Presiden Joko Widodo meninjau sejumlah fasilitas usai meresmikan Rumah Sakit Modular Pertamina di Jakarta, Jumat (6/8/2021). Penuhnya IGD di rumah sakit di luar Jawa terjadi karena konversi tempat tidur yang kurang cepat. | ANTARA FOTO/Biro Pers Setpres/Muchlis Jr

Nasional

09 Aug 2021, 03:45 WIB

Keterisian Rumah Sakit Menurun Tipis

Penuhnya IGD di rumah sakit di luar Jawa terjadi karena konversi tempat tidur yang kurang cepat.

JAKARTA -- Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) mencatat keterisian tempat tidur (BOR) rumah sakit (RS) yang menangani Covid-19 di Tanah Air menunjukkan penurunan. Namun, penurunan BOR, baik ruang perawatan maupun intensif (ICU) masih di atas standar organisasi kesehatan dunia PBB (WHO).

Sekretaris Jenderal Persi Lia G Partakusuma mencatat, hingga per 4 Agustus, BOR tempat tidur secara nasional sebesar 56,81 persen per 4 Agustus. Sementara BOR di ICU 67,8 persen. "Sedangkan WHO mensyaratkan keterisian pasien di bawah 60 persen. Jadi, belum turun banget, masih tipis-tipis," katanya kepada Republika, Ahad (8/8).

Ia menambahkan, penurunan kasus Covid-19 di Jawa-Bali memang terasa dua pekan terakhir. Bahkan, tenda yang sempat di dirikan diluar bangunan rumah sakit kini diangkat dan semua pasien dirawat di dalam rumah sakit.

Kendati demikian, pihaknya mencatat pasien Covid-19 masih tetap harus menunggu di ruang IGD karena BOR di ruang ICU masih tinggi, terutama di luar Jawa. Bahkan, pihaknya mencatat BOR di Sumatra Utara sudah 100 persen karena jumlah tempat tidur sedikit, kemudian di Sumatra Barat 94 persen.

Menurut dia, penuhnya IGD di rumah sakit di luar Jawa ini terjadi karena konversi tempat tidur yang kurang cepat. "Mungkin fasilitas kesehatannya tidak sebesar di Jawa. Kalau rumah sakit di Jawa kan semua ikut bergerak cepat, termasuk rumah sakit swasta. Sedangkan rumah sakit di luar Jawa belum seaktif di Jawa," ujarnya.

photo
Sejumlah tenaga medis menaikkan seorang pasien ke atas ambulance di Intalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Undata, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (7/8/2021). - (ANTARA FOTO/Basri Marzuki/foc.)

Meski kasus Covid-19 nasional menurun, ia berharap penerapan PPKM Level 3 dan Level 4 diperpanjang sampai positivity rate bisa ditekan hinga di bawah 10 persen. Saat ini, kata dia, positivity rate masih sekitar 26 persen.

DI DKI Jakarta, BOR di 140 rumah sakit rujukan Covid-19 dilaporkan terus menurun. Sempat tercatat 90 persen lebih pada pertengahan Juli, BOR di Jakarta berada di angka 42 persen.

"Alhamdulillah BOR atau okupansi keterpakaian tempat tidur sebanyak 4.409. Terjadi penurunan menjadi 42 persen," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria di Jakarta, Ahad (8/8). 

Sedangkan tempat tidur ICU yang digunakan, lanjut Ariza, sebanyak 1.198. Persentasenya turun menjadi 63 persen. "Mudah-mudahan ini pertanda baik di DKI Jakarta (BOR) makin turun," katanya.

Terkait penerapan PPKM Level 4 yang semestinya berakhir Senin (9/8), Pemprov DKI masih menunggu keputusan pemerintah pusat. Kendati demikian, Ariza mengaku sudah membahas semua kemungkinan dengan pemerintah pusat, termasuk kemungkinan penurunan level PPKM. Pihaknya juga menyampaikan soal penurunan kasus dan keterisian tempat tidur di Jakarta.

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie optimistis PPKM di wilayahnya bisa turun ke level 3, seiring dengan angka statistik Covid-19 yang membaik. “Mudah-mudahan kita ada penurunan level. Level 3 itu banyak pelonggaran pastinya,” ujar Benyamin, Ahad. 

Dia menjelaskan, sejumlah data terkait perkembangan Covid-19 di Kota Tangsel mengalami perbaikan. Tingkat BOR ruang isolasi pasien Covid-19 per Jumat (6/8) bergerak di anga 53 persen. Adapun BOR ICU berada di angka 85 persen. Angka tersebut turun dari sebelumnya yang sempat mencapai 90 persen.   ';

×