Harry Kane dari Tottenham, kiri, melakukan tembakan ke gawang saat Tyrone Mings dari Aston Villa mencoba untuk memblokir selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Aston Villa dan Tottenham Hotspur di Villa Park di Birmingham, Inggris, Min | AP/Tim Keeton/Pool EPA

Olahraga

03 Aug 2021, 14:49 WIB

Kisah Gangguan Psikis Penggawa Inggris, Tyrone Mings

Tyrone Mings berjasa membuat Inggris melenggang mulus.

Pelatih tim nasional Inggris, Gareth Southgate, membuat keputusan tepat dalam dua laga awal di Grup D, Piala Eropa 2020. Ia menurunkan Tyrone Mings untuk mendampingi John Stones di depan Jordan Pickford.

Mings menggantikan peran Harry Maguire. Bek tengah Aston Villa itu membayar kepercayaan Southgate dengan performa impresif. The Three Lions mampu mengatasi Kroasia, 1-0, dan bermain imbang 0-0 dengan Skotlandia. 

Seiring berjalannya waktu, Maguire pun sembuh. Pada pertandingan ketiga melawan Republik Ceko, kapten Manchester United ini diturunkan. Mings bermain sebagai pemain pengganti.

Inggris melaju ke tahap selanjutnya sebagai juara grup. Jelas, Mings turut berjasa membuat Inggris melenggang mulus. Namun, siapa sangka, sebelum turnamen ini berlangsung, sang bek sempat merasakan kelelahan emosional?

Lebih tepatnya, yang bersangkutan bermasalah dengan kesehatan mental. Itu karena nyaris semua penggemar sepak bola Negeri Ratu Elisabeth meragukannya. "Saya mengalami masa sulit menjelang pertandingan melawan Kroasia," kata Mings, dikutip dari the Sun, Senin (2/8).

Ia menjadi lebih banyak berpikir. Ia menilai ada 95 persen pendukung mereka tidak percaya pada kemampuannya. Situasi demikian memengaruhi kepercayaan diri produk akademi Southmapton itu.

Idealnya ketika bersiap menjalani momen penting, setiap orang butuh sentuhan positif. Namun, hal itu tidak dialami Mings. Ia membaca reaksi para netizen di media sosial.

Bahkan, mantan bek Inggris Rio Ferdinand juga sempat meragukan kemampuan juniornya itu. Ferdinand lebih menyoroti faktor pengalaman. Ia menyinggung minimnya jam terbang jagoan Villa ini di panggung internasional.

"Dia belum pernah bermain di Liga Champions. Dia belum pernah tampil di level ini," kata Rio Ferdi jelang duel pembuka kontra the Blazers, beberapa saat lalu.

Mings tak tinggal diam. Secara teknis, ia sudah berlatih keras. Persiapan fisik terasa maksimal.

Namun, ia juga butuh kesejukan dari dalam. Oleh karena itu, yang bersangkutan sampai bertemu psikolog. Psikolog membantunya keluar dari persoalan tersebut dengan mekanisme koping.  Intinya ia belajar tenang menghilangkan stres dalam dirinya. Bisa dengan latihan pernapasan, meditasi, dan sebagainya.

"Saya tidak malu mengakui itu karena ada banyak hal yang tidak diketahui tentang saya jelang pertandingan itu," ujar Mings.

 
Saya tidak malu mengakui itu karena ada banyak hal yang tidak diketahui tentang saya jelang pertandingan itu.
 
 

Pada akhirnya, tercipta atmosfer positif di dalam timnya. Ia menceritakan selama berada di kamp timnas, mereka selalu merasakan makanan berbeda setiap harinya. Ada juga permainan lain di luar sepak bola untuk menurunkan ketegangan.

Mings mengorganisasi turnamen basket mini. Mereka menonton film secara bersama-sama. The Three Lions nyaris menjadi juara. Sayang di partai final, anak asuh Southgate ditaklukkan Italia di Stadion Wembley.

Masalah kesehatan mental di kalangan para atlet profesional nyaring terdengar dalam beberapa hari terakhir. Dimulai dari Pesenam Amerika Serikat, Simone Biles, yang buka-bukaan mengenai kondisi psikologisnya. 

Ia sampai mengundurkan diri dari final tim beregu di Olimpiade 2020. Teranyar, Biles juga enggan ambil bagian di final senam artistik lantai. Ia masih harus membuat keputusan apakah bakal tampil di nomor balok keseimbangan atau tidak.

Pemain sayap Chelsea FC, Christian Pulisic, juga fokus mengomentari isu tersebut. Bukan tentang Biles secara personal. Namun, mengenai permasalahan kesehatan mental umumnya.

Menurut dia, itu harus disamakan kesehatan fisik. Artinya, harus konsisten dikelola dan dirawat. Sebab, jika tak mampu mengatasi tekanan, ada banyak kerugian yang bakal terjadi.

"Mengabaikan kecemasan seperti mengabaikan gangguan di punggung Anda. Jika tetap tidak teratasi, masalah jangka panjang akan terjadi," ujar Pulisic, dikutip dari laman resmi klubnya.

Menurut sang winger, pada intinya setiap orang harus nyaman dengan dirinya sendiri. Dalam konteks atlet, ia perlu menemukan keseimbangan antara kepuasan pribadi dan permainan.

Chelsea, Arsenal, dan Tottenham Hotspurs terlibat dalam turnamen mini jelang musim depan bergulir. Pertandingan antara tim-tim kota London itu tak hanya sebagai ajang pemanasan, tapi juga menjadi laga amal. Uang yang terkumpul disumbangkan ke badan amal (Mind) dan yayasan klub untuk mendukung proyek penanganan kesehatan mental.


×