M Izzul Haq Dimyathi. Penerima Grant Beasiswa 5.000 Doktor Kementerian Agama (Kemenag) RI itu baru-baru ini meneliti penerimaan Muslimin Kanada terhadap pengungsi. | DOK IST

Hiwar

05 Sep 2021, 07:58 WIB

Fastabiqul Khairat Bantu Pengungsi Asal Dunia Islam

Bagaimana komunitas Muslim fastabiqul khairat dalam merespons pengungsi dari negara-negara Muslim.

 

Sejak meletusnya Perang Suriah pada 2011, jumlah pengungsi asal Timur Tengah melonjak pesat. Menurut data UNHCR, Suriah merupakan negara yang paling banyak menghasilkan pengungsi, yakni total hingga 6,7 juta jiwa. Mereka tersebar ke banyak negara di banyak benua. Salah satu negara tujuannya ialah Kanada.

Seorang akademisi Indonesia, Muhammad Izzul Haq Dimyathi, meneliti penerimaan pengungsi di negara Amerika Utara itu. Penerima anugerah Beasiswa 5.000 Doktor Kementerian Agama (Kemenag) RI itu menemukan, komunitas Muslim Kanada bahu-membahu dengan pemerintah setempat untuk menolong pengungsi. Salah satu wujud gotong royong itu ialah penyelenggaraan acara oleh masjid-masjid lokal untuk memperkenalkan dan mempererat silaturahim antara para imigran itu dan penduduk tempatan.

Bagaimanapun, lanjut alumnus UGM Yogyakarta ini, riset atau referensi tentang peran komunitas Muslim Kanada dalam membantu pengungsi ternyata minim. Itulah rumpang penelitian yang coba diisinya. “Jadi, yang saya teliti ini adalah komunitas muslim yang mensponsori pengungsi juga masjid yang memberikan pelayanan sosial bagi pengungsi yang sudah dimukimkan di Kanada,” ujar putra almarhum KH Dimyathi Romly ini.

Bagaimana gambaran umum kebijakan Kanada untuk memukimkan kembali para pengungsi Suriah? Seperti apa peran yang diisi umat Islam di sana? Berikut hasil perbincangan wartawan Republika, Muhyiddin, baru-baru ini bersama sosok yang biasa dipanggil Gus Izzul tersebut.

Bagaimana mulanya Anda meneliti isu pengungsi di Kanada?

Pada 2017, saya mengikuti program Beasiswa 5.000 Doktor Kemenag, yang punya skema penempatan di McGill University, Kanada. Ketika itu, saya memiliki beberapa pilihan tema untuk studi doktoral di sana.

Saya pun menemukan isu yang sedang hangat, yaitu (pemerintah) Kanada memukimkan kembali (resettlement) puluhan ribu pengungsi asal Suriah. Pengungsi yang datang ke Kanada itu tentu tidak langsung dari Suriah, tapi sudah melalui fase tinggal di kamp-kamp pengungsian, seperti di Turki atau Yordania.

Saya menemukan, ternyata referensi atau literatur terkait peran komunitas Muslim (di Kanada) itu sangat terbatas. Literatur yang ada masih didominasi kajian yang membahas tentang peran gereja dan sinagoge dalam sponsorship terhadap pengungsi.

Padahal, Islam merupakan agama yang pertumbuhannya paling pesat di Kanada. Sejak sensus tahun 1991, 2001, dan 2011 itu, terlihat pesat sekali peningkatan komunitas Muslim. Karena itu, saya mencoba melakukan penelitian terhadap peran komunitas Islam.

Bagaimana situasi arus pengungsi di Kanada?

Bisa dikatakan, meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi, setelah konflik politik internasional di Timur Tengah, terutama Suriah. Sementara, Kanada sendiri—kalau dilihat dalam sejarahnya—termasuk negara yang terbuka terhadap pengungsi.

Kalau kita melihat empat tahun terakhir, jumlah pengungsi di Kanada memang cukup tinggi. Bahkan, pada 2018 untuk pertama kalinya Kanada menjadi top resettlement country, negara yang paling banyak memukimkan kembali para pengungsi.

Selama ini, memang Amerika Serikat terbanyak menerima pengungsi. Namun, sejak Donald Trump berkuasa, AS menerapkan pembatasan terhadap beberapa negara yang dianggapnya sumber teroris, seperti Iran, Sudan, atau Suriah. Sebaliknya, Kanada masih tetap terbuka kepada pengungsi meskipun tetap ada seleksi. Pada 2018, Kanada sudah memukimkan kembali 28 ribu pengungsi.

Sementara, AS turun menjadi 23 ribu (pengungsi). Terbaru, katanya Presiden Joe Biden mau meningkatkan lagi kuota menjadi sekitar 60 ribu pengungsi. Jadi, sudah ada proposal dari Biden untuk membuka kembali pintu Amerika bagi para pengungsi.

Mengapa para pengungsi memilih Kanada sebagai negara tujuan?

Suriah adalah negara penyumbang pengungsi terbesar, yakni sekitar 6 juta jiwa. Di Jerman, sudah hampir mencapai 1 juta warga (pengungsi) Suriah. Kalau di Kanada, baru 74 ribu jiwa, tetapi itu sebenarnya sudah cukup besar juga.

Kanada menjadi negara tujuan mereka karena memang reputasinya sudah bertahan cukup lama sebagai negara yang damai, terbuka kepada imigran—termasuk pengungsi. Bahkan, ada yang mengatakan, Kanada itu adalah America without gun atau America with universal healthcare.

Kalau dari sisi Kanada, apa imbas yang dirasakan dengan kedatangan pengungsi?

Kanada sendiri memang membutuhkan banyak imigran untuk membangun negara. Jadi, memang ada motif ekonomi yang berbalut dengan misi kemanusiaan. Luas Kanada kira-kira empat kali lipat Indonesia. Sementara, penduduknya hanya 37,5 juta jiwa. Bisa dibayangkan dengan Jawa Timur yang penduduknya 39 juta jiwa.

Selain itu, Kanada itu juga sangat kaya dengan sumber daya alam. Memang, dari tahun ke tahun imigran masih dibutuhkan di Kanada. Bahkan, saya pernah membaca, sampai tahun 2035 tiap tahunnya Kanada itu membutuhkan imigran sekitar 300 ribu orang. Nah, salah satu jalur imigrasi itu adalah refugee resettlement.

Seperti apa komunitas Muslim Kanada yang menjadi subjek penelitian Anda?

Yang saya teliti ini adalah komunitas Muslim yang mensponsori pengungsi. Di dalamnya, termasuk masjid yang memberikan pelayanan sosial kepada pengungsi yang sudah dimukimkan di Kanada. Saya memilih tiga lokasi di tiga kota besar Kanada yang menjadi wilayah tujuan imigran, yaitu Vancouver, Montreal, dan Toronto.

Saya ingin melihat, bagaimana komunitas Muslim yang ada di tiga kota ini merespons pengungsi, khususnya dalam lima tahun terakhir. Yang saya lihat, ada unsur fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan) juga. Sebab, pada 2015 ketika pengungsi Suriah datang ke Kanada, itu banyak yang disponsori komunitas gereja, sebagaimana sudah dilakukan ke pengungsi-pengungsi lain seperti dari Vietnam. Makanya, saya ingin melihat bagaimana sikap komunitas Muslim. Apalagi Suriah pun banyak orang Islamnya.

Seperti apa respons Muslimin setempat terhadap kedatangan pengungsi?

Keterlibatan civil society elemen agama dalam mensponsori pengungsi menjadi salah satu ciri khas Kanada dalam refugee resettlement. Umumnya, respons umat Islam Kanada terhadap kedatangan pengungsi baik walaupun memang belum sebanyak dari kalangan gereja.

Sejak era PM (Perdana Menteri) Justin Trudeau, mulai banyak orang atau lembaga—termasuk juga komunitas Muslim—yang mengajukan diri untuk terlibat dalam permukiman kembali pengungsi. Ada banyak gerakan, seperti pengumpulan dana yang dikoordinasi masjid.

Kemudian, juga ada khutbah Jumat yang berisi anjuran kepada jamaah untuk membantu pengungsi. Rekrutmen relawan juga dilakukan besar-besaran. Sebab, para pengungsi pastinya membutuhkan banyak bantuan untuk menangani permasalahan psikososialnya dan adaptasi awal di Kanada.

Apa saja kendala interaksi antara penduduk tempatan dan pengungsi?

Pasti ada kendala. Mereka juga menghadapi diskriminasi rasial dan islamofobia. Bahkan, ada masjid yang diteror karena mau mensponsori pengungsi Suriah. Kaca mobil imam sampai dipecahkan dan ada grafiti di pintu masjid. Tidak hanya itu, ada juga hate speech yang berkembang di media sosial terkait dengan longgarnya penerimaan pengungsi di Kanada.

Untuk diketahui, ada beda antara pengungsi yang kedatangannya disponsori pemerintah (government-assisted refugees, GAR) dan masyarakat (private-sponsorship of refugees, PSR).

Kalau yang oleh pemerintah, selama 12 bulan pertama biaya hidup pengungsi ditanggung pemerintah. Rata-rata mereka memiliki problem psikososial yang lumayan akut. Sebab, pemerintah Kanada memprioritaskan untuk mensponsori pengungsi yang paling parah situasinya dan paling rentan. Begitu sampai di Kanada, banyak dari mereka yang tidak punya jaringan sosial di sini.

Adapun yang disponsori masyarakat, pengungsi itu biasanya sudah punya jaringan di Kanada dan cenderung lebih berpendidikan. Ketika sampai, selama 12 bulan pertama biaya hidupnya ditanggung masyarakat. Mereka relatif lebih cepat beradaptasi dan mudah mendapat pekerjaan.

Bagaimana pengungsi yang menjadi subjek penelitian Anda beradaptasi dengan Muslimin setempat?

Tantangan pertama adalah internal atau psiko-sosiologisnya. Untuk yang via GAR, memang agak berat dibandingkan dengan tipe PSR. Sebab, mereka punya pengalaman lebih parah, khususnya problem trauma pascaperang.

Belum lagi kapasitas mereka. Bahkan, ada pengungsi dari Suriah itu yang buta huruf bahasa Arab. Ada yang mengalami disabilitas tertentu. Hanya saja, dengan adanya support yang memadai, baik dari pemerintah maupun masyarakat, lambat laun mereka bisa tertangani dengan baik. Pengungsi via PSR relatif lebih cepat berintegrasi dan mandiri dibanding GAR.

Khususnya bagi komunitas Muslim, ada support dan modal sosial yang dibangun melalui keterlibatan bersama. Misalnya, di salah satu masjid itu membuat acara-acara yang menghubungkan pengungsi dengan masyarakat lokal. Kemudian, pelatihan bahasa juga penting. Kalau tidak begitu, kendala bahasa akan mempersulit integrasi dengan masyarakat.

Apa kira-kira pelajaran yang bisa diambil Indonesia, terkait respons pemerintah dan rakyat Kanada terhadap pengungsi?

Pertama, saya melihat sisi kepemimpinan di dalam kemanusiaan dan intervensinya di tingkat global. Inilah yang sudah dilakukan Kanada sebagai negara yang memimpin dalam penanganan pengungsi. Kedua, adanya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama menangani permasalahan kemanusiaan global.

Ketiga, berkaca lagi pada Indonesia. RI hingga kini belum meratifikasi Konvensi Jenewa 1951 yang mengatur pengungsi. Saya pernah melihat DPR menolak meratifikasi. Sebab, konsekuensinya akan ada beban demografis dan juga akses lapangan kerja.

Selama ini, Indonesia tidak bisa mendefinisikan status pengungsi, tetapi harus menunggu dulu UNHCR untuk itu. Dan, membutuhkan waktu lama sehingga terjadi penumpukan. Dengan meratifikasi konvesi itu, pendataan pengungsi akan cepat. Selain itu, ada peluang lebih untuk mendapatkan bantuan internasional bagi penanganan pengungsi.

Namun paling tidak, Indonesia sudah mewujudkan beberapa prinsip yang terpenting dari Konvensi 1951 dan Protokol 1967 tentang status pengungsi. Misalnya, sudah ada prinsip non-refoulement dengan tidak memulangkan kembali pengungsi.

 

photo
Menurut akademisi M Izzul Haq Dimyathi, Indonesia dapat memetik pelajaran dari cara pemerintah dan warga Kanada dalam menangani persoalan pengungsi. - (DOK IST)

Teladan dan Nasihat dari Sang Ayah

 

Seperti tampak pada namanya, Muhammad Izzul Haq Dimyathi merupakan putra dari KH Dimyathi Romly, seorang mursyid sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Gus Izzul, demikian sapaan akrabnya, mendapatkan banyak suri teladan dan pelajaran hidup dari ayahanda tercinta.

Salah satu kebiasaan yang diajarkan Kiai Dimyathi kepadanya ialah kecintaan terhadap buku. Menurutnya, dengan membaca banyak pustaka, dirinya seperti berkelana ke banak dunia. Alhasil, wawasan dan cakrawala berpikirnya pun kian luas.

“Almarhum Ayah merupakan salah satu sosok yang memperkenalkan dunia kepada saya. Jadi sedini mungkin saya sudah terpupuk tradisi untuk suka membaca buku, mengeksplorasi khazanah pengetahuan dunia,” ujar Gus Izzul kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Ia ingat, tatkala masih berusia murid Madrasah Ibtidaiyah. Sang ayah memberikan kepadanya buku ensiklopedi Islam. Sejak itu, ia menyadari betapa beragamnya umat Islam di penjuru dunia. “Saya seperti bekelana ke dunia melalui buku dengan ensiklopedi yang ada di rumah,” ucap alumnus London School of Economics and Political Science ini.

Pesan lain yang ditanamkan Kiai Dimyathi kepada anaknya ialah menjaga shalat. Khususnya shalat Subuh, ibadah ini jangan sampai terlewatkan. “Bahkan setelah saya menikah pun, itu yang sering ditekankan. Memang lambat laun saya menyadari, banyak sekali manfaat yang bisa diserap dari energi shalat Subuh,” kata alumnus UGM Yogyakarta ini.

 
Pesan lain yang ditanamkan Kiai Dimyathi kepada anaknya ialah menjaga shalat. Khususnya shalat Subuh, ibadah ini jangan sampai terlewatkan.
 
 

Beberapa waktu lalu, Gus Izzul dipercaya sebagai ketua tanfidziyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Amerika Serikat-Kanada. Ia mendampingi Prof Shalahuddin Kafrawi yang terpilih kembali sebagai rais syuriyah PCINU tersebut.

Dalam memimpin warga Nahdliyin di luar negeri, Gus Izzul selalu memegang prinsip al-muhafadhu ‘alal qadimis shaleh wal akhdu bil jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Ia pun akan terus memperkuat silaturahim para diaspora, khususnya dari elemen Nahdliyin. Di samping itu, kerja sama akan lebih diintenskan, baik dengan sesama perantauan asal Indonesia maupun Muslimin Amerika Utara.

“Sehingga kita terus bersemangat mempromosikan Islam damai, Islam rahamtan lil alamin dengan terus memegang teguh sikap Nahdliyin, yaitu tawasuth, tasamuh, tawazun, dan amar makruf nahi munkar,” jelas pria kelahiran Jombang, 23 Agustus 1981 ini.

“Jadi kita optimistis bahwa ke depan akan lebih banyak kegiatan, baik itu luring ataupun daring, yang itu menembus sekat-sekat batas geografi. Apalagi, Amerika dan Kanada ini adalah dua negara besar,” sambung bapak tiga orang anak itu.


×