharusnya menjadi lembaga yang steril dari paham dan perilaku ekstrem. Sebab, di kampus berkumpul para akademisi dan orang-orang pintar.
PROF KAMARUDDIN AMIN, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag
 

“Kita ikuti saja metode dakwah di kampus yang bil hikmah bilmau'izah hasanah, yang sudah dilegalkan atau diresmikan kampus," katanya.

Syamsul juga menegaskan, dakwah di kampus, di pesantren, dan di mana saja harus mengedepankan konsep Alquran dan ajaran Rasulullah SAW. Harus memahami Islam secara kaffah atau menyeluruh, tidak boleh sepotong-sepotong memahaminya.

"Dakwah di kampus juga harus lebih mengedepankan akhlakul karimah karena memang itu yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam membawa misi Islam dan dalam membawa perubahan dunia ini dengan akhlakul karimah," kata dia.

Ia menambahkan, dakwah juga harus memberikan misi kasih sayang untuk seluruh alam, misi membangun hubungan kemanusiaan, misi saling menghormati dan menghargai.

“Sehingga Islam tampil sebagai wajah agama yang memayungi, melindungi, dan memelihara kebaikan kepada sesama manusia, alam, bangsa, dan negara,” katanya.

Ia menambahkan, ada persoalan peribadahan yang harus dimilitansikan kepada setiap anak-anak muda atau mahasiswa. Yakni dalam konteks ibadah dan kesetiaannya kepada Allah SWT.

Menurut dia, bagaimanapun dan di manapun hidup, tauhid jangan pernah goyah. “Setelah kita bertauhid, beribadah, dan bersujud kepada Allah, kita membangun hubungan kebaikan kepada sesama manusia dan alam sesuai dengan tata cara yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya," katanya.

Sementara, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ahmad Zubaidi berpendapat, kegiatan dakwah sejatinya dapat dilakukan di manapun. Begitu pun dengan kegiatan-kegiatan dakwah di lingkungan kampus yang merupakan hal sangat baik.

 
Kegiatan dakwah sejatinya dapat dilakukan di manapun. Begitu pun dengan kegiatan-kegiatan dakwah di lingkungan kampus yang merupakan hal sangat baik.
KH AHMAD ZUBAIDI, Ketua Komisi Dakwah MUI
 

Menurut dia, setiap tempat membutuhkan kehadiran seorang dai untuk menyampaikan dakwah Islam. Meski demikian, dalam pelaksanaannya sering kali persoalan yang muncul adalah ketika dai yang menyampaikan dakwah tidak memiliki wawasan keislaman yang komprehensif  dan wawasan kebangsaan. Akibatnya, ia tidak mendakwahkan inklusivitas dan kecintaan kepada Tanah Air.

"Kemungkinan seperti ini dapat terjadi di mana saja, bukan hanya di kampus," ujar Kiai Zubaidi.

Karena itu, ia mengingatkan agar penyelenggara dakwah memperhatikan dai-dai yang akan memberikan dakwah. Dalam hal ini, harus mencari dai yang memiliki kompetensi keislaman yang komprehensif dan wawasan kebangsaan.

“Di antara dai yang sudah memiliki wawasan seperti ini adalah yang sudah mengikuti standardisasi MUI dan mengikuti pelatihan pada lembaga yang kredibel," katanya. 


×