Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika
15 Sep 2021, 03:30 WIB

Mencintai Bahasa Arab

kecintaan kepada Islam juga bisa diwujudkan dengan mencintai bahasa Arab.

 

OLEH AHMAD RIFAI

Banyak cara mengekspresikan cinta kita kepada Islam. Selain melaksanakan ajarannya secara istiqamah, kecintaan kepada Islam juga bisa diwujudkan dengan mencintai bahasa Arab.

Bahasa Arab memang sangat identik dengan Islam. Pasalnya, Alquran—kitab suci agama Islam—dan hadis keduanya berbahasa Arab. Allah berfirman yang artinya, “Dia (Alquran) dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS Asyu’ara: 193-195).

Terkait

Karya para ulama yang menjelaskannya juga kebanyakan berbahasa Arab. Sejumlah ibadah mahdhah seperti shalat juga tidak mungkin ditunaikan kecuali dengan bacaan khusus yang juga berbahasa Arab. Tak berlebihan jika dikatakan Islam dan umat Islam tak bisa dipisahkan dari bahasa Arab.

Karena faktor inilah para ulama dahulu sangat perhatian terhadap bahasa Arab. Perhatian itu tidak saja dari orang-orang Arab, tapi juga yang nun-Arab. Hal itu dipengaruhi oleh fungsi bahasa Arab yang telah melampaui fungsi bahasa pada umumnya, yaitu sebagai alat komunikasi.

Memahami bahasa Arab adalah pintu masuk dalam memahami dan menjalankan agama Islam. Karenanya, siapa pun dia, apa pun suku dan rasnya jika ia seorang Muslim, pasti butuh kepada bahasa Arab.  

Tentu kebutuhan itu bervariasi. Bagi orang awam tentu cukup baginya memahami bahasa Arab yang berkaitan dengan lafaz-lafaz yang wajib diucapkan dalam ibadah. Minimal bisa melafazkannya dengan benar. Namun, bagi seorang pembelajar maka dituntut darinya pemahaman mendalam dalam bahasa Arab.

Sebab, bagi penuntut ilmu pemahaman bahasa Arab adalah modal utama meraih pemahaman yang benar dari kitab suci dan juga kita-kitab yang menjelaskannya. Tanpa bahasa Arab sulit menyelami lebih dalam khazanah keilmuan Islam. Jika tetap memaksakan, justru bisa menjerumuskan pada penyimpangan.

Sejarah telah menampilkan bukti tentang hal itu. Dalam sejarah Islam kita mengenal sekte Khawarij. Satu sekte yang aktivitasnya adalah menebar teror di tengah umat dengan motif agama.

Bahkan sekte ini tak segan membunuh termasuk membunuh para sahabat Rasulullah. Semangat beragama mereka tinggi, tapi tidak diimbangi dengan pemahaman agama yang benar.

Ayat-ayat Alquran yang suci mereka tempatkan tidak pada tempatnya. Saat mereka protes pada Khalifah Ali dengan membawakan ayat Alquran dalilnya, menantu nabi ini meresposnnya dengan kalimat yang sangat populer, “Itu adalah kalimat yang hak tapi diinginkan untuk kebatilan.” (Riwayat Muslim No. 1774).

Mengapa bisa demikian? Ayyub Assikhtiyani mengatakan, “Kebanyakan penduduk Irak yang zindiq disebabkan kebodohannya terhadap bahasa Arab.” (Al-Itab Liman takallama Bighairi Lughatil Kitab, 1/15).

Jadi, jika ingin mendalami agama, belajar bahasa Arab mesti totalitas. Sebab jika setengah-setengah, justru bisa membinasakan. Karena itu, cintailah bahasa Arab dan jangan membencinya.


×