Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberikan pengarahan pada acara penetapan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang didukung dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020 di DPP PDI Perjuangan, Menteng, Jakarta, Rabu (19/2 | Republika/Putra M. Akbar
05 Aug 2021, 03:45 WIB

Megawati: Saya Capek jadi Ketua PDIP

Setelah tak menjadi presiden, Mega masih dipercaya menjadi ketua umum partai.

OLEH NAWIR ARSYAD AKBAR

Megawati Soekarnoputri mengaku sudah lelah menjadi ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Hal tersebut disampaikannya dalam pidato pembukaan Pelatihan Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami yang digelar secara daring.

"Coba tanya saja anak buah saya, opo kok ngangkat saya mulu. Saya sendiri apa dipikir tidak capek? Ya capek lah," ujar Megawati, Rabu (4/8).

Ia mengaku siap jika tak lagi memimpin PDIP. Apabila para kader partai berlambang banteng itu sudah ikhlas tidak memerlukannya di pucuk pimpinan. Meskipun salah satu alasan kenapa masih dipercaya menjadi ketua umum karena ia bersemangat menjalankan tugas.

Terkait

"Tapi kalau sudah melihat begitu anak-anak benar ikhlas enggak perlu saya, ya sayanya yo uwis," ujar Megawati.

Dalam kesempatan itu, Megawati pun mengenang ketika dirinya menjadi Presiden RI. Ia mengaku terbelenggu ketika menjadi presiden. Sebab, posisi tersebut mengharuskannya untuk dapat menata tutur kata dan pernyataannya.

"Saya rasa terbelenggu ketika jadi wapres, presiden, saya harus menata cara bicara saya," ujar Megawati.

Hal tersebut diakuinya sulit dilakukan, karena Megawati menilai dirinya sebagai orang yang berbicara apa adanya. Khususnya di hadapan kader partai berlambang kepala banteng itu.

"Saya suka merasakan, ini kadang-kadang kok tujuannya katakan ke sana, kok saya mesti belok-belok supaya sepertinya perkataaan itu menjadi manis," ujar Megawati.

photo
Presiden Indonesia ke-5 Prof Dr (HC) Megawati Soekarnoputri saat mengikuti Rapat Senat Terbuka dalam rangka Pengukuhan Guru Besar di Aula Merah Putih, Universitas Pertahanan, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/6/2021). - (ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA)

Setelah tak lagi menjadi presiden, ia mengaku masih dipercaya untuk menjadi ketua umum partai. Saat menempati posisi tersebut, ia sering diminta untuk membagikan wawasannya mengenai masalah bencana alam maupun konflik.

"Saya ini orang yang senang guyon sama diri sendiri. Saya bilang sama diri saya sendiri, lama-lama kok saya jadi konsultan ya, konsultan yang namanya bencana ya," ujar Megawati.

Terkait tema utama acara tersebut, Megawati meminta kepada seluruh kader untuk terus menerapkan pelatihan mitigasi bencana. Menurutnya, tindakan pascabencana merupakan hal yang tak bisa diabaikan, terutama bagi masyarakat Indonesia.

"Mohon maaf, dari bagian keamanan dan pertahanan Republik ini, kalau buat saya kan kurang sekali ada pelatihan. Ya TNI, ya Polri, ya Basarnas, ya BNPB," ujar Megawati.

Presiden kelima RI itu pun heran dengan masih sedikitnya kegiatan pelatihan untuk penanganan bencana. Menurutnya, hal tersebut dapat disampaikan kepada DPR agar pelatihan serupa dapat hadir.

"Tolong kalian yang sebagai pemimpin, saya sangat perlu dalam persoalan bencana ini adalah pemimpin lapangan," ujar Megawati.

Megawati juga mengaku pernah mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo terkait hal-hal yang berkaitan dengan penanganan bencana alam. Menurutnya, status darurat dan penanganannya tak hanya disematkan saat pandemi Covid-19.

"Saya bicara ke presiden, 'Bapak ngomong new normal akibat pandemi ini. Saya kira kita juga akan masuk ke dalam sebuah tatanan new normal' antara lain bidang apa? Ya mengikuti bencana-bencana ini," ujar Megawati.

Jokowi, kata Megawati, terpingkal-pingkal ketika ia menyampaikan hal tersebut. Namun menurutnya, harus ada semakin banyak elite dan pemimpin di Indonesia yang bicara soal pentingnya kesiapan menghadapi bencana.

"Kayaknya yang mau ngomong bencana kok kayaknya susah banget. Ini pun saya ceritakan ke Pak Jokowi, jadi beliau kalau sudah begitu, kepingkel-pingkel. 'Ibu ini ada-ada saja'. Lho benar lho Pak," ujar Megawati.

Saat ini, ia masih melihat tidak adanya sinergi antara kepala daerah, kementerian, dan lembaga dalam penanganan bencana alam. Menurutnya, perlu ada sosok yang memegang komando dalam hal mitigasi bencana.

"Saya bilang sama Bapak Presiden, Bapaklah yang namanya kepala negara Presiden RI yang harus langsung. Karena ini persoalannya adalah extraordinary." n ed: andri saubani


×