Warga menyaring air tanah yang akan digunakan untuk mencuci pakaian di Desa Sukaringin, Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (10/9/2021). Menurut keterangan warga, saat musim kemarau kualitas air tanah di lokasi tersebut berwarna hitam dan sudah | ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/wsj.
17 Sep 2021, 10:03 WIB

Kala Air Bersih Jadi Barang Mewah dan Langka

Warga Kampung Genting Sukaringin Sukawangi Bekasi tak punya pilihan selain air tak layak.

Air adalah kebutuhan pokok umat manusia. Keberadaannya sangat vital dalam keberlangsungan hidup. Namun, di beberapa wilayah Kabupaten Bekasi, air bersih dan layak merupakan barang mewah bahkan langka.

Seperti yang terjadi di Kampung Genting, Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi. Selama bertahun-tahun, mereka tak punya banyak pilihan, sehingga harus menggunakan air tak layak konsumsi untuk kebutuhan sehari-hari.

Salah seorang warga Suriyatih mengatakan, terpaksa harus menggunakan air yang tak layak untuk keperluan mandi dan mencuci. Namun, dia harus berkali-kali menyaring air itu untuk mandi.

Sebab, mandi menggunakan air itu, bisa menyebabkan penyakit kulit yang akut. "Airnya dipakai untuk mandi, empat kali kita saring. Tetap gak bagus (airnya) ada yang kena penyakit kulit karena kondisi air begitu," kata Suriyatih, Rabu (15/9).

Terkait

Suriyatih pun harus rela merogoh kocek untuk membeli air isi ulang. Dia tak tega meminum air dari sumur tersebut. Apalagi, menggunakannya untuk masak.

Kondisi air sumur yang kotor dan berbau ini telah terjadi berbulan-bulan lamanya. Dia juga tak langsung dapat menggunakan air itu untuk mandi dan mencuci.

Harus mengambil dulu airnya menggunakan ember. Lalu, di dalam ember sudah ada kain. Gunanya, untuk menyaring air yang keruh tadi.

"Dari ember itu ada pipa yang kita buat buat mengucurkannya ke ember penampungan lainnya," ujar dia.

Selain menyebabkan penyakit kulit, dalam jangka panjang air juga mengubah kuku menjadi kuning. Kondisi ini, membuat warga Kampung Genting mengubah kebiasaan. Dari yang normalnya mandi dua hari sekali, menjadi satu kali dalam tiga hari.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BMKG (infobmkg)

Di kediaman tempat Suryatih tinggal, ada dua sumur yang menjadi sumber air warga desa. Kedua sumur itu sama-sama memprihatinkan kondisinya.

Jika di Kampung Genting terjadi krisis air bersih karena sumur mengering dan berbau, kondisi yang sama dengan wajah berbeda juga terjadi di Desa Sukaraya, Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi.

Mereka memiliki problem yang sama, tak bisa mendapatkan air yang layak. Warga Desa Sukaraya, menggantungkan sumber air mereka dari Kali Cilemahabang. Yang letaknya di depan rumah mereka.

Dalam beberapa waktu, kali yang menjadi sumber hidup mereka itu berwarna hitam pekat. Dugaan sementara, akibat limbah dari pabrik yang ada di Kabupaten Bekasi.

Mak Odah (65 tahun), warga bantaran kali Cilemahabang mengatakan, sudah dua bulan harus mandi dengan air kali berwarna hitam. Dia memilih untuk tak mencuci pakaiannya selama air kali masih hitam.

Ketika air mulai kembali ke warna normalnya, barulah dia bergegas menyikat cucian yang telah menumpuk itu. "Udah dua bulan engga nyuci, soalnya airnya jelek banget (hitam). Ini mulai jernih bagus, baru mulai nyuci lagi," kata Mak Odah.

Odah juga harus mengeluarkan uang membeli galon untuk mandi cucunya yang baru berusia 1,5 tahun. Sebab, sang cucu pernah dilarikan ke puskesmas karena mandi menggunakan air kali tersebut.

"Kalau buat cucu itu pada gatel pas ke puskesmas ternyata karena air. Ya udah pakai air galon kalau buat cucu,” ujar dia.

Membeli air galon untuk mandi merupakan persoalan baru bagi Odah. Pasalnya, bagi warga yang tak punya pekerjaan tetap, seperti keluarga Odah, pengeluaran untuk membeli air galon sangat berat.

"Galon satunya Rp 5.000. Kalau buat mandi kudu beli lima. Sedangkan, penghasilan ngerongsok paling dapat Rp 30 ribu - Rp 50 ribu, berat banget," kata dia.

Kondisi hidup seperti itu, membuat Odah dan banyak warga bantaran kali lainnya tak memiliki banyak pilihan.

Sejatinya, di wilayah tersebut ada juga warga yang menggali sumur untuk menemukan titik air. Namun, harganya tak terjangkau bagi mereka.

“Tetangga ada yang gali sumur harganya Rp 3 juta, tapi kalau kita uang dari mana,” tutur dia.


×