Pekerja mengisi tabung oksigen di pos pengisian di Banda Aceh, Rabu (18/8/2021). Permintaan oksigen melonjak belakangan akibat meningkatnya penularan Covid-19 di wilayah tersebut. | EPA-EFE/HOTLI SIMANJUNTAK
24 Aug 2021, 03:45 WIB

Aceh Hadapi Varian Delta

PPKM dinilai harus terus dilakukan sebab gelombang serangan virus delta belum selesai atau berakhir.

BANDA ACEH -- Pemerintah Provinsi Aceh kini menghadapi varian Delta Covid-19. Dinas Kesehatan Aceh menyatakan, sebanyak 18 kasus varian Delta sudah terdeteksi di wilayah provinsi paling barat Indonesia.

Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan sampel yang dikirim Aceh ke Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan di Jakarta. “Ada 18 kasus Covid-19 varian Delta di Aceh, tapi sampai sekarang kita belum tahu rinciannya di mana saja,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh, dr Iman Murahman, Senin (23/8).

Iman menjelaskan, dalam beberapa waktu terakhir, Balai Litbangkes Aceh telah mengirim sampel usap (swab) dari kabupaten/kota ke Jakarta secara bergelombang untuk dilakukan pemeriksaan whole genom sequencing (WGS). Dari sampel yang dikirim ke Jakarta itu, didapatkan hasil beberapa kasus mutasi Covid-19 varian Delta. Namun, pihaknya belum mendapatkan rincian sebaran varian baru tersebut di daerah Tanah Rencong itu.

Kendati demikian, Iman menilai, di Aceh sudah banyak terlihat warga yang mengalami gejala infeksi Covid-19 varian Delta, terutama di wilayah ibu kota Banda Aceh. Akhir-akhir ini, kata dia, banyak gejala yang dialami warga yang cenderung lebih berat daripada gejala saat terinfeksi virus korona asli dari Kota Wuhan, Cina.

Terkait

Apalagi, kata Iman, tingkat penularan varian Delta itu cukup tinggi, sehingga warga diminta terus meningkatkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan. “Kita sebenarnya harus betul-betul waspada bahwa varian Delta sudah ada di Aceh, dan tingkat penularan tinggi, sehingga kita harus lebih awas agar dapat melindungi diri,” kata dia.

Pada Rabu (18/8), Kepala Balai Litbangkes Aceh Fahmi Ichwansyah mengatakan, Kemenkes telah mendeteksi 11 kasus Covid-19 varian Delta di Aceh. "Kita kirim awal Juli 2021 ke Jakarta ada 123 sampel, jadi mungkin yang sekarang ini ditemukan (varian Delta) hasil dari sequencing awal Juli itu, itu kemungkinan," kata dia.

Sementara, Pakar Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) harus terus dilanjut, dipantau dan dievaluasi. Sebab, gelombang serangan virus Delta belum selesai atau berakhir. 

"Kalau saya lihat masa PPKM ada dampaknya yaitu mencegah skenario terburuk. PPKM juga hanya memperlambat penyebaran virus belum bisa menghentikan. Mayoritas penduduk Jawa dan Bali masih rawan," katanya saat dihubungi Republika, Senin (23/8).

Kemudian, ia melanjutkan PPKM bisa dilanjut dengan adanya pelonggaran. Tapi pelonggaran yang tidak berlebihan atau terukur. Seperti diterapkan semua daerah bisa kembali aktif dalam satu aspek sektor tapi hanya 50 persen. Lalu, hal ini harus dipantau. Jangan ada daerah yang menerapkan 100 persen itu tidak akan saling menunjang.

photo
Sejumlah warga, termasuk mahasiswa, santri dan pelajar antre melakukan tes usap Antigen Covid-19 secara gratis di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Aceh di Banda Aceh, Aceh, Jumat (13/8/2021). - (ANTARA FOTO/Ampelsa/hp.)

"PPKM nya dilanjut tapi levelnya menurun. Dituntaskan dan dibereskan dulu indikatornya. Masih banyak kasus infeksi yang tidak terdeteksi," kata dia. Ia menambahkan PPKM dilonggarkan tapi  3T harus diperkuat. Jika semua ikut dilonggarkan kasus bisa meningkat kembali. Protokol kesehatan (prokes) harus tetap diterapkan dan jangan lupa lakukan vaksinasi.

"WHO menegur indonesia yang semangat melakukan pelonggaran secara berlebihan. Padahal kondisi masih belum pulih dari Covid-19. Pelonggaran harus secara bertahap dan pastinya terukur," kata dia.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mencatat kasus Covid-19 di Indonesia menunjukkan tren penurunan. Namun, berkurangnya kasus Covid-19 di Indonesia belum konsisten.

"Situasi beberapa hari terakhir sebenarnya trennya menurun tetapi belum konsisten. Sebenarnya kami ingin kasus terus turun tetapi kadang masih naik, kadang turun," kata Anggota Sub Bidang Tracing Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, Retno Astri Werdhani, saat mengisi konferensi virtual  BNPB bertema Penyuluhan Protokol Kesehatan kepada Masyarakat Lintas Komunitas di Sulawesi Selatan, Sabtu (21/8).

Retno melanjutkan, apalagi positivity rate Covid-19 Indonesia kini masih di atas 10 persen. Ia mengatakan, Kementerian Kesehatan menargetkan positivity rate bisa ditekan kurang dari 5 persen.

Sumber : Antara


×