Karyawan menjelaskan salah satu produk mobil kepada calon pembeli di salah satu dealer di Jakarta, Senin (15/2/2021). Pemerintah memberikan keringanan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) mobil baru ketegori 4x2 atau sedan dengan mesin sampai dengan | ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO

Otomotif

26 Aug 2021, 17:47 WIB

Insentif Industri Otomotif Diminta Diperpanjang

Industri otomotif ditantang melakukan inovasi agar dapat menjaga pertumbuhan.

Relaksasi pajak mobil di Indonesia telah berlangsung selama beberapa bulan. Oleh karena itu, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pun melakukan evaluasi soal penerapan pajak penjualan atas barang mewah ditanggung pemerintah (PPnBM DTP) tersebut.

Evaluasi tersebut dilakukan Gaikindo dengan Institute for Strategics Inisiative (ISI) untuk mendalami dampak yang menyeluruh dalam ekosistem industri otomotif. Direktur ISI, Luky Djani, mengatakan, program ini telah terbukti mampu meningkatkan volume penjualan mobil, penyerapan tenaga kerja yang lebih tinggi, dan peningkatan pendapatan rumah tangga serta pendapatan negara.

"Ini sekaligus membuktikan bahwa kebijakan ini telah membantu percepatan pemulihan ekonomi nasional. Kebijakan ini pun telah menjadi game changer di tengah pandemi yang dihadapi Indonesia saat ini," kata Luky dalam webinar yang diselenggarakan Gaikondo, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, evaluasi yang dilakukan oleh ISI memperoleh sejumlah temuan. Misalnya, bukti bahwa kebijakan ini menguntungkan semua pihak, mulai dari masyarakat, industri otomotif dan industri lain yang terkait, pemerintah, serta perekonomian nasional. Hal ini dibuktikan dengan net impact dari perbandingan dampak penjualan mobil saat pandemi dengan ketika adanya program relaksasi.

Selain itu, ISI mengungkap bahwa total pendapatan negara yang diperoleh dengan PPnBM DTP mencapai Rp 5,17 triliun. Angka ini lebih tinggi dari periode sama pada 2020 yang berada pada level Rp 3,3 triliun.

Dengan kata lain, program relaksasi pajak memang memiiliki risiko berupa potensi penerimaan yang hilang (loss). Akan tetapi, kebijakan ini juga memiliki potensi penerimaan negara yang diperoleh (gain).

ISI menggambarkan, potential loss berupa insentif PPnBM DTP yang dimanfaatkan oleh konsumen sebesar Rp 2,3 trilliun. Sedangkan, potential gain berupa pendapatan yang masih dapat dipungut akibat peningkatan penjulan mobil adalah sebesar Rp 5,17 triliun yang berasal dari PPN, PKB, dan BNKB.

Melihat multiplier effect yang tinggi, ISI pun menyarankan, sebaiknya kebijakan ini diperpanjang sehingga bisa memberikan dampak yang lebih masif.

"Industri otomotif merupakan sektor dengan multiplier effect yang tinggi terhadap sektor-sektor yang terkait. Mulai dari sektor hulu, seperti industri komponen mesin, ban, valve, filter, dan lain sebagainya. Sementara itu, pada sektor hilir, produk otomotif telah berdampak terhadap sektor pembiayaan keuangan, alat transportasi, dan lainnya," ucap dia.

Pada kesempatan itu, Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan diskon pajak tersebut. Menurutnya, berkat kebijakan itu, industri otomotif bisa terselamatkan dan bisa kembali mengalami pertumbuhan.

"Pertumbuhan penjualan pun membuat sejumlah industri mulai mencari karyawan baru. Di satu sisi, pertumbuhan penjualan mobil juga dibarengi dengan pendapatan pemerintah yang ikut naik, terutama dari segi pendapatan daerah," kata Nangoi.

photo
Model berpose pada mobil Honda BRV saat test drive pada taman Geopark, Gunung Batur, Kitamani, Bali(28/1). Industri otomotif ditantang melakukan inovasi agar dapat menjaga pertumbuhan. - (Tahta Aidilla/Republika)

Pergerakan positif dari industri otomotif di Indonesia ini pun diyakini membuat para prinsipal pabrikan untuk tetap percaya dengan Indonesia. Ini mengingat beberapa prinsipal telah mewujudkan kepercayaanya dengan memilih Indonesia sebagai salah satu basis produksinya. Hal ini dianggap perlu terus dijaga demi keberlanjutan industri otomotif di dalam negeri.

Sejumlah indikator positif itu pun membuatnya berharap agar relaksasi pajak sebesar 100 persen ini bisa diperpanjang. "Semoga, gambaran soal dampak positif ini bisa membuat pemerintah untuk mempertimbangkan perpanjangan diskon pajak hingga akhir tahun supaya industri otomotif betul-betul mengalami pemulihan dengan optimal," ujarnya.

Total penjualan ritel kendaraan roda empat atau lebih selama periode Januari hingga Juni 2021 mencapai 387.873 unit. Sementara, catatan penjualan tahun lalu pada periode yang sama sebanyak 290.582 unit. Artinya, penjualan pada semester pertama tahun ini naik 33,5 persen.

Sementara itu, sepanjang Juli 2021, total penjualan berada pada level 64 ribu unit. Ini membuat total penjualan sepanjang Januari hingga Juli berada pada kisaran 451 ribu unit. Secara peringkat, posisi pejualan tertinggi ditempati oleh Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi, dan Suzuki.

Dijelaskan, diskon pajak juga memberikan dampak positif bagi industri pembiayaan. Ini mengingat sebagian besar pembelian mobil di Indonesia dilakukan lewat fasilitas pembiayaan dari industri leasing.

 
Diskon pajak juga memberikan dampak positif bagi industri pembiayaan.
 
 

Pada semester satu, Adira Finance membukukan pertumbuhan pembiayaan baru sebesar 17,3 persen. Artinya, pembiayaan baru Adira semester pertama naik menjadi Rp 11,8 triliun.

Pertumbuhan pembiayaan yang dialami oleh Adira juga dirasakan oleh PT Mandiri Utama Finance (MUF). Karena, pembiayaan baru MUF pada semester pertama naik menjadi Rp 4,7 triliun atau naik 17 persen.

Pengamat otomotif Bebin Juana menambahkan, perpanjangan diskon pajak sebesar 100 persen tak perlu dilakukan. Artinya, diskon 100 persen cukup dilakukan hingga bulan ini saja.

"Jika memang bulan depan diskonnya sudah dikurangi, itu merupakan hal yang wajar. Karena, mungkin pemerintah juga harus memperhatikan sektor lain yang perlu mendapat prioritas," kata Bebin.

Ia menilai, pemberian diskon pajak sebesar 100 persen dari Maret hingga Agustus merupakan hal yang patut untuk diapresiasi. Melihat pertumbuhan yang sudah mulai terjadi, bulan depan, sudah saatnya bagi industri otomotif dan konsumen untuk kembali memberi kontribusi pendapatan bagi negara lewat PPnBM.

"Jangan jadikan industri otomotif jadi industri yang terlalu dimanja," ucapnya. Jika memang diskon pajak harus dikurangi, maka industri otomotif pun ditantang untuk melakukan sejumlah inovasi agar tetap dapat menjaga pertumbuhan penjualan.


×