Melalui buku ini, Gus Mus memaparkan tentang makna kesalehan, yang tidak dikotomis membedakan antara habluminallah dan habluminannas. | DOK PRI

Kitab

17 Aug 2021, 04:45 WIB

Menyelami Makna Saleh

Dalam buku ini, Gus Mus menekankan ketakterpisahan antara saleh ritual dan sosial.

OLEH MUHYIDDIN

 

Dalam kajian tasawuf, hubungan antara Tuhan dan hamba-Nya merupakan topik yang tidak habis-habisnya dibahas. Menurut kaum sufi, derajat tertinggi seorang manusia adalah menjadi hamba Allah yang diridhai-Nya.

Maka dari itu, fokus hidup yang sejati hanyalah menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS al-Fatihah: 5).

Adalah dambaan setiap salik untuk berjumpa dengan Rabb semesta alam dengan hati yang tenteram. Kedamaian itu tidak lain disebabkan cinta dan kasih sayang-Nya kepada hamba yang beriman. Iman yang tidak hanya berhenti pada keyakinan dalam kalbu, tetapi juga diwujudkan melalui ucapan dan perbuatan.

“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS al-Kahf: 110).

Saleh Ritual, Saleh Sosial merupakan sebuah buku yang membahas tema amal saleh secara mendalam. Salah satu karya KH Ahmad Mustofa Bisri itu menelaah makna kesalehan secara holistik. Sosok yang biasa dipanggil Gus Mus ini merupakan seorang kiai asal Rembang, Jawa Tengah.

Pendidikan pertamanya ia tempuh di Sekolah Rakyat selama enam tahun pada 1950-1956. Setelah itu, Gus Mus langsung menimba ilmu di sejumlah pesantren, seperti di Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Krayak Yogyakarta, Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang, dan Al Azhar University Kairo Mesir.

Kini, ia menjadi pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin. Di samping itu, namanya juga dikenal sebagai mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Adapun di wacana kebudayaan, dirinya diakui luas sebagai seorang sastrawan yang telah menghasilkan banyak karya, termasuk dalam tema tasawuf.

Melalui Saleh Ritual, Saleh Sosial, Gus Mus menyuguhkan pemikiran yang menolak oposisi biner antara hubungan hamba dan Tuhannya di satu pihak dan relasi sesama manusia di pihak lain. Dalam arti, ia mengkritik pemisahan antara hubungan vertikal (habluminallah) dan horizontal (habluminannas). Implikasinya, kesalehan pun tidak mungkin terpisah antara saleh ritual di satu pihak dan saleh sosial di pihak lain.

 
Implikasinya, kesalehan pun tidak mungkin terpisah antara saleh ritual di satu pihak dan saleh sosial di pihak lain.
NAMA TOKOH
 

 

Sebab, Gus Mus meyakini, pemikiran dikotomis itu seakan-akan mengaburkan hakikat kesalehan yang dituntut Islam dari hamba-hamba Allah. Yakni, kesalehan muttaqi. Maknanya, hamba yang bertakwa atau insan mukmin yang beramal saleh.

Dengan demikian, seseorang belum mencapai derajat ketakwaan—sebagaimana diperintahkan Allah—bila ia rajin beribadah saja tanpa memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Begitu pula, orang yang gemar berbuat baik dengan lingkungannya tetapi enggan menunaikan kewajiban, beribadah kepada Allah , itu tidak bisa disebut muttaqi. Maka, kesalehan yang ideal mencakup ritual sekaligus sosial.

Saleh Ritual, Saleh Sosial mengajak pembaca untuk menyelami diri sendiri dan kondisi konkret masyarakat. Kebaikan-kebaikan yang dapat digerakkan individu maupun komunal haruslah berangkat dari kesadaran tentang Tuhan. Alhasil, kebajikan yang ada akan lebih luhur. Gus Mus berpandangan, kurangnya kepedulian antarsesama manusia mengindikasikan lunturnya kesalehan secara utuh.

Menurut fitrahnya, setiap manusia akan menyukai kebaikan. Karena itu, perbuatan buruk dengan sendirinya bertolak belakang dengan sifat manusiawi. Pembawaan setiap insan itu lantas diarahkan dengan iman dan Islam agar bermakna, baik di dunia maupun akhirat. Alhasil, kesalehan yang holistik pun menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar.

Buku ini merangkum esai-esai Gus Mus mengenai beragam tema yang mengerucut pada pokok persoalan kesalehan. Di antaranya tentang tauhid, akhlak, kecintaan terhadap Alquran, dan dakwah. Selayaknya seorang sastrawan, uraian terasa tidak lengkap tanpa adanya kisah-kisah. Pelbagai cerita yang dimuat dalam Saleh Ritual, Saleh Sosial mengandung ibrah atau pelajaran hidup.

photo
Ulama KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus (kedua kiri) bersama budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun (kedua kanan) dan Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono (kanan) memberikan ceramah dalam Tabligh Akbar Pilkada Jateng Aman di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Ahad (13/5/2018) malam. Melalui ceramah keagamaan seperti ini Cak Nun dan Gus Mus mengajak masyarakat Jateng untuk terus menjaga perdamaian dan menjauhkan diri dari isu SARA dalam pelaksanaan Pilkada Jateng 2018. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc/18. - (ANTARA FOTO)

Tujuan eksistensi

Karena kebaikan adalah fitrah kemanusiaan, setiap insan pun hendaknya mengetahui dan mengakui tujuan eksistensialnya. Seperti ditegaskan dalam Alquran, Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan agar mereka menyembah hanya kepada-Nya. Dia berfirman, yang artinya, “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin manusia, melainkan agar mereka menyembah-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Namun, menurut Gus Mus, menyembah dan mengabdi kepada Allah tidak hanya dalam laku ibadah, seperti shalat, puasa, dan haji. Pemahaman tentang habluminallah yang tidak sampai kepada kebajikan dalam habluminannas adalah keliru. Menyembah dan mengabdi kepada Allah harus diwujudkan dalam segala lapangan gerak dan langkah hidup kita.

Gus Mus menjelaskan, Allah memang berkenan dan menyediakan shalat sebagai sarana khusus bagi umat Islam untuk menghadap ke hadirat-Nya. Namun, shalat berjamaah pun dinilai-Nya lebih baik daripada yang sendirian. Begitu pula, Dia menyediakan haji sebagai sarana manusia yang beriman untuk sowan sosial-kultural. Yakni, ketika setiap Muslim dari pelbagai penjuru dunia saling berjumpa satu sama lain.

Sayangnya, tidak sedikit dari umat Islam yang membatasi perkara ibadah hanya pada soal-soal ritual. Bahkan, zikir dan bacaan-bacaan di dalamnya seringkali sekadar terluncur dari lisan. Makna zikir itu belum sampai direnungi, apatah lagi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, menurut Gus Mus, tak heran jika shalat yang sesungguhnya bisa mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar, justru tak tampak positifnya dalam kehidupan. Muslim yang sekadar shalat untuk menuntaskan kewajiban tidak sampai pada merenungi hakikat ibadah tersebut. Akhirnya, kesalehan ritual tidak diimbangi, atau bahkan tidak ada berbarengan dengan, kesalehan sosial.

 
Kesalehan ritual tidak diimbangi, atau bahkan tidak ada berbarengan dengan, kesalehan sosial.
 
 

Padahal, menurut Gus Mus, kesalehan dalam Islam hanya satu, yaitu kesalehan muttaqi (hamba yang bertakwa) atau dengan istilah lain, mukmin yang beramal saleh. Kesalehan ritual yang dilakukan manusia semata-mata untuk Allah akan dapat menumbuhkan kesalehan sosial. Sang hamba Allah akan lebih peka terhadap sesama insan dan lingkungan sekitar, sehingga menjadikan dirinya berakhlak mulia.

Dalam bukunya ini Gus Mus juga mengajarkan kejujuran, tawakkal, tawadhu, sabar, menyenangkan orang lain, keteladanan, serta  toleransi. Setidaknya, ada 38 tulisan dari peraih gelar doktor honoris causa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga itu di dalam buku ini. Saleh Ritual, Saleh Sosial sendiri terbagi ke dalam lima subjudul, yaitu “Bercakap dengan Diri”, “Bermunajat kepada Allah”, “Bergaul dengan Sesama”, “Peran Tokoh Masyarakat”, dan “Dinamika".

Dalam bukunya ini, Gus Mus juga mengajak umat Islam untuk selalu bermunajat kepada Allah. Karena, jika Allah mencintai hamba-Nya, maka akan dicintai pula oleh seluruh penghuni langit. Menurut Gus Mus, ada sebuah hadits sahih muttafaq alaih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang menunjukkan seseorang yang dicintai Allah.

Jika diindonesiakan, kira-kira begini bunyi hadits tersebut. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila Allah mencintai hamba-Nya, Dia menyeru malaikat Jibril, ‘Aku mencintai si Fulan, maka kau cintailah dia!’, maka Jibril pun mencintainya dan mengumumkan kepada penghuni langit, ‘Allah mencintai di Fulan, maka kalian cintailah dia!’, maka para penghuni langit pun mencintainya, lalu diturunkanlah penerimaan terhadap si fulan di Bumi.”

Selain itu, buku ini juga menyajikan tulisan-tulisan Gus Mus yang bermodel cerita, baik menceritakan perjalanannya sendiri maupun kisah sahabat nabi. Gus Mus juga menyajikan sebuah tamsil (perumpamaan) yang diberikan sahabat Umat bin Khattab tentang sekelompok orang yang naik perahu mengaruhi lautan, dan etiap orang menempati kapling-nya sendiri di atas perahu itu.

Namun, dari sekelompok orang tersebut tiba-tiba ada seseorang yang mau merusak kapling bagiannya. Dia merasa bebas berbuat apa saja terhadap kapling bagian tersebut. Namun, jika teman-temannya yang lain diam dan membiarkannya, kapal tersebut tentu akan tenggelam dan membahayakan seluruh penumpang.

Menurut Gus Mus, perumpaan dari Umar tersebut mengajarkan betapa pentingnya amar ma’ruf dan nahi munkar dalam kehidupan masyarakat. Menurut Gus Mus, sangat penting untuk menjaga kepentingan bersama dan betapa gawatnya masyarakat yang sepi dari kritikan dan amar ma’ruf nahi mungkar.

photo
Melalui buku ini, Gus Mus memaparkan tentang makna kesalehan, yang tidak dikotomis membedakan antara habluminallah dan habluminannas. - (DOK PRI)

DATA BUKU

Judul : Saleh Ritual, Saleh Sosial

Penulis : KH A Mustofa Bisri

Penerbit : DIVA Press

Tebal : 200 halaman


×