Aisyah Alusa (10), seorang pasien Covid-19 yang terpapar dari ibunya berada di Rumah Lawan Covid Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (19/1/2021). Aisyah Alusa merupakan seorang anak yang kini hidup sendiri dan yatim piatu karena kedua orang tuanya | MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO

Tuntunan

15 Aug 2021, 03:39 WIB

Menyayangi Anak Yatim

Kata yatim bahkan disebutkan 23 kali oleh Allah SWT dengan berbagai bentuk perubahan kata.

OLEH A SYALABY ICHSAN

 

Apakah kamu mau saya jadi bapakmu, Aisyah jadi ibumu, Fatimah jadi saudara perempuanmu, Ali jadi pamanmu, Hasan dan Husain jadi saudara lelakimu?

Momentum Muharam ini sudah selayaknya kita dedikasikan untuk anak yatim. Mereka yang kehilangan orang tua akibat Pandemi Covid-19. Jumlahnya tidak sedikit.

Menurut data Kementerian Sosial, ada 11.045 anak yang kehilangan ayah atau ibu bahkan ditinggal wafat oleh keduanya karena pandemi. Sementara, KawalCovid19 memprediksi lebih tinggi, yakni ada sekitar 50 ribu anak yatim piatu disebabkan virus mematikan itu. 

Siapa sebenarnya yang dimaksud anak yatim itu? Prof Dr Hasanuddin AF mengungkapkan, secara etimologis, istilah yatim merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yakni yutma-yatama-yatma yang berarti infirad (kesendirian). Yatim merupakan isim fa’il (menunjukkan pelaku). Jamaknya yatama atau aitam

Karena itu, Prof Hasanuddin mengungkapkan, anak yatim merupakan anak di bawah umur yang kehilangan ayah yang notabene bertanggung jawab membiayai hidup dan pendidikannya. Dia belum baligh dan bisa jadi dia orang kaya atau sebaliknya orang miskin. Dia bisa saja lelaki atau perempuan. 

Alquran mengajarkan kita untuk senantiasa menyayangi anak yatim. Kata yatim bahkan disebutkan sebanyak 23 kali oleh Allah SWT dengan berbagai bentuk tashrif (perubahan kata).

 
Alquran mengajarkan kita untuk senantiasa menyayangi anak yatim.
 
 

Dalam QS ad-Dhuha ayat 6-8, Allah SWT berfirman: "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi (mu). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."

Menjadi yatim, fakir, dan tidak tahu arah (bingung) merupakan posisi yang disandang Rasulullah SAW sebelum menerima wahyu. Ayat berikutnya lalu menyadarkan kepada kita jikalau yatim harus mendapat perlindungan. “Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS ad-Dhuha ayat 9). 

photo
Iona Annora Nurani Anindia (11), seorang yatim piatu akibat Covid-19 didampingi kerabatnya di Jagiran Gang I, Tambaksari, Surabaya, Kamis (5/8/2021). - (Istimewa)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, ayat ini seolah berbicara kepada Rasulullah sebagaimana kamu dulu seorang yatim, lalu Allah melindungi maka janganlah engkau sewenang-wenang kepada anak yatim. Jangan kamu menghinanya, merendahkannya, dan menghardiknya. Namun, berbuat baik kepadanya dan lembutlah kepadanya.

Qatadah berkata bahwa makna ayat Fa ammal yatima falaa taqharu, yakni jadilah seperti ayah yang pengasih kepada anak yatim. Tidak heran jika sebagai Muslim, kita dilarang keras untuk berlaku sewenang-wenang kepada anak yatim. 

Rasulullah SAW adalah ayah dari si yatim. Kedekatan baginda dengan mereka bahkan diibaratkan sebagai telunjuk dengan jari tengah. Salah satu kisah populer diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik mengenai betapa Rasulullah amat sayang kepada anak yatim.

 
Mari kita menjadi ayah sekaligus sahabat-sahabat baru bagi anak yatim. Senyum mereka adalah kemuliaan kita.
 
 

Syahdan, beliau menemukan seorang anak yang berdiri menangis saat pelaksanaan Idul Fitri. Padahal, anak-anak sebayanya sedang asyik bermain. 

Beliau pun bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai anak?” Anak itu menjawab — dia tidak tahu yang bertanya itu Nabi SAW — “Doakanlah aku wahai tuan! Bapakku wafat dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah SAW. Ibuku menikah dengan orang lain. Mereka mengambil rumahku dan memakan hartaku. Jadilah aku seperti yang engkau lihat. Telanjang, kelaparan, sedih, dan hina. Ketika hari Id, aku melihat teman sebayaku bermain, aku jadi bertambah sedih. Lalu aku menangis.” 

Rasulullah pun memberi penawaran berharga kepada si yatim ini. “Apakah kamu mau saya jadi bapakmu, Aisyah jadi ibumu, Fatimah jadi saudara perempuanmu, Ali jadi pamanmu, Hasan dan Husain jadi saudara lelakimu?” Anak yang sadar jika lelaki itu Rasulullah langsung berkata, “Bagaimana aku tidak mau wahai Rasulullah?” Segera Rasulullah mengambil anak itu dan membawa ke rumahnya. Anak itu pun disuruh berdiri dan diberi pakaian. 

Wasiat Rasulullah tersebut sudah seharusnya menjadi pedoman kita dalam memperlakukan anak yatim, terlebih pada masa sulit seperti sekarang ini. Meski kondisi kita juga masih didera kesusahan, sedikit sedekah walau hanya segenggam roti dan segelas air akan menjadi pelipur lara. Mereka butuh teman di tengah kesendirian.

Untuk itu, mari kita menjadi ayah sekaligus sahabat-sahabat baru bagi mereka. Senyum mereka adalah kemuliaan kita.

Wallahu a’lam.


×