Warganet diimbau bersikap dewasa menghadapi dinamika dan provokasi di media sosial. Penistaan agama tidak bisa dibenarkan dengan dalil apapun. | Antara

Laporan Utama

29 Aug 2021, 04:20 WIB

Waspada dengan Provokasi Agama di Medsos

Warganet diimbau bersikap dewasa menghadapi dinamika dan provokasi di media sosial

OLEH IMAS DAMAYANTI

Isu agama menjadi topik yang tak pernah sepi dari media sosial. Faktor keterbukaan membuat banyak warganet yang seolah memiliki kebebasan penuh untuk melontarkan pendapatnya. Padahal, tidak jarang konten yang mereka lontarkan memuat unsur penistaan.

Pemerhati media sosial Ismail Fahmi menjelaskan, kasus penistaan agama yang dilakukan Muhammad Kece dan beberapa kasus lain sebelumnya bermula dari sebuah unggahan lama yang terdapat di sebuah channel Youtube. “Youtube ini berbeda kulturnya dengan Twitter dan lain-lain. Youtube bisa sangat bebas, tapi jika komentar di Youtube itu ditaruh di Twitter, bisa ramai (respons)-nya itu,” kata Fahmi saat dihubungi Republika, Rabu (25/8).

Berdasarkan penelusurannya, terdapat sebuah forum yang di dalamnya terdapat pembahsan agama di media sosial. Di Kristen, contohnya, terdapat forum bernama Apollo Gate yang alurnya mengkritisi agama satu dengan agama lain.

Aktivitas mereka, kata dia, melakukan Zoom dan meeting dengan topik mengenai agama-agama. “Apollo Gate itu mereka bentuknya proses pemikiran dengan logika, harusnya dilakukan tertutup dengan orang yang tahu konteks dan ilmunya. Ini didiskusikan secara terbuka, inilah yang jadi ramai,” kata dia.

Dalam kasus Muhammad Kece, dia menilai video penistaan yang menjadi viral tersebut merupakan video lama yang diunggah sekitar satu tahun lalu. Pada masa awal melakukan unggahan, Muhammad Kece belum menemukan pola algoritma yang tepat dalam mengembangkan kontennya. “Begitu ketemu polanya, ‘meledak’ lah itu video. Jadi ramai ke mana-mana,” kata dia.

Dalam dunia maya, Ismail Fahmi menjelaskan, ada banyak modus dari  sejumlah pihak untuk menggapai tujuan tertentu. Untuk itu, dia mengimbau kepada warganet untuk bersikap dewasa dalam melihat dinamika tersebut.

Apabila warganet melakukan hal ceroboh dalam merespons para penista agama di media sosial, jejak digital tak akan pernah bisa terhapus yang bisa saja di kemudian hari hanya akan merugikan diri sendiri. Karena itu, dia mengimbau warganet untuk menaruh kesadaran penuh tentang hal-hal yang hendak diunggah.

Netizen (warganet) lebih baik berhati-hati, jaga keharmonisan, hindari postingan-postingan yang negatif. Jangan sampai netizen ikut arus,” kata Fahmi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Cari sensasi

Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah Abdul Mukti mengimbau agar masyarakat tidak terpengaruh dengan konten yang disampaikan Muhammad Kece. Menurut dia, Muhammad Kece hanya bagian dari orang-orang yang mencari popularitas dan sensasi demi keuntungan sendiri.

Untuk itu, dia mengingatkan agar masyarakat tidak terprovokasi dan tersulut emosi atas ulah Muhammad Kece. Menurut Mukti, energi masyarakat hanya akan terforsir apabila merespons ulah Muhammad Kece secara berlebihan. Terlebih, kata dia, saat ini kasus penistaan tersebut telah dimasukkan ke dalam tahapan penyidikan.

Sekretaris Jenderal PBNU Hemy Faishal Zaini fenomena penistaan agama di media sosial memang menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Untuk itu pihaknya mendesak apparat kepolisian dan penegak hukum untuk segera memproses kasus tersebut dengan bijak.

Dia menilai, apa yang dilakukan oleh Muhammad Kece adalah tindakan yang berpotensi memecah belah kerukunan umat beragama di Indonesia. “Indonesia ini berbeda-beda namun harus disikapi dengan kebersamaan. Jangan justru perbedaan malah menjadi ajang saling membenci,” kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengajak umat Islam untuk tidak terpancing emosi dalam menanggapi ulah Muhammad Kece. Meski demikian, pihaknya mendesak kepada aparat kepolisian untuk menindaklanjuti Muhammad Kece atas penistaan agama yang telah dilakukan.

“Hubungan umat beragama di Indonesia sedang harmonis. Ibarat susu, gara-gara nila setitik rusak susu sebelangga,” kata dia.

Hentikan Penistaan, Perkuat Persaudaraan

Joseph Paul Zhang dan Muhammad Kece menjadi dua sosok YouTuber yang mendapat kecaman publik akhir-akhir ini. Lontaran pernyataannya dinilai menistakan simbol dan ajaran agama.

Konten-konten yang dibuat juga diduga memuat unsur adu domba antar agama serta memecah belah kerukunan antarumat terutama Muslim dengan Kristiani. Para para tokoh agama pun telah bereaksi mengecam keduanya dan mendorong agar aparat segera memproses hukum. 

Dirjen Bimbingan Masyarakat Kristen Kemenag Prof Thomas Pentury mengatakan, penistaan agama tidak bisa dibenarkan dengan dalil apapun. Ia menyayangkan bila generasi bangsa yang seharusnya bersatu membangun Indonesia justru gampang saling menista dan melecehkan agama lainnya.

Karena itu, perbuatan menista dan melecehkan agama lain tidak boleh dibiarkan terus terjadi di Indonesia. "Kalau ada seorang Kristen yang bertindak sedemikian, kami tegaskan bahwa tindakan tersebut bukanlah sikap warga Kristiani Indonesia yang bertanggung jawab," kata Prof Thomas kepada Republika beberapa waktu lalu.

Menurut dia, semangat moderasi beragama termasuk dalam kekristenan mengisyaratkan pentingnya kesadaran dan tanggung jawab bersama dari seluruh warga kristiani Indonesia. Mereka dituntut untuk lebih berperan aktif dalam memberi warna keindonesiaan yang mendukung pada kemajemukan, persaudaraan, perdamaian dan cinta kasih.

photo
Tangkapan layar video M Kece di Yotube. Penistaan agama tidak bisa dibenarkan dengan dalil apapun. - (Youtube)

"Kepada seluruh umat kristiani Indonesia di manapun berada, saya mengajak kita semuanya untuk janganlah mudah terhasut ataupun ikut memperuncing polemik dan persinggungan antaragama,” kata dia.

Begitu pun diserukan Ketua Umum Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Pendeta Gomar Gultom. Ia menyerukan agar menghentikan segala bentuk penghinaan dan perendahan nilai-nilai, ajaran maupun simbol-simbol agama.

Menurutnya, keyakinan atau pemahaman yang berbeda tetap harus diekspresikan dengan penuh penghormatan. Pendeta Gomar berharap ruang publik diisi dengan sikap saling menghormati dan menghargai. Ia berharap kasus yang menjerat Joseph P Zhang dan M Kece menjadi kasus terkait penistaan agama yang terakhir terjadi di Indonesia. 

photo
Warga melintas di depan mural bertema keanekaragaman budaya di kawasan Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Selasa (17/12/2019). Mural tersebut sebagai media edukasi kepada masyarakat tentang kekayaan budaya serta mengajarkan nilai toleransi keberagaman Indonesia untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/foc. - (MOHAMMAD AYUDHA/ANTARA FOTO)

Sekretaris Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Heribertus berharap, persatuan, persaudaraan, dan kerukunan umat beragama dapat terjalin semakin erat serta tidak tergoyahkan dengan provokasi seperti yang dilakukan Zhang dan Kece.

Romo Heribertus mengatakan ajaran Kristen mengajarkan pentingnya menghargai dan menghormati agama lainnya. Menurut dia, tokoh agama di Indonesia pun telah mencontohkan semangat saling menghargai dan menghormati keyakinan umat agama lain baik dalam perkataan dan perbuatan.

 
Umat jangan terprovokasi, tapi tetap semangat untuk secara bersama-sama semakin mewujudkan persaudaraan insani.
ROMO HERIBERTUS, Sekretaris Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan KWI
 

“Umat jangan terprovokasi, tapi tetap semangat untuk secara bersama-sama semakin mewujudkan persaudaraan insani di tengah perbedaan untuk mewujudkan Indonesia damai, dan hidup berdampingan yang rukun, hormat timbal balik, dan siap bekerja sama untuk kebaikan," kata dia.

Romo Heribertus meminta masyarakat untuk menyerahkan kasus penistaan agama yang dilakukan Kece maupun lainnya ke aparat penegak hukum. Ia berharap kasus penistaan agama yang terjadi akhir-akhir ini dapat menjadi pelajaran dan pengingat bagi setiap orang agar lebih bijaksana dalam berkata dan perbuatan di tengah kebersamaan dalam kehidupan.

"Hendaknya kita semua tetap semangat dan tidak goyah untuk senantiasa membangun kerukunan dan persaudaraan,”jelas dia. 


×