Pekerja mengangkat bantuan beras PPKM yang sudah diproses melalui mesin Rice To Rice di salah satu Gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (13/8). | Prayogi/Republika.
21 Aug 2021, 09:26 WIB

Bulog Gencarkan Pemasaran Beras Bervitamin

Masyarakat dapat mengenal produk beras Bulog untuk menjadi alternatif pilihan gaya hidup sehat saat ini.

JAKARTA -- Perum Bulog turut memasarkan produk beras premium bervitamin atau beras fortivit untuk mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan imun masyarakat di masa pandemi Covid-19.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengatakan, pengembangan pasar beras Bulog saat ini juga seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat untuk menjaga kesehatan.

"Situasi pandemi yang masih dihadapi hampir mengubah seluruh tatanan masyarakat baik aktivitas ekonomi, sosial, dan cara hidup. Dalam hal ini untuk meningkatkan gizi masyarakat, Bulog meluncurkan beras fortivit," kata Budi, Jumat (20/8).

Ia menjelaskan, beras fortivit masuk dalam jenis beras premium yang mengandung vitamin B1, B3, B6, B12, asam folat, zat besi, dan seng (Zn). Pihaknya berharap masyarakat dapat mengenal produk beras yang diproduksi oleh Bulog untuk menjadi alternatif pilihan dalam perubahan gaya hidup sehat saat ini.

Terkait

"Hanya dengan nutrisi yang cukup dan memadai masyarakat akan semakin sehat dan tangguh karena beras fortivit mengandung sedikit karbohidrat, tapi kaya kandungan vitamin," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Bisnis Bulog Febby Novianti menyampaikan, Bulog saat ini mulai memperhatikan peningkatan akses konsumsi pangan bergizi seiring dengan situasi pandemi. Pihaknya optimistis, inovasi bisnis Perum Bulog sebagai perusahaan pelat merah dapat membantu pemerintah untuk mengatasi masalah gizi serta imunitas masyarakat yang rendah.

Ia menyampaikan, beras Fortivit sebetulnya sudah mulai dibuat sejak 2019 lalu. Namun, mulai saat ini Bulog akan terus memperluas pasar hingga masuk ke sejumlah toko ritel modern agar lebih mudah dikenal konsumen. Bulog juga menggunakan platform niaga daring dalam memasarkan beras premiun bervitamin tersebut.

"Beberapa daerah juga sudah melakukan kerja sama jadi bagi para ASN menggunakan beras fortivit, ujarnya.

Pengamat kebijakan publik Alamsyah Saragih menilai, Perum Bulog yang awalnya hanya sebagai badan pelaksana penugasan pemerintah untuk penyaluran bantuan beras kini perlu lebih fokus ke arah bisnis komersial. Ia mengatakan, cadangan beras pemerintah (CBP) yang disimpan di gudang Bulog untuk bencana alam dan keperluan stabilisasi harga.

"Namun, di sisi lain bisnis beras secara komersial tidak terlalu berkembang. Itu terlihat dari komposisi di mana hanya sekitar 10 persen bisnis komersial dan 90 persen operasional Bulog untuk menjalankan penugasan," kata Alamsyah.

Direktur Supply Chain Bulog Mokhamad Suyamto mengatakan, situasi penyaluran beras Bulog saat ini memang terus menurun akibat adanya perubahan sistem penyaluran rastra. Ia menyampaikan, pada 2016, Bulog sedikitnya bisa menyalurkan 3,2 juta ton beras setahun dan pada 2017 penyaluran masih mencapai 2,7 juta ton.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Perum BULOG (perum.bulog)

"Ini turun terus sampai akhirnya pada 2019 rastra itu seluruhnya sudah bertransformasi menjadi bantuan pangan nontunai (BPNT) sehingga penyaluran beras Bulog semakin berkurang," kata dia.

Situasi itu, kata dia, menjadi tantangan tersendiri bagi Bulog karena selain harus menjaga pasokan pada rentang 1-1,5 juta ton, juga harus terus menyerap pasokan gabah petani meski ruang penyaluran menyempit. 

"Jadi, CBP sekarang yang ada hanya digunakan untuk bencana alam, stabilisasi harga, kerja sama, dan bantuan internasional. Semua ini sifatnya tidak captive artinya sangat bergantung pada kondisi harga dan keadaan masyarakat," ujar dia.


×