Reputasi Syekh Ahyad sebagai guru agama diakui luas kaum Muslimin, baik di Makkah maupun Madinah. Ia termasuk mubaligh Nusantara yang menjadi pengajar di Tanah Suci dalam kurun abad ke-20 M. | Dok NU
12 Sep 2021, 03:14 WIB

Syekh Muhammad Ahyad, Ulama Bogor di Tanah Suci

Reputasi Syekh Ahyad sebagai guru agama diakui luas kaum Muslimin, baik di Makkah maupun Madinah.

OLEH MUHYIDDIN

Perkembangan syiar Islam di Indonesia pada zaman modern tidak lepas dari praktik pendidikan di Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Para sejarawan umumnya berpendapat, abad ke-19 dan 20 merupakan masa-masa penting dalam proses transfer ilmu dari masyayikh Tanah Suci kepada para pelajar Tanah Air.

Mereka membentuk jaringan ulama yang tidak hanya berkiprah di daerah masing-masing. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian menjadi guru di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi.

Dalam hal ini, seorang ulama Nusantara yang patut dikenang ialah Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri. Mubaligh asal Bogor, Jawa Barat, itu pernah menimba ilmu-ilmu agama di Haramain. Pada puncak kariernya, ia pun menjadi seorang pengajar di dua Masjid Suci.

Terkait

Berdasarkan literatur yang ada, Syekh Muhammad Ahyad lahir pada 21 Ramadhan 1302 Hijriyah atau 1884 Masehi. Lelaki itu merupakan anak dari Kiai Muhammad Idris bin Abi Bakar bin Tubagus Musthafa Bakri al-Bughuri. Syekh Zakarya Bilah dalam kitabnya, Al-Jawahir al-Hisan menjelaskan, dalam diri Ahyad mengalir darah Nabi Muhammad SAW.

Metafora itu lantaran sang alim merupakan keturunan Fathimah az-Zahra binti Rasulullah SAW, yakni dari garis Husain bin Ali bin Abi Thalib. Sementara itu, nasab ibundanya pun termasuk kalangan terhormat. Silsilahnya bersambung hingga sosok Haji Abdullah bin Mas Jija Raja.

Di dalam kitab Taynif al-Asma, dijelaskan bahwa Syekh Ahyad merupakan cicit Tubagus Musthafa Bakri, seorang penyebar agama Islam di Jawa Barat pada kurun abad ke-17 M. Tb Bakri juga dikenang sebagai pendiri masjid tua di Banjar Jati Kaum, Bogor, pada 1728 M. Demikian keterangan yang dinukil dari artikel Ginanjar Sya’ban. “Ijazah dari Syekh Ahyad untuk Syaikh Ahyad Ibn Idris Bogor".

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa itu kiranya tepat dalam menggambarkan masa muda tokoh tersebut. Ayahnya, Kiai M Idris, sangat mengutamakan pendidikan agama. Karena itu, ia pun dididik untuk menekuni dunia keilmuan Islam.

Kiai Idris mengarahkan putranya itu untuk belajar kepada ustaz-ustaz setempat. Alhasil,  Ahyad kecil sudah terbiasa mempelajari berbagai macam disiplin ilmu agama, semisal ’ulumul Qur’an, hadis, nahwu, sharaf, dan fikih.

Bagaimanapun, ilmu-ilmu umum tidak diabaikan begitu saja. Sang ayah menyekolahkannya di Volk School. Setamat dari sana, Ahyad muda meneruskan pendidikan hingga Meer Uietgebreid Leger Orderwijs (MULO), yang kini setingkat dengan SMP. Di sekolah umum Belanda itu, dirinya mempelajari penguasaan bahasa Belanda. Selan itu, matapelajaran favoritnya ialah matematika.

 
Setelah menginjak usia 15 tahun, Ahyad muda berkesempatan pergi ke Tanah Suci.
 
 

Setelah menginjak usia 15 tahun, Ahyad muda berkesempatan pergi ke Tanah Suci. Tidak hanya untuk menunaikan ibadah haji, peluang itu menjadi awal baginya untuk menjalani rihlah keilmuan di Makkah dan Madinah. Selama merantau di Negeri Hijaz, dia selalu menguatkan tekad untuk menekuni bidang keislaman. Berbagai ijazah sanad pun diperolehnya dari sejumlah ulama terkenal.

Ahyad sudah lama mengidamkan belajar di Tanah Suci. Sebab, sejak kecil dirinya sudah sering menerima cerita dari sang ayah, betapa luar biasa para alim ulama di Makkah dan Madinah. Selain itu, di kedua kota suci itulah para pelajar Muslim dari seluruh dunia berkumpul.

Ada seorang panutannya dalam menimba ilmu-ilmu agama di Haramain. Dialah Syekh Mukhtar bin Atharid al-Bughuri. Seorang pengajar di Masjidil Haram itu merupakan seorang sahabat Kiai Idris.

 
Ahyad muda tidak menyia-nyiakan waktunya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya.
 
 

Ahyad muda tidak menyia-nyiakan waktunya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Berbagai halakah diikutinya, baik yang digelar di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Di antara guru-gurunya adalah Syekh Baqir bin Muhammad Nur al-Jogjawi, Syekh Ahmad Sanusi, Syekh Ahmad Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani, Syekh Abbas bin Muhammad, Syekh Muhammad Abdul Hayyi al-Kittani, dan tentunya Syekh Muhtar bin Atharid al-Bughuri.

Dari sosok yang tersebut akhir itu, dia mendalami ilmu fikih, tafsir Alquran, hadis, ushul, faraidh, dan falak. Jika sudah selesai mengajarkan satu topik, Syekh Mukhtar akan membacakan sanad atau silsilah keilmuan kitab yang sedang dibahasnya kepada para santri.

Ahyad remaja termasuk seorang di antaranya. Dengan penuh ketekunan dan kesungguhan, ia mempelajari apa yang transmisikan oleh gurunya.

Menjadi pengajar

Dalam mempelajari ilmu agama, Syekh Muhammad Ahyad tampak lebih menonjol dibandingkan dengan murid-murid lainnya. Karena kealiman yang tersemat dalam dirinya, Syekh Mukhtar pun mengusulkan kepada sejumlah masyayikh Masjidil Haram agar melibatkan pemuda Bogor itu sebagai asisten pengajar.

Usulan tersebut diterima. Akhirnya, Ahyad diberi amanah untuk ikut mengajar di sana sejak 1346 Hijriah (1927 M). Halakah yang diampunya terletak di dekat Bab an-Nabi Muhammad (Gerbang Nabi Muhammad SAW).

 
Akhirnya, Ahyad diberi amanah untuk ikut mengajar di sana sejak 1346 Hijriah (1927 M). Halakah yang diampunya terletak di dekat Bab an-Nabi Muhammad.
 
 

Durasi mengajarnya ialah sebelum azan zuhur, bakda shalat subuh, bakda maghrib, serta sesudah shalat isya. Beberapa materi yang diajarkannya adalah fikih Mazhab Syafii dan ilmu waris—semuanya dalam taraf mendasar.

Meskipun sudah bisa dipanggil sebagai syekh, dia masih merasa harus untuk terus menjadi pembelajar. Maka, banyak halakah ilmu di Masjidil Haram yang tidak pernah terlewatkannya. Khususnya majelis yang dipimpin Syekh Mukhtar. Hingga gurunya itu wafat pada 1930 M, Syekh Ahyad masih setia menghadiri kajian ilmu sahabat ayahandanya itu.

Setelah Syekh Mukhar berpulang ke rahmatullah, Syekh Ahyad menerima amanah sebagai pengganti gurunya itu. Resmilah dirinya berstatus sebagai pengajar di Masjidil Haram. Ada sekira 300 murid yang rutin menghadiri halakahnya. Kebanyakan dari mereka sebelumnya menjadi santri Syekh Mukhtar.

Dari beberapa sumber yang ada, mayoritas para murid Syekh Ahyad berasal dari Indonesia. Ia pun menjadi salah satu mentor bagi generasi ulama Nusantara abad ke-20. Beberapa anak didiknya yang di kemudian hari menjadi ulama besar ialah Syekh Muhammad Husain Palembang, Syekh Abdul Qodir bin Muthalib al-Mindili, Syekh Sodiq bin Muhammad al-Jawi, dan Syekh Zakaria Bela. Selain itu, ada pula Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa, Sayyid Hamid bin Alawi al-Kaff, dan Syekh Zain bin Abdullah al-Baweani.

Saat mengajar, Syekh Ahyad sering mempraktikkan sebagian dari amalan-amalan yang menurutnya perlu disimak baik-baik oleh para santri. Sebagai contoh, bertayamum. Di hadapan mereka, ia mencontohkan bagaimana cara tayamum yang benar. Gerakan-gerakan yang ditunjukkannya itu adalah sesuai dengan apa-apa yang dipelajari dari guru-gurunya hingga sanadnya muttasil pada Rasulullah SAW.

Selain itu, Syekh Ahyad juga memberikan praktik langsung ketika mengajar ilmu falak. Dalam hal ini, rujukannya ialah kitab karangan Syekh Mukhtar yang berjudul Al-Rubu’ al-Mujayyab. Agar para muridnya bisa mengetahui dengan lebih pasti benda-benda langit seturut buku tersebut, ia mengajak mereka untuk berobservasi langsung.

 
Pada malam hari, para santrinya itu mengarahkan pandangan mata ke langit, menunjuk satu per satu gugusan bintang yang namanya termuat dalam Al-Rubu’.
 
 

Pada malam hari, para santrinya itu mengarahkan pandangan mata ke langit, menunjuk satu per satu gugusan bintang yang namanya termuat dalam Al-Rubu’.

Metode yang dikembangkan Syekh Ahyad ini di kemudian hari menjadi model bagi banyak muridnya. Sebagai contoh, Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Saat mengajarkan ilmu falak, ulama dari Sumatra Barat itu sering mengajak para santrinya untuk mengamati bintang-bintang. Dikenalkanlah nama benda-benda langit kepada mereka satu per satu, berikut ciri-ciri yang melekat pada semuanya.

Mengenai sumbangsih Syekh Ahyad dalam mengajar ilmu di Masjidil Haram, Syekh Yasin al-Fadani mengungkapkan beberapa kitab yang diajarkan gurunya tersebut. Menurut dia, kitab-kitab yang diajarkan mubaligh Bogor itu, selama mengajar di Masjidil Haram, mencakup banyak judul.

Di antaranya adalah Jami al-Tirmidzi, Iqna’ li al-Khatib al-Syarbini, Umdatu al-Abrar fi al-Manasiki al-Hajji wa al-Umrah, dan Syarah ibn Aqil ala al-Fiyah ibn Malik. Di samping itu, masih ada Mandzumatu al-Qawa’idu al-Fiqhiyyah, Al-Mawahibu al-Staniyyah Syarh Mandzumatu al-Qawa’idu al-Fiqhiyyah, dan Risalah Adab wa al-Bahats.

Saat mengajar di Masjidil Haram, banyak para pencari ilmu yang terkesan dengan materi yang disampaikan Syekh Ahyad. Mereka tidak pernah merasa bosan untuk menghadiri majelis ilmu yang digelar sang syekh.

 
Saat mengajar di Masjidil Haram, banyak para pencari ilmu yang terkesan dengan materi yang disampaikan Syekh Ahyad.
 
 

Gema kealiman Syekh Ahyad menjadi bahan pembicaraan di kalangan ulama Madinah. Sejumlah masyayikh setempat pun menganjurkannya untuk mengajar di Masjid Nabawi. Anjuran itu adalah sebuah kehormatan baginya.

Di Kota Nabi SAW, mubaligh kelahiran Bogor itu pernah berguru pada banyak ulama terkemuka, semisal Syekh Abbas bin Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani dan Syekh Ahmad Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani. Kini, dirinya meneruskan estafet mereka dalam mentransmisikan ilmu-ilmu agama kepada generasi Muslimin.

photo
ILUSTRASI. Saat mengajar di Masjidil Haram, banyak para pencari ilmu yang terkesan dengan materi yang disampaikan Syekh Ahyad. - (Antara)

 

Legasi Ilmu Melalui Karya

 

Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri merupakan seorang ulama dengan reputasi dunia. Ia termasuk mubaligh Nusantara yang menjadi pengajar di Tanah Suci dalam kurun abad ke-20 M. Cakupan keilmuannya begitu luas. Dalam menyebarkan ilmu-ilmu agama, dirinya tidak hanya mengajar dengan lisan, tetapi juga tulisan.

Tercatat, ada banyak kitab yang telah ditulisnya. Di antaranya adalah Ta’liqat ‘ala Kitab Jami al-Tirmidzi, Hasiyah ‘ala al-Kitab Umdati al-Abrar fii Manasiki al-Hajji wa al-I’timar li Sayyid Ali al-Wana’i, Ta’liqatu ala Nadzmi al-Qawa’idi al-Fiqhiyyati, serta Tsabat bi Asanidihi. Baginya, menulis adalah salah satu medium pendidikan yang sangat penting. Usia manusia terbatas, tetapi karya-karya akan selalu dibaca dan dimaknai sepeninggalannya.

Karya-karya Syekh Ahyad itu, berikut dengan beberapa kitab koleksi pribadinya, juga diwakafkan kepada Madrasah Dar al-Ulum. Dengan begitu, literasi yang dimilikinya itu bisa bermanfaat lebih luas bagi kaum Muslimin umumnya. Pada akhirnya, pahala yang tak putus-putus insya Allah mengalir untuk sang syekh kelahiran Bogor, Jawa Barat, itu.

Syekh Muhammad Ahyad wafat pada malam Sabtu, 9 bulan Shafar 1372 Hijriah (1952 M). Kala itu, usianya sekitar 70 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Ma’la, Makkah al-Mukarramah. Kompleks tersebut bernilai historis. Area dengan nama lengkap Maqbarah Jannatul Ma'la itu sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Syekh Muhammad Ahyad Al-Bughuri dikenal sebagai ulama yang mampu menguasai berbagai disiplin keilmuan, khususnya dalam bidang agama. Dalam kesehariannya, ia sering menggunakan waktunya untuk kemanfaatan, seperti mengajar, belajar, beribadah, dan mengarang sebuah kitab.

Selama berkiprah di Haramain, Syekh Muhammad Ahyad tidak hanya menerima amanah untuk mengajar. Ia juga aktif memimpin majelis zikir yang dahulunya dipimpin seorang gurunya, Syekh Mukhtar Atharid. Mayoritas jamaah majelis tersebut mengikuti Tarekat Qadiriyah wa al-Naqsabandiyah. Syekh Ahyad sendiri menjadi mursyid, yakni meneruskan kepemimpinan dari almarhum Syekh Mukhtar. Sang guru juga merupakan mertuanya. Syekh Ahyad dan istri dikaruniai tujuh orang anak.


×