Massa membentangkan spanduk bertuliskan kalimat tauhid. | ANTARA FOTO
12 Sep 2021, 03:39 WIB

Dahsyatnya Kalimat Tauhid

Kalimat tauhid, ringan diucapkan, tetapi sangat luar biasa besar bobot nilai maknanya.

OLEH MUHYIDDIN

 

 

Kalimat “Laa ilaaha illallah” merupakan persaksian yang tertinggi. Itulah bentuk pengakuan dari seorang insan bahwa hanya Allah, Zat yang pantas disembah. Ungkapan yang berarti “Tidak ada Tuhan selain Allah” itu diucapkan oleh setiap orang yang beriman.

Terkait

Bahkan, roh manusia sebelum memasuki jasad sudah mengucapkan sumpah demikian. Allah SWT berfirman dalam Alquran surah al-A’raf ayat 172. Artinya, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.’”

Berbagai literatur membahas perihal keagungan kalimat tauhid. Salah satu karya yang patut disebut dalam hal ini ialah Ajaib al-Qur’an. Karya Imam Fakhruddin ar-Razi itu telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Edisi berbahasa Indonesia diedarkan Penerbit Wali Pustaka dengan judul Keajaiban al-Quran dan Rahasia Kalimat Tauhid.

Penulisnya, Imam ar-Razi, merupakan seorang cendekiawan Muslim dari abad ke-12 Masehi. Ulama dari Bani Quraisy itu menguasai berbagai tradisi keilmuan, seperti tafsir Alquran dan filsafat. Pemilik nama lengkap Muhammad bin Umar bin Hasan bin Husain at-Taimi al-Bakri itu lahir di kota Ray—yang kemudian menjadi nisbah namanya.

Penerbit Wali Pustaka yang merupakan bagian dari Rene Turos Indonesia menerjemahkan dan menerbitkan buku Ajaib al-Qur'an agar masyarakat Indonesia lebih mudah menangkap pesan dan ilmu dari Syaikhul Islam Fakhruddin ar-Razi. Kekhasan buku terjemahan ini ada pada kualitas terjemahan yang enak dibaca dan peta buku yang memudahkan pembaca memahami alur pembahasan.

Dalam buku ini, ar-Razi mengungkap makna-makna seputar kalimat tauhid secara perinci dan bernas. Dalam bab pertama, misalnya, ia memaparkan kedahsyatan Kalimat “Laa ilaaha illallah” menurut tafsirannya atas sejumlah ayat Alquran al-Karim. Sebagai contoh, dalam surah Muhammad ayat 19.

Artinya, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan.”

Menurut ar-Razi, ayat tersebut menyampaikan bahwa Allah Ta’ala lebih mendahulukan perintah bertauhid kepada manusia. Seluruh insan diharuskan untuk mengetahui, mengakui, dan meyakini keesaan-Nya. Barulah kemudian, mereka diperintahkan untuk beristighfar, memohon ampunan kepada-Nya. Berdasarkan ayat tersebut, penulis Ajaib al-Qur’an ini berkesimpulan,  pengetahuan tauhid merupakan bagian dari pembahasan pokok (‘ilm al-ushul). Sementara, istighfar adalah cabangnya (‘ilm al-furu’).

 
Pentingnya pengetahuan tauhid ini menunjukkan bahwa ilmu lebih penting daripada amal.
 
 

Ar-Razi menjelaskan, sesuatu yang bersifat pokok sudah semestinya didahulukan atas sesuatu yang bersifat cabang. Alhasil, tidak mungkin seseorang taat kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya jika belum mengetahui dan meyakini keberadaan-Nya. Pentingnya pengetahuan tauhid ini menunjukkan bahwa ilmu lebih penting daripada amal.

Pada bab kedua, ar-Razi kemudian menjelaskan tentang keutamaan kalimat La Ilaha Ilallah. Ungkapan tauhid itu, lanjutnya, merupakan bacaan zikir yang paling utama. Maka dari itu, banyak ayat di dalam Alquran yang menunjukkan lekatnya ujaran kesaksian tauhid dengan permohonan seorang insan akan perlindungan dari-Nya.

Bahkan, Alquran juga menuturkan kisah salah satu musuh Allah, Firaun. Raja itu mengaku-aku sebagai tuhan di hadapan rakyatnya. Nabi Musa AS diutus oleh Allah SWT untuk menasihatinya. Berkali-kali dakwah sang rasul ditolak. Barulah ketika pemimpin Mesir itu tenggelam di Laut Merah, lisannya mengakui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.

“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Firaun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Firaun hampir tenggelam, dia berkata, ‘Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri)” (QS Yunus: 90).

Ar-Razi menjelaskan, maksud ucapan Firaun itu seolah-olah Firaun berkata, “Tiada Tuhan yang menjadikan api terasa sejuk, sebagaimana benda itu hendak membakar Nabi Ibrahim AS ketika di tengah kaumnya, dan tiada tuhan yang mampu menjadikan air sebagai azab bagi manusia sebagaimana mana air yang menenggelamkan dirinya (Firaun), kecuali Tuhan yang diimani oleh Bani Israil.”

Tentunya, kalimat tauhid juga terus dihayati orang-orang beriman lagi beramal saleh. Satu contohnya ialah kisah Nabi Yunus AS. Dalam doanya tatkala berada dalam perut ikan, sang nabi menyebutkan “Laa ilaaha illallah".

“Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim’.” (QS al-Anbiya: 87).

Ar-Razi menjelaskan bahwa maksud dari doa Nabi Yunus itu seolah-olah dia sedang berkata, “Tiada Tuhan selain Engkau, ya Allah, karena hanya Engkau yang mampu menjadikan seseorang tetap hidup di dalam perut ikan. Dan tak ada satu pun yang memiliki kekuasaan (kemampuan) semacam itu, kecuali Diri-Mu.”

Ar-Razi meneruskan, baik Nabi Yunus maupun Firaun sama-sama mengucapkan kalimat yang bermakna tauhid. Akan tetapi, Allah berkehendak, hanya menerima permohonan Nabi Yunus. Sebab, doa yang yang dipanjatkannya sangat berbeda dengan yang diucapkan Firaun. Perbedaan antara keduanya telah dijelaskan secara rinci oleh ar-Razi di dalam buku ini sehingga para pembaca bisa mengambil pelajaran yang berharga.

 
Fakhruddin ar-Razi juga menjelaskan sebanyak tujuh keutamaan kalimat tauhid.
 
 

Fakhruddin ar-Razi juga menjelaskan sebanyak tujuh keutamaan kalimat tauhid. Berikutnya, ia memaparkan adanya 15 nama lain dari kalimat “Laa ilaaha illallah.” Di antaranya adalah kalimat al-ikhlas, al-ihsan, dan da’wah al-haq. Nama-nama lain dari kalimat tauhid itu dijelaskan secara perinci sehingga para pembaca bisa menyelami maknanya.

Tidak hanya itu, dalam karyanya ini Fakhruddin ar-Razi juga menyuguhkan topik-topik yang berkaitan dengan keutamaan orang beriman dan fikih kalimat tauhid. Tema-tema tersebut juga penting untuk dipahami para pembaca, khususnya umat Islam.

Mungkin ringan diucapkan, tetapi sangat luar biasa besar bobot nilai maknanya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyampaikan adanya //bitoqoh// (kartu sakti) kelak nanti di akhirat. “Kartu” itu berisi hikmah tentang betapa agungnya kalimat tauhid. Berikut bunyi hadis yang dimaksud, seperti diriwayatkan 'Abdullah bin Amr.

Disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda tentang seseorang di Hari Kiamat. Seluruh amalan orang itu semasa hidup di dunia sedang ditimbang. Maka dibentangkanlah seluruh catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. "(Luas) setiap kartu itu sejauh mata memandang," terang Rasulullah SAW.

Allah kemudian berfirman, "Apakah kamu mengingkari satu pun dari catatan amal perbuatanmu ini?"

"Tidak sama sekali, wahai Tuhanku," jawab hamba tadi.

"Adakah yang mencatat catatanmu ini berbuat zalim kepadamu? Apakah engkau memiliki alasan atau adakah kebaikan (yang belum didatangkan) di sisimu?" firman Allah lagi kepadanya.

"Tidak," jawab si hamba.

"Sesungguhnya ada kebaikanmu yang Kami catat. Maka, kamu tidaklah termasuk orang-orang yang zalim pada hari ini.”

Maka dihadirkanlah satu bitaqah. Di atasnya, tertulis kalimat “Laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan 'abduhu wa rasulullah.” Melihat itu, hamba tersebut bertanya, "Apakah kartu ini akan diletakkan (di timbangan, berhadapan) dengan kartu-kartu amalanku yang penuh dosa?"

Allah meletakkan “kartu” tersebut di atas timbangan amal kebaikan. Seketika, timbangan itu berubah keadaannya. Kini, bagian yang menandakan kebaikan jauh lebih berat ketimbang yang amal keburukan.

Mengingatkan kembali akan dahsyatnya kalimat tauhid, Imam ar-Razi menukil sabda lain dari Nabi SAW. “Barangsiapa yang mengucapkan kaliamat la ilaha illallah dengan tulus, dia akan masuk surga” (HR Ahmad). Buku ini insya Allah akan menguatkan iman pembaca.

Untuk mengenal lebih jauh tentang sosok penulis, di akhir buku ini juga diulas biografi Imam Fakhruddin ar-Razi. Walaupun hanya biografi singkat, tapi sudah cukup untuk meyakinkan pembaca tentang kealiman ulama yang bergelar Syaikhul Islam tersebut.

photo
Buku ini menjelaskan pemaknaan atas kalimat Laa ilaaha illallah dengan merujuk pada ayat-ayat Alquran. - (DOK IST)

 

DATA BUKU:

Judul: Keajaiban al-Quran dan Rahasia Kalimat Tauhid (terjemahan atas Ajaib al-Qur’an)

Penulis: Imam Fakhruddin ar-Razi

Penerjemah: Abdul Majid

Penerbit: Wali Pustaka

Tebal: 420 halaman


×