Warga menggunakan atribut merah putih saat menunggu giliran vaksin Covid-19 di SDN 05 Kembang Sepatu, Kramat, Jakarta, Selasa (17/8/2021). Vaksinasi merdeka dengan menggunakan atribut merah putih dilakukan dalam rangka memeriahkan HUT ke-76 sekaligus memp | Republika/Thoudy Badai
20 Aug 2021, 08:12 WIB

Petaka Gelombang Kedua

Jejak pandemi Indonesia adalah hilangnya kesempatan mencegah penyebaran virus sejak dini.

OLEH YUSUF WIBISONODirektur IDEASFAJRI AZHARIPeneliti IDEASMELI TRIANA DEVIPeneliti IDEAS

 

Di awal tahun, pada “Strategi Eliminasi Pandemi”, Republika, 10 Maret 2021, kami telah mengingatkan pemerintah akan risiko penyebaran virus Covid-19 varian baru yang jauh lebih menular, gelombang kedua yang sesungguhnya. Kami telah memperingatkan dengan keras bahwa bergantung hanya pada vaksinasi sebagai jalan keluar dari pandemi adalah pilihan kebijakan yang berisiko tinggi. 

Sejak awal pandemi, Indonesia rentan dengan serangan virus. Fokus kebijakan yang bertumpu pada stabilitas dan pemulihan ekonomi membuat pemerintah terus mendorong mobilitas dan aktivitas masyarakat meski pandemi jauh dari tertanggulangi.

Terkait

Demi kinerja tinggi ekonomi, adopsi new normal terus dipaksakan di tengah 3T (testing, tracing, treatment) oleh pemerintah yang tak kunjung serius dilakukan dan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) oleh masyarakat yang terus melemah. Dan sampailah kita di sini: serangan gelombang kedua.

Dengan memilih fokus ekonomi dibandingkan kesehatan, besarnya korban jiwa akibat pandemi telah diprediksikan sejak awal, implikasi tak terhindarkan dari pilihan kebijakan. Kematian demi kematian selalu menemani di setiap episode pandemi negeri ini, dengan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan.

Pada Maret-November 2020, rata-rata kematian adalah 62 kasus per hari. Pada Desember 2020-Mei 2021, angka ini naik tiga kali lipat menjadi 185 kasus per hari. Dan pada Juni-Juli 2021, di puncak gelombang kedua, angka kematian meroket empat kali lipat menjadi rata-rata 714 kasus per hari. 

Juli Kelabu

Serangan virus varian Delta merebak di Indonesia sejak Juni 2021 dan berpuncak pada Juli 2021. Gelombang kedua menjadi kisah kelabu yang membuka tabir gelap: betapa ringkihnya negeri ini melawan pandemi. Hanya di bulan Juli 2021 saja, terjadi 1,2 juta kasus positif dengan 35 ribu kematian!

Sistem kesehatan nyaris lumpuh, rumah sakit penuh sesak hingga ke lorong dan parkiran, obat dan oksigen sulit didapat, tenaga kesehatan bertumbangan, hingga ambulans antre di pemakaman. Pada Juli 2021, rata-rata kasus aktif mencapai 450 ribu, tiga kali lipat dari puncak gelombang pertama, dan rata-rata BOR (bed occupancy ratio) mencapai 73,8 persen. Angka kematian rata-rata di atas 1.100 kasus per hari!

photo
Prahara Juli Kelabu. Gelombang kedua pandemi dan lonjakan kematian Covid-19, Juli 2021. (IDEAS) - (IDEAS/Dialektika Republika)

Realitas serangan virus varian Delta yang sesungguhnya dapat kita lihat dalam kasus DKI Jakarta, daerah dengan kapasitas 3T terbaik. Pada Juli 2021, rata-rata positivity rate harian menembus 40 persen, jauh di atas ambang 5 persen yang mengindikasikan penularan yang tidak terkendali, dengan rata-rata BOR menembus 82 persen.

Penularan yang tidak terkendali dan tumbangnya sistem kesehatan membuat korban jiwa menjadi sangat besar. Kematian isolasi mandiri dan di luar rumah sakit tercatat lebih dari 1.300, setara 35 persen dari total kematian Covid-19 selama Juli 2021. Kematian karena Covid-19 diduga kuat jauh lebih tinggi dari angka resmi. Total kematian selama Juli 2021 berada di kisaran 3.700 kasus, tapi di waktu yang sama pemakaman dengan protap Covid-19 menembus 8.500 kasus.

Duka lara tampak belum berakhir di Juli 2021. Pada awal Agustus 2021, meski angka penularan telah menurun drastis sebagai hasil adopsi PPKM Darurat dan PPKM Level 4, tapi angka kematian terus tinggi dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Dalam tiga pekan terakhir angka kematian harian konsisten berada di atas 1.000 kasus.

Pada 16 Juli-10 Agustus 2021, rata-rata angka kematian harian menembus 1.500 kasus! Dan angka resmi ini masih konservatif mengingat angka pemakaman dengan protap Covid-19 jauh lebih tinggi, dan banyak kasus kematian Covid-19 di luar rumah sakit yang tidak terdeteksi (underreported).

photo
Bertahan di Tengah Pandemi yang tidak Terkendali. Skala Pengalaman ketidakamanan pandemi (pandemic insecurity experience scale) (Data IDEAS) - (IDEAS/Dialektika Republika)

Duka dan derita yang dialami masyarakat di puncak pandemi yang tak terkendali ini tergambar dalam indikator yang dikembangkan IDEAS: skala pengalaman ketidakamanan pandemi (pandemic insecurity experience scale). Merasa khawatir tertular virus hingga terdampak secara tidak langsung dari puncak gelombang kedua berupa lumpuhnya layanan kesehatan dasar dan non Covid-19, merepresentasikan ketidakamanan pandemi ringan (mild pandemic insecurity).

Lebih jauh, pengalaman terpapar virus dan mengalami positif Covid-19, kemudian kesulitan mendapakan obat, tabung oksigen hingga ditolak rumah sakit sehingga terancam keselamatan dirinya, merepresentasikan ketidakamanan pandemi moderat (moderate pandemic insecurity). Dan terjauh, ketidakamanan pandemi parah (severe pandemic insecurity) terjadi ketika individu telah mengalami kehilangan orang yang dicintainya akibat Covid-19, baik teman dekat, tetangga, kerabat hingga keluarga inti.

Jalan Terjal Herd Immunity

Dengan memilih fokus ekonomi dibandingkan kesehatan, sejak awal Indonesia menggantungkan diri pada vaksin untuk mendapatkan herd immunity dan keluar dari pandemi. Herd immunity (kekebalan kelompok) adalah konsep populer di mana transmisi virus dan pandemi akan terhenti ketika sebagian besar populasi telah mendapatkan imunitas secara alami melalui eksposur ke virus di masa lalu maupun melalui vaksinasi.

Herd immunity melalui vaksinasi massal ke 60-70 persen populasi menawarkan jalan keluar dari pandemi dan kembali ke kehidupan normal. Namun berbagai fakta terkini terkait Covid-19 menunjukkan bahwa ambang batas herd immunity ini terlihat tidak akan pernah bisa dicapai meski kebijakan vaksinasi massal telah diadopsi secara optimal.

Dalam peta jalan awal pemerintah, skenario herd immunity akan diraih dengan vaksinasi massal 181,5 juta orang, yaitu penduduk 18 tahun ke atas setelah dikurangi yang tidak bisa divaksin 7,2 juta orang atau 67,3 persen populasi.

Skenario ini secara jelas menggunakan asumsi yang sangat ketat, yaitu tingkat efikasi vaksin 60 persen dan cakupan vaksinasi 100 persen penduduk usia 18 tahun ke atas. Cakupan 100 persen penduduk dewasa ini tidak akan terpenuhi karena adanya penduduk dewasa yang tidak bisa divaksin.

photo
Varian Baru, Aturan Main Baru. Mutasi virus Covid-19, tantangan vakasinasi dan mimpi herd immunity. (Data IDEAS) - (IDEAS/Dialektika Republika)

Seiring vaksin telah direkomendasikan untuk usia 12-17 tahun, maka diperkirakan penduduk yang harus divaksin akan menembus 200 juta orang. Kendala pasokan dan distribusi dipastikan membuat skenario herd immunity akan sangat sulit tercapai dalam waktu dekat.

Asumsi kunci dari herd immunity adalah transmisi virus terhenti ketika orang yang divaksin atau pernah terinfeksi memiliki imunitas dan tidak akan menyebarkan virus. Herd immunity karenanya hanya relevan jika kita memiliki transmission blocking vaccine.

Meski vaksin sangat membantu mencegah pemburukan kondisi akibat virus, tapi vaksin yang kini tersedia tidak cukup mampu mencegah orang terinfeksi dan menyebarkan virus ke orang lain. Terlebih kini dengan kehadiran virus varian baru yang jauh lebih menular.

Skenario herd immunity pemerintah dengan tingkat efikasi vaksin 60 persen dan cakupan 100 persen populasi dewasa menggunakan asumsi daya penularan virus (R0) 2,5 yang merupakan varian awal di Wuhan. Namun untuk virus dengan daya penularan yang lebih tinggi, kita membutuhkan tingkat efikasi vaksin yang lebih tinggi atau cakupan vaksinasi yang lebih luas.

Dengan R0 = 3,0 saja, tingkat efikasi vaksin 60 persen sudah tidak memadai untuk meraih herd immunity. Terlebih dengan kehadiran varian baru seperti Alpha (R0 = 4,5) dan Delta (R0 = 6,5), kita membutuhkan vaksin dengan efikasi sangat tinggi dan cakupan vaksinasi yang luas.

 
Dengan ketiadaan vaksin yang mampu mencegah transmisi secara efektif, maka satu-satunya meraih herd immunity hanya dengan cara vaksinasi ke seluruh, 100 persen populasi.
 
 

Dengan ketiadaan vaksin yang mampu mencegah transmisi secara efektif, maka satu-satunya meraih herd immunity hanya dengan cara vaksinasi ke seluruh, 100 persen populasi. Selain sangat sulit, jika tidak bisa dikatan utopia, vaksin yang kini tersedia juga umumnya hanya direkomendasikan untuk umur 18 tahun ke atas. 

Andaikan vaksin dapat terdistribusi secara merata, herd immunity tetap sulit tercapai seiring kehadiran virus varian baru yang jauh lebih menular dan resisten terhadap vaksin. Vaksinasi massal secara cepat dan merata akan mencegah peluang munculnya varian baru.

Namun kendala pasokan, harga, dan distribusi, membuat cakupan vaksinasi tidak merata dan sulit mencapai ambang batas minimal untuk herd immunity. Pelaksanaan vaksinasi yang telah berjalan sejak Januari 2021, berjalan lambat di tengah pasokan vaksin impor yang terbatas. Di saat yang sama, pelaksanaan vaksinasi berkejaran waktu dengan penularan virus yang terus tidak terkendali dan serangan varian baru yang lebih menular.

Vaksinasi massal yang jauh dari sempurna akan menciptakan tekanan bagi munculnya varian baru. Kompleksitas mencapai herd immunity ini diperparah dengan fakta bahwa imunitas populasi yang berasal dari vaksin maupun infeksi sebelumnya tidaklah bertahan selamanya. Antibodi yang dihasilkan dari vaksin Sinovac, misalnya, menurun di bawah ambang batas setelah enam bulan.

photo
Urgensi Intervensi Non Farmasi. Pembatasan mobilitas, penularan virus, dan beban RS di Jakarta, Juni-Agustus 2021. (Data IDEAS) - (IDEAS/Dialektika Republika)

Urgensi Strategi Berkelanjutan

Mengendalikan Covid-19 secepatnya adalah krusial bagi negeri dengan populasi 270,2 juta jiwa. Pandemi yang tak terkendali akan mengancam jutaan nyawa anak negeri, sekaligus menciptakan ketidakpastian regional dan bahkan global.

Penyebaran virus yang tidak terkendali, yang ditunjukkan oleh positivity rate yang sangat tinggi, jauh di atas ambang lima persen, adalah lahan subur bagi tumbuhnya varian baru, sebagaimana kemunculan varian Alpha dan Delta. 

Vaksinasi untuk herd immunity dan memutus transmisi virus demi kembali ke kehidupan normal dalam jangka pendek adalah utopia. Namun tidak menutup fakta bahwa ia sangat membantu mencegah fatalitas akibat virus.

Dengan virus yang masih belum akan hilang dalam waktu lama, maka kita membutuhkan akselerasi vaksinasi, terutama ke kelompok usia rentan, untuk mencegah perawatan di rumah sakit dan menurunkan angka kematian akibat Covid-19.

Dengan tertutupnya peluang meraih herd immunity dari vaksinasi massal, maka intervensi non-farmasi akan terus memainkan peranan krusial dalam menekan penularan dan memutus transmisi virus. Intervensi non farmasi skala besar (lockdown) yang dilakukan secara sistematis bersamaan dengan kebijakan containment (testing, tracing, and treatment) yang agresif, terbukti paling efektif menghentikan dan memutus transmisi virus. Karenanya, manfaat kesehatannya jauh melebihi biaya sosial-ekonominya. 

Indonesia menggunakan intervensi non farmasi berupa partial lockdown, yaitu PPKM hanya sekadar untuk menahan laju kasus, menurunkan beban rumah sakit, dan menekan angka kematian pada tingkat yang dapat diterima untuk kemudian melonggarkan kembali restriksi.

Strategi ini tidak bertujuan menghapus pandemi, tapi bergantung pada herd immunity untuk menghentikan pandemi, dengan vaksin menjadi jalan keluar untuk memutus siklus lockdown dan kejatuhan ekonomi. Dengan fakta herd immunity tidak akan bisa diraih melalui vaksinasi, sudah seharusnya strategi ini ditinggalkan.

PPKM Darurat dan PPKM Level 4 yang sesungguhnya hanya merupakan partial lockdown saja, jika diadopsi secara sungguh-sungguh sebagaimana di DKI Jakarta pada puncak gelombang kedua mampu menekan tingkat penularan dan beban rumah sakit secara signifikan. Seharusnya kita tidak berhenti mengeliminasi pandemi hingga ancaman virus benar-benar sudah tidak ada lagi.

Strategi setengah hati melawan pandemi kembali terlihat kini ketika angka kematian harian tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan setelah lebih dari sebulan PPKM Darurat dan PPKM Level 4 diberlakukan. Alih-alih memperbaiki dan meningkatkan testing, tracing, dan treatment agar dapat diperoleh peta “perang melawan virus” yang lebih sahih, pemerintah justru menghapus indikator kematian dalam penentuan intervensi nonfarmasi suatu daerah.

photo
Lalai Jaga Gerbang Negara. Kunjungan wisatawan episentrum andemi dan penyebaran virus. (Data IDEAS) - (IDEAS/Dialektika Republika)

Strategi setengah hati ini hanya meningkatkan respons ketika transmisi virus telah dianggap tinggi menuju tak terkendali untuk mencegah ledakan kasus (flattening the curve) dan mengurangi beban sistem kesehatan, untuk kemudian kembali melonggarkan intervensi. Karenanya, strategi ini tidak memberi titik akhir yang jelas dan rentan dengan serangan wabah berikutnya. 

Pada gilirannya, ketidakpastian yang ditimbulkan dari terus meningkatnya kasus infeksi dan potensi serangan kembali virus, pada akhirnya merugikan hampir seluruh aspek kehidupan yang hingga kini tidak dapat dilakukan secara normal. Dilema antara kesehatan dan ekonomi telah membuat kita terjebak pada siklus infeksi virus berulang dengan kerusakan ekonomi yang semakin masif.

Salah satu pelajaran terpenting dari serangan gelombang kedua adalah urgensi menjaga perbatasan dari pengunjung yang berasal dari episentrum wabah. Restriksi bahkan menutup perbatasan dan melarang perjalanan dari luar wilayah menjadi keharusan untuk menjaga masuknya kembali virus.

 
Salah satu pelajaran terpenting dari serangan gelombang kedua adalah urgensi menjaga perbatasan dari pengunjung yang berasal dari episentrum wabah.
 
 

Pelonggaran restriksi hanya diberikan kepada pengunjung dari negara yang berhasil menanggulangi pandemi. Kontrol perbatasan dan larangan perjalanan dapat dilonggarkan untuk sesama wilayah “zona hijau” yang memungkinkan adanya perjalanan antarnegara dengan pemeriksaan dan karantina yang tidak ketat.

Tidak berkaca pada kasus masuknya virus Covid-19 pertama kali dari Wuhan, Cina, pada Maret 2020, pemerintah kembali mengulang kesalahan yang sama pada kasus serangan gelombang kedua. Virus varian Delta yang merebak di India sejak Maret 2021 dan berpuncak pada Mei 2021, tidak membuat Indonesia menutup pintu perbatasan dari wisatawan India. Hanya berselang sebulan, pada Juni 2021, virus varian Delta merebak di Indonesia dan berpuncak pada Juli 2021.

photo
Sejumlah warga negara asing (WNA) dengan menggunakan baju hazmat memasukkan barang bawaannya ke dalam bus saat hendak menuju tempat karantina setibanya di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (30/1/2021). - (FAUZAN/ANTARA FOTO)

Jejak pandemi Indonesia adalah jejak hilangnya kesempatan untuk mencegah penyebaran virus sejak dini. Terlalu banyak waktu dan kesempatan yang terbuang oleh penyangkalan, kelalaian, dan ketidakpekaan. Jejak pandemi Indonesia adalah jejak kelam hilangnya banyak nyawa, tumbangnya sistem kesehatan nasional dan memburuknya perekonomian.

Saatnya mengakhiri kebebalan ini. Dibutuhkan perubahan kebijakan yang drastis untuk memutus transmisi virus, mencegah ledakan infeksi berikutnya, dan menekan kematian secepatnya. Desperate times ask desperate measures.


×