IMAN SUGEMA | Daan Yahya | Republika
30 Aug 2021, 04:33 WIB

Terlalu Miskin untuk Menganggur

Akan selalu ada sebagian masyarakat yang terlalu miskin untuk menganggur.

 

OLEH IMAN SUGEMA

Dalam beberapa bulan terakhir ini saya disibukkan dengan membaca literatur tentang bagaimana cara mengukur konsekuensi makroekonomi dari penyebaran wabah Covid-19. Di antara tumpukan paper tersebut ada satu yang sangat menarik perhatian, yakni working paper yang diterbitkan National Bureau of Economic Research (NBER) karya Eichenbaum, Rebelo, dan Trabandt (2020).

Saya tertarik bukan karena NBER merupakan sebuah lembaga riset yang prestisius, tetapi karena koneksitas epidemi dengan makroekonomi didefinisikan secara gamblang dan elegan. Karya mereka berjudul The Macroeconomics of Epidemics.

Terkait

Saking elegannya, kontan naskah mereka memicu para ekonom top dunia untuk mengembangkan berbagai varian dari model dasar mereka. Mereka sendiri telah menerbitkan tiga varian model. Varian yang sempat saya baca baru sekitar 12 dan mungkin masih ada puluhan model lainnya yang belum sempat saya telusuri.

Hubungan antara wabah Covid-19 dan perekonomian dapat ditelusuri melalui dua jalur, yakni aktivitas konsumsi dan aktivitas kerja. Tentu mereka juga menspesifikasi bahwa ada satu jalur lain lagi, yakni jalur nonekonomi atau jalur aktivitas sosial. Secara sederhana mungkin bisa saya terangkan teknik pemodelan yang mereka lakukan sebagai berikut.

Jalur konsumsi menceritakan tentang bagaimana wabah bisa menyebar melalui aktivitas konsumsi. Misalkan Anda pergi berbelanja ke pasar, berinteraksi dengan orang yang telah terinfeksi tanpa Anda ketahui.

 
Hubungan antara wabah Covid-19 dan perekonomian dapat ditelusuri melalui dua jalur, yakni aktivitas konsumsi dan aktivitas kerja.
 
 

Kita bisa ukur berapa peluang Anda terinfeksi dan kemudian menularkan wabah Covid-19 kepada orang lain yang berinteraksi dengan Anda. Tentu semakin sering anda berbelanja semakin besar kemungkinan Anda terinfeksi.

Untuk mengurangi risiko terinfeksi maka kita akan cenderung mengurangi belanja atau mengubah kebiasaan belanja. Misalkan Anda tidak lagi pergi ke pasar, mal, dan toko. Anda cukup memesan berbagai keperluan secara daring. Kesimpulan umumnya adalah kalau Anda bisa menekan jumlah konsumsi, maka risiko terinfeksi akan semakin berkurang.

Tentunya sekarang kita menjadi maklum mengapa salah satu cara mengendalikan wabah Covid-19 adalah dengan cara menutup mal, mengurangi jam pelayanan pedagang ritel, dan berbagai bentuk pembatasan lainnya. Hanya saja konsekuensinya menjadi sangat jelas, aktivitas ekonomi pasti menurun.

 
Untuk mengurangi risiko terinfeksi maka kita akan cenderung mengurangi belanja atau mengubah kebiasaan belanja.
 
 

Jalur kerja menjelaskan tentang bagaimana risiko tertular wabah di saat Anda sedang bekerja. Misalkan Anda pergi ke kantor dan secara tak sengaja berinteraksi dengan orang tanpa gejala (OTG). Semakin banyak Anda berinteraksi di kantor semakin besar kemungkinan Anda tertular dan menularkan. Persoalannya, virus adalah mahluk yang tak kelihatan dan kita juga tidak tahu sebetulnya siapa saja yang potensial menjadi penular.

Menjadi rasional bagi Anda untuk mengurangi aktivitas kerja, melakukan penjarakan di kantor, atau kalau bisa work from home. Tapi semua upaya mengurangi risiko tersebut tentunya akan berakibat pada menurunnya tingkat produktivitas secara agregat.

Dalam situasi di mana keadaan sudah terlalu berbahaya, menjadi sangat bisa dimaklumi kalau pemerintah kemudian menutup sebagian kantor atau tempat kerja dan mengurangi tingkat pelayanan kantor. Konsekuensinya menjadi jelas, semakin banyak pembatasan aktivitas di tempat kerja, semakin rendah aktivitas ekonomi.

 
Konsekuensinya menjadi jelas, semakin banyak pembatasan aktivitas di tempat kerja, semakin rendah aktivitas ekonomi.
 
 

Hanya saja di negara seperti Indonesia yang bansosnya relatif kurang memadai dan cenderung salah sasaran, akan selalu ada sebagian masyarakat yang terlalu miskin untuk menganggur. Bahasa kerennya, they are just too poor to be unemployed.

Para buruh yang bekerja di sektor informal dengan penghasilan harian yang sangat menyedihkan pasti tidak bisa menggantungkan nasib keluarga mereka kepada bansos. Mereka harus tetap bekerja dari hari ke hari karena mereka tidak punya pilihan lain.

Kalau diam saja di rumah, mereka akan mati kelaparan. Mungkin saja di antara kita ada yang menganggap mereka sebagai kelompok yang tidak patuh. Tapi bukan itu yang mereka harapkan. Keadaanlah yang memaksa mereka.

Untuk kelompok seperti ini, pastinya pemerintah pusat maupun daerah tidak punya keandalan untuk membantu meringankan beban mereka. Mungkin saja mereka juga tidak tercantum di daftar penerima bansos.

 
Di saat ekonomi sulit seperti setahun terakhir ini, semakin banyak yang tiba-tiba menjadi miskin dan miskin sekali.
 
 

Sudah merupakan rahasia umum, dari tahun ke tahun kita tidak mampu meng-update data tentang siapa yang paling berhak menerima bantuan dari pemerintah. Apalagi di saat ekonomi sulit seperti setahun terakhir ini, semakin banyak yang tiba-tiba menjadi miskin dan miskin sekali.

Untuk kasus seperti ini, tampaknya solidaritas sosial seyogianya menjadi solusi. Orang-orang di lingkungan terdekat, baik secara kekerabatan maupun secara geografis, pada umumnya memiliki kepedulian. Gotong-royong sesama masyarakat mungkin hanya satu-satunya cara yang bisa kita andalkan agar mereka tidak lagi harus menempuh risiko tertular wabah.

Semoga saja semangat kemerdekaan semakin mengentalkan solidaritas sosial di masa pandemi. Mudah-mudahan.


×