Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

17 Aug 2021, 04:44 WIB

Gerakan Hidup Baru Menjelang Kemerdekaan

Pada Februari 1945, dibahas Gerakan Hidup Baru sebagai bagian dari propaganda Jepang.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Kedatangan Perdana Menteri Jepang Jenderal Tojo di Jakarta membawa angin baru. Setelah kunjungan itu, Jepang mulai melibatkan bangsa Indonesia dalam pemerintahan militernya di Jawa.

Pada 16 Oktober 1943 ada sidang Chuoo Sangi-in (Dewan Pertimbangan Pusat) yang beranggotakan 43 orang. Pada 8 Desember 1943 ada pelantikan tentara Pembela Tanah Air (Peta). Kasman Singodimedjo duduk sebagai komandan batalion.

Pada sidang ketujuh Chuoo Sangi-in, Februari 1945, dibahas Gerakan Hidup Baru sebagai bagian dari propaganda Jepang. Ada 33 butir pedoman, di antaranya, memperkuat semangat perjuangan dan kebaktian, memperkuat keyakinan pasti menang dalam pertempuran apa pun, memperkuat semangat tolong-menolong, memberantas sifat mementingkan diri sendiri, meneguhkan iman dan takwa, menghormati orang tua, membiasakan bangun pagi dan segera bekerja, memuliakan kerja, ikhlas mati untuk agama, bangsa, dan Tanah Air.

Pada Maret 1945, Rosihan Anwar sebagai wartawan mengikuti perjalanan Sukarno, Sudiro, dan H Shimizu ke Pati, Jawa Tengah. Mereka menggembleng semangat rakyat untuk menjalankan Gerakan Hidup Baru.

Pada sidang kedelapan Chuoo Sangi-in pada Juli 1945, tema yang dibahas adalah pertanyaan Panglima Besar Tentara Dai Nippon di Jawa-Madura, berkisar tentang cara menjalankan Gerakan Hidup Baru. Terutama, cara menyempurnakan usaha persiapan kemerdekaan secepat-cepatnya.

Ini merupakan sidang gabungan antara Chuoo Sangi-in dan Dokuritsu Junbi Choosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, BPUPKI) yang didirikan pada 29 April 1945. Badan ini lalu diganti menjadi Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 7 Agustus 1945.

 
Di atas meja tiap anggota ada topi baja mengilap yang dicatat oleh Rosihan sebagai sidang Chuoo Sangi-in di hadapan musuh.
 
 

Ada yang menarik selama sidang. Di atas meja tiap anggota ada topi baja mengilap yang dicatat oleh Rosihan sebagai sidang Chuoo Sangi-in di hadapan musuh. Isi pembicaraan dicatat SK Trimurti sebagai pembicaraan yang hangat ketika membahas bentuk negara. Muncul perdebatan karena ada yang mengusulkan berbentuk kerajaan dan ada pula yang mengusulkan berbentuk republik.

Tiba-tiba, ada orang Jepang yang mendatangi Sukarno sebagai pimpinan sidang dan membisikkan sesuatu. Sukarno kemudian menghentikan perdebatan dan mengatakan bahwa Tokyo tidak membolehkan adanya pembicaraan bentuk negara.

Akibatnya, kalangan muda meninggalkan ruang sidang secara demonstratif. Di antara mereka ada BM Diah, Wikana, Sukarni, Chaerul Saleh, dan SK Trimurti.

SK Trimurti pernah dipenjarakan oleh Jepang karena kegiatan politiknya dan berjanji tidak akan berpolitik lagi setelah dilepas. Ia mengingkarinya, apalagi sayup-sayup ia sering mendengar anak-anak sekolah menyanyikan lagu karya Cornel Simanjuntak:

Sorak-sorak bergembira, bergembira semua

Pasti bebas negeri kita, Indonesia merdeka

Indonesia merdeka, menuju bahagia

Itulah tujuan kita, untuk selama-lamanya

Cornel adalah salah satu seniman yang aktif di Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan). Lembaga yang mulai beroperasi pada 1 April 1943 ini menjadi ajang kaderisasi dari seniman Jepang ke seniman Indonesia. Ada lima bagian di dalamnya, yaitu Kekusastraan; Kesenian, Lukisan, dan Ukiran; Musik/Seni Suara; Sandiwara dan Tari-menari; Film.

Rosihan bercerita, lagu dan syair yang dikeluarkan Pusat Kebudayaan tentu berbau propaganda Jepang. Cornel dan Usmar Ismail pernah membuat lagu berjudul “Asia Bersatu” yang sekarang dikenal dengan judul “Teguh Kukuh Berlapis Baja” dengan syair yang diubah.

Teguh kukuh berlapis baja

Rantai semangat mengikat padu

Tegak benteng Asia Raya

Tengah badai bersatu padu

Berpadu Asia, sumpah yang setia

Semati kita runtuh, sehidup jaya

Karya yang memiliki semangat hidup baru juga dibuat Chairil Anwar berupa puisi berjudul “Semangat”. Anak-anak muda yang aktif di bidang sastra di Pusat Kebudayaan ini, kata Rosihan, menamakan diri sebagai Sastrawan Angkatan Baru. Suatu saat, mereka mengadakan acara Malam Deklamasi. HB Jassin yang dikenal sebagai deklamator yang baik membawakan karya-karya Pujangga Baru.

Sehabis acara deklamasi. Chairil lantas menyatakan puisi-puisi yang dibawakan Jassin sudah usang. Menurut dia, diperlukan puisi-puisi yang mengandung daya hidup dan pandangan baru. Lalu, ia membacakan puisi “Semangat”, sebagai contoh, yaitu puisi yang ia buat pada Maret 1943. Sekarang, puisi itu dikenal dengan judul “Aku”.

Majalah Djawa Baroe merupakan tempat menampung karya-karya propagandis. Majalah dwimingguan ini berada di bawah koordinasi Djawa Shinbunkai (Perusahaan Koran Djawa), sebuah biro yang ada di Sendenbu (Departemen Propaganda)–departemen yang dibentuk Jepang pada1942.

Di bawah Departemen Propaganda ini ada pula Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (PSOD). Selain majalah Djawa Baroe, ada juga kantor berita Domei, dan koran Asia Raja. Di Asia Raja ini ada Soekardjo Wirjopranoto sebagai pemimpin umum. Ada pula RM Winarno, BM Diah, Soemanang, Anwar Tjokroaminoto, Asmara Hadi, Rosihan Anwar.

Puisi HB Jassin yang berjudul “Perbaharoean Tekad” pernah muncul di Asia Raja, yaitu pada 7 Juli 1945. Puisi ini juga sejiwa dengan Gerakan Hidup Baru:

Demikianlah hidup di dunia

Saling membantu bahagia-membahagiakan

Ya Tuhan, kembalilah tenaga, kuatlah sayapku

Aku ingin turut berbakti

Menurut Rosihan, anak-anak muda di Pusat Kebudayaan kebanyakan adalah seniman yang tak mau patuh mentah-mentah kepada Jepang. Rosihan, wartawan yang rajin ke Pusat Kebudayaan, bersama Usmar Ismail membentuk kelompok sandiwara amatir di luar lingkungan Pusat Kebudayaan.

Namanya Maya, Rosihan menjadi ketuanya, tetapi motor penggerak Maya adalah Usmar Ismail bersama kakaknya, dokter Abu Hanifah.


×