ILUSTRASI Psikologi pada zaman kini terpengaruh perkembangan wacana ilmu di Barat yang menjurus ke sekulerisasi dan positivisme. | DOK WIKIPEDIA

Tema Utama

15 Aug 2021, 08:05 WIB

Perspektif tentang Jiwa, dari Plato Hingga Konsep Islam

Paradigma Islam mengaitkan jiwa manusia dengan keadaannya sebagai makhluk Allah.

 

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Selama ratusan tahun, Islam mencapai kegemilangan. Banyak sarjana Muslim merintis rupa-rupa disiplin keilmuan, termasuk ilmu jiwa. Pelbagai kajian mereka terasa masih relevan hingga kini.

Sejak dahulu kala, banyak pemikir mengajukan beragam interpretasi mengenai manusia. Salah satu tafsiran yang paling sering dijumpai ialah, semua insan terdiri atas jiwa dan raga.

Filsuf Yunani Kuno, Plato, termasuk yang paling awal mengajukan konsep dualisme tersebut. Tokoh yang hidup pada abad keempat sebelum Masehi (SM) itu memandang, jiwa dan raga bergabung dalam persekutuan yang tidak bahagia.

Raga diibaratkannya sebagai “penjara”, sementara jiwa mendamba untuk kembali ke asalnya. Jiwa bersifat abadi dan transenden serta memiliki pengetahuan bawaan (idea) sejak lahir. Adapun jasad selalu temporal dan profan.

Murid Plato, Aristoteles, menekankan keunikan jiwa manusia dibandingkan makhluk-makhluk hidup lainnya. Tanaman hanya memiliki jiwa nutrisi, sedangkan binatang berjiwa nutrisi sekaligus persepsi. Manusia tidak hanya mempunyai jiwa keduanya, melainkan juga pikiran.

Bahkan, menurut Aristoteles, esensi jiwa manusia adalah penalaran. Karena itulah, guru Aleksander Agung itu mendefinisikan manusia sebagai “hewan yang berpikir" (animal rationale).

 
Aristoteles menekankan keunikan jiwa manusia dibandingkan makhluk-makhluk hidup lainnya.
 
 

 

Para pemikir Barat abad modern pun tidak kurang antusiasnya dalam merumuskan pengertian tentang manusia. Sebagai contoh, Karl Marx (1818-1883) yang menilai manusia hanya dikendalikan oleh aspek kebendaan (materiil). Ia menekankan, esensi manusia adalah totalitas hubungan sosial mereka.

Maka dari itu, kesadaran manusia dibentuk oleh keadaan sosialnya, bukan sebaliknya. Lebih khusus lagi, kondisi produksi-material atau ekonomilah yang menentukan kesadaran manusia di sepanjang sejarah.

photo
Patung yang menggambarkan wajah Plato, filsuf Yunani Kuno. Menurut Pluto, jiwa dan raga bergabung dalam persekutuan yang tidak bahagia. - (DOK Wikipedia)

Pemikir Barat lainnya, Sigmund Freud (1856-1939), berpendapat, manusia merupakan suatu sistem yang terisolasi dan didorong oleh dua impuls, yakni insting untuk bertahan hidup dan merasakan kenikmatan. Untuk mewujudkan kedua dorongan tersebut, manusia menggunakan tiga struktur kepribadian dalam dirinya, yakni id, ego, dan superego.

Dari ketiganya, id menjadi sumber tingkah laku manusia. Tujuannya adalah meraih kepuasan dengan cara menghilangkan atau mengurangi ketegangan-ketegangan yang ada. Pada tubuh manusia, sumber ketegangan itu dilokalisasi dalam zona-zona yang membangkitkan hasrat seksual (erogenous). Salah satunya adalah alat kelamin.

 
Pemikiran Barat sejak zaman kuno mengenai manusia bersandar pada konsep dualisme, yakni sekurang-kurangnya antara jiwa dan raga.
 
 

 

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa pemikiran Barat sejak zaman kuno mengenai manusia bersandar pada konsep dualisme, yakni sekurang-kurangnya antara jiwa dan raga. Namun, gagasan itu pada akhirnya dijelaskan dengan paradigma sekulerisme belaka.

Alhasil, pembicaraan tentang Tuhan tidak dianggap relevan untuk mendiskusikan tentang apa itu dan bagaimana menjadi manusia. Marx, misalnya, bersikukuh mempertahankan materialisme sehingga menolak signifikansi ide. Baginya, manusia-lah yang menciptakan Tuhan, bukan sebaliknya. Adapun Freud menganggap, agama sebagai bentuk gangguan jiwa.

Sementara itu, Islam menyajikan definisi yang tuntas tentang manusia. Seluruh insan diciptakan dengan tujuan utama, yakni menyembah hanya kepada Allah SWT (QS adz-Dzariyat: 56). Alquran sebagai sumber ajaran agama ini menyebutkan manusia dengan terminologi yang berbeda-beda.

 
Alquran sebagai sumber ajaran Islam menyebutkan manusia dengan terminologi yang berbeda-beda.
 
 

 

Istilah basyar disebut 35 kali dalam bentuk mufrad dan sekali dalam bentuk mutsanna. Sebutan al-ins sebanyak 18 kali. Al-insan, 65 kali. An-nas, 240 kali. Bani Adam, tujuh kali. Terakhir, dzuriyah Adam sebanyak satu kali.

Seperti dijabarkan Prof Yunahar Ilyas dalam bukunya, Tipologi Manusia Menurut Al-Qur’an (2007, Labda Press), kata basyar dapat diartikan sebagai 'penampakan sesuatu dengan baik dan indah'. Sebutan basyar mengindikasikan manusia sebagai makhluk biologis yang memerlukan makanan, minuman, dan sebagainya. Dalam pengertian ini, tidak ada perbedaan, misalnya, antara manusia baik dan buruk karena penilaiannya sebatas fisik saja.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Alquran mengisahkan beberapa kaum yang menolak dakwah tauhid. Sebab, mereka menilai para nabi dan rasul Allah itu hanyalah basyar, sama seperti mereka. Iblis pun, tatkala menolak bersujud kepada Nabi Adam AS, menggunakan kata basyar untuk merujuk makna ‘manusia'. “Qaala lam akulliasjuda li-basyarin,” ‘Ia (Iblis) berkata, ‘Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia’." (QS al-Hijr: 33).

Istilah al-ins dipakai di dalam Alquran untuk menunjuk pada sifat manusia sebagai makhluk yang jinak atau beradab. Karakteristik itu berkebalikan daripada jin, yakni makhluk yang cenderung liar dan bebas—bergerak dari satu ruang ke ruang lain, umpamanya, tanpa kendala jarak sebagaimana mobilitas manusia.

Yunahar menduga, itulah sebabnya kata al-ins kerap disebut berbarengan dengan al-jin di dalam Kitabullah, yakni untuk menunjukkan pasangan oposisi biner. Sebagai contoh, surah az-Zariyat ayat ke-56, “Wamaa khalaqtul jinna wa al-insa illaa liya’buduun,” ‘Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.’

 
Bila memakai istilah al-insan, berarti Alquran sedang menunjuk pada manusia sebagai totalitas jiwa dan raga.
 
 

 

Adapun al-insan memang sekilas tidak berbeda dari al-ins. Namun, lanjut Yunahar, makna keduanya berbeda. Al-insan merujuk kepada definisi manusia sebagai makhluk yang layak menjadi khalifah di bumi.

Manusia disebut sebagai al-insan karena tidak hanya dibekali oleh-Tuhan dengan aspek-aspek yang tampak (empiris), tetapi juga nonempiris, khususnya akal dan hati. Bila memakai istilah al-insan, berarti Alquran sedang menunjuk pada manusia sebagai totalitas jiwa dan raga.

Sebagai contoh, surah al-Alaq ayat 1-2, yang artinya, "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia (al-insan) dari segumpal darah."

Signifikansi jiwa

Islam melihat kedirian manusia dalam konsep dualisme. Akan tetapi, tidak seperti paradigma Barat-sekuler, konsep demikian dikaitkan dengan status manusia itu sendiri sebagai salah satu ciptaan Allah. Dan, ajaran agama ini mengutamakan aspek jiwa daripada raga untuk menjelaskan kedudukan manusia, baik dalam penilaian Tuhan maupun sesama insan.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menerangkan bahwa Allah tidak melihat penampilan atau harta seseorang, melainkan hati (qalb) orang itu. Beliau juga pernah bersabda, “Ingatlah! Di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah qalb” (HR Bukhari-Muslim).

Sejatinya, qalb adalah wajah lain dari jiwa (nafs). Menurut Prof Hamid Fahmy Zarkasyi dalam tulisannya yang berjudul “Nafs” (2009), para ulama menemukan tujuh tingkatan nafs, sebagaimana dijelaskan Alquran.

Pertama, nafs al-ammarah bi al-su’, nafsu pendorong kejahatan. Ini adalah tingkat jiwa yang paling rendah dan, karenanya, mesti dilawan.

Kedua, nafs allawwamah. Ini berarti tingkat kesadaran awal dari jiwa untuk melawan dorongan yang terendah tadi. Nafs tersebut menyadari kelemahannya sehingga berkehendak untuk kembali kepada kemurniannya. Jika dorongan itu berhasil, kesadaran-seseorang akan mencapai tingkatan jiwa yang ketiga, yaitu nafs al-mulhamah, jiwa yang terilhami.

photo
Seorang jamaah berdoa usai mengikuti shalat taraweh di Masjid Nuurusysyifaa’ Sunter Jaya, Jakarta Utara, Senin (12/4/2021) malam. Islam mengutamakan aspek jiwa daripada raga untuk menjelaskan kedudukan manusia, baik dalam penilaian Tuhan maupun sesama insan. Foto: darmawan / republika - (REPUBLIKA)

Prof Hamid mengatakan, ini adalah tingkat jiwa yang memiliki dorongan untuk lebih selektif lagi dalam menyerap prinsip-prinsip. Ketika nafs ini merasa terpuruk dalam kenistiaan, ia akan terilhami untuk segera meluruskan niat dan memperbaiki perbuatannya.

Keempat, nafs al-mutma’innah, jiwa yang tenang. Disebut tenteram karena keimanan telah menetap kokoh di dalam jiwanya. Berkebalikan dengan id dalam terminologi Freudian, nafs ini tidak mendorong subjek untuk menomorsatukan kenikmatan jasmani atau materiil.

Kelima, nafs ar-radhiyah, jiwa yang ridha. Munculnya rasa ikhlas adalah ciri utama jiwa tersebut. Dorongannya untuk bergantung hanya kepada Allah begitu besar.

Keenam, nafs al-mardhiyyah, jiwa yang berbahagia. Akhirnya, seseorang memiliki jiwa yang tulus murni, nafs as-safiyah.

Guru besar ilmu filsafat itu menjelaskan, pemilik jiwa tersebut adalah manusia yang sempurna, insan kamil. Kesempurnaan itu tercapai karena insan tersebut memasrahkan diri seutuhnya kepada Allah Ta’ala dan memperoleh petunjuk-Nya. “Jiwanya sejalan dengan kehendak-Nya. Perilakunya keluar dari nuraninya yang paling dalam dan tenang,” tulis Rektor Universitas Darussalam Gontor itu.

 
Dalam sejarah Islam, ilmu tentang jiwa berkenaan pula dengan ilmu kedokteran. Hasilnya adalah ilmu kesehatan jiwa.
 
 

 

Dalam sejarah Islam, ilmu tentang jiwa berkenaan pula dengan ilmu kedokteran. Hasilnya adalah ilmu kesehatan jiwa (thibb ar-ruhani). Metodenya dikenal sebagai al-ilaj an-nafs yang bisa dikatakan sebagai pionir psikoterapi modern. Salah seorang tokohnya ialah Abu Zaid Ahmad bin Sahl al-Balkhi (850-934 M).

Sarjana Muslim asal Persia itu menggagas teori bahwa penyakit empiris-jasmani yang terdeteksi pada diri seseorang berkaitan pula dengan keadaan jiwanya. Sebab, manusia terdiri atas dualitas yang tak terpisahkan satu sama lain: raga dan jiwa.

Artinya, situasi sehat adalah ketika keduanya saling serasi dan mendukung. Apabila badan sakit, jiwa pun tidak akan tenteram. Sebaliknya, jika jiwa sakit, badan pun tidak akan dapat merasakan kesenangan hidup.

photo
Guru mengajar senam secara virtual di SD Yasporbi I Pancoran, Jakarta, Selasa (14/7/2020). Situasi sehat adalah ketika jiwa dan raga saling serasi dan mendukung. - (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Thibb ar-ruhani merupakan sebuah istilah yang dikenalkan Abu Zaid al-Balkhi melalui karyanya, Masalih al-Abdan wa al-Anfus. Menurut al-Balkhi, pengobatan yang hanya berfokus pada kondisi fisik pasien tidaklah cukup. Seorang dokter pun perlu memperhatikan aspek mental atau kejiwaan pasien tersebut.

Dalam masa sekarang, topik yang diusung sang cendekiawan Muslim itu kerap disebut sebagai psikosomatis. Ini merupakan kondisi ketika suatu penyakit fisik yang muncul diduga disebabkan atau diperparah oleh kondisi mental seseorang. Di antara gejala-gejala psikosomatis adalah jantung yang berdebar-debar, sesak napas, dan nyeri pada seluruh tubuh.


×