Anak-anak meminjam buku dari perpustakaan keliling anggota Bhabinkamtibmas Polres Klaten, Aiptu Setyo Widyantoro saat kunjungan di Desa Taskombang, Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (25/6/2021). | Wihdan Hidayat / Republika
15 Sep 2021, 03:45 WIB

Semakin Banyak yang Gunakan Dana Desa untuk Perpustakaan

Setiap tahunnya sejak 2015 anggaran untuk Dana Desa semakin meningkat.

JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Taufik Madjid, mengungkapkan, jumlah desa yang menggunakan Dana Desa untuk keperluan perpustakaan desa meningkat sejak 2015. Meski, pada masa pandemi, jumlah tersebut mengalami penurunan karena terdampak penanganan Covid-19.

"Karena ada Perpu 1/2020 yang jadi UU Nomor 2/2020, fokus dana desa ini di hal-hal pokok, yaitu penanganan dampak Covid, kemudian ekonomi, dan bantuan langsung tunai yang sumbernya dari dana desa," ujar Taufik dalam Simposium Nasional Gerakan Desa Membaca yang disiarkan secara daring, Selasa (14/9).

Taufik menjelaskan, setiap tahunnya sejak 2015 anggaran untuk Dana Desa semakin meningkat. Hingga pada 2021 pengalokasian anggaran untuk Dana Desa hampir mencapai Rp 72 triliun. Dia mencatat, sejak saat itu pemanfaatan Dana Desa yang digunakan untuk kepentingan perpustakaan desa terus meningkat.

Taufik mengungkapkan, pada 2015 ada 1.168 desa yang menggunakan Dana Desa sebesar Rp 13,87 miliar untuk keperluan perpustakaan desa. Pada 2016, jumlah desa yang menggunakan Dana Desa untuk kepentingan perpustakaan desa meningkat menjadi 2.529 desa dengan total anggaran sekitar Rp 76 miliar.

Terkait

"Naik terus, 2017 menjadi 5.470 desa dan alokasi anggarannya untuk perpustakaan desa itu Rp 156 miliar, 2018 naik lagi 6.153 desa, 2019 10.169 desa. Nah di pandemi ini, 2020, turun dari 10.169 jadi 9.897 desa menggunakan total 331,4 miliar untuk perpustakaan," jelas Taufik.

Untuk data tahun ini, pihaknya mencatat, hingga Agustus 2021 ada 2.234 desa yang secara total memanfaatkan Dana Desa sebesar Rp 87 miliar untuk perpustakaan desa. Taufik mengatakan, meski Dana Desa terdampak oleh upaya penanganan pandemi Covid-19, ternyata masih ada desa yang memanfaatkannya untuk pengembangan atau pembangunan perpustakaan desa.

"Karena itu kita berharap Covid-19 ini bisa cepat berlalu, bisa cepat melandai. Di dalam dunia normal baru, dunia new normal, sehingga kita kembali berpikir mengembangkan perpustakaan desa," kata dia.

Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda, mendorong agar desa-desa memiliki kemauan kuat untuk mengalokasikan dan mendirikan perpustakaan bergerak. Menurut dia, hal tersebut dapat mengatasi persoalan akses terhadap buku yang masih menjadi masalah literasi di Indonesia.

"Kita dorong langkah musyawarah desa supaya desa-desa punya kemauan kuat untuk mengalokasikan dan mendirikan perpustakaan-perpustakaan bergerak di desa-desa," ujar Syaiful dalam simposium yang sama.

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Arys Hilman Nugraha, mengungkapkan, literasi baca-tulis merupakan hal fundamental yang harus ditanamkan terhadap anak-anak Indonesia. Hal tersebut penting dilakukan untuk mengokohkan pondasi literasi baca-tulis di era digital saat ini.

"Fondasi kita untuk literasi baca-tulis itu belum cukup kokoh. Misalnya, sebagian besar waktu kita di dunia internet itu memang dihabiskan bukan untuk buku," ujar Arys.

Berdasarkan data yang ia peroleh, pada Januari 2021 ketersambungan 274 juta masyarakat terhadap internet sudah berada di angka 73,7 persen. Tapi, aktivitas daring masyarakat yang terkait dengan buku hampir tidak ada. Sebagian besar masyarakat menggunakan internet untuk bersosial media, menonton video, dan mendengarkan musik.

"Sama sekali tidak masuk buku di sini. Yang paling banyak adalah untuk chatting menggunakan messenger atau untuk sosial media. Itu di atas 90 persen masyarakat kita. Aplikasi yang di-download pun tidak ada satupun di sini, pada 10 besar itu, adalah aplikasi buku," jelas dia.

Untuk itu, dia menyatakan, penguatan pondadsi literasi baca-tulis menjadi hal yang penting untuk dilakukan ke depan. Dia mengungkapkan, kegiatan membaca memiliki dampak positif bagi masyarakat, di antaranya dapat membangun ikatan dalam keluarga, meningkatkan empati, mendorong pertumbuhan otak, dan memperbanyak kosa kata.

"Yang semua itu bermuara pada keberhasilan akan si anak nanti ini di masa depan. Yang penting juga adalah, orang yang gemar membaca memiliki keungulan secara personal, profesional, maupun sosial," kata dia.

"Jadi membaca tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan akademik, namun juga berkorelasi juga dengan perilaku positif dalam lingkup personal dan profisional," terang dia, menambahkan.


×