Sejumlah santriwati mengikuti kajian kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Amin, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (27/4/2021). Sejak September-Juli, ada 136 ulama perempuan yang wafat. | ANTARA FOTO/Makna Zaezar
31 Jul 2021, 03:55 WIB

Regenerasi Ulama Perempuan

Sejak September-Juli ada 136 ulama perempuan yang wafat.

 

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Bergugurannya para ulama karena pandemi tidak mengenal gender. Tidak sedikit ulama perempuan yang memang jumlahnya sudah langka ikut berpulang.

Regenerasi mereka pun menjadi pekerjaan rumah yang berat untuk dilakukan. Butuh tanggung jawab semua pihak untuk membangun sistem pendidikan yang bisa melahirkan ulama-ulama perempuan berkualitas.

Terkait

Menanti Lahirnya Huzaemah Baru

 

Muslim Indonesia kembali berduka usai wafatnya ulama kharismatik Prof Dr Huzaemah Tahido Yanggo. Ulama perempuan tersebut wafat Jumat pekan lalu. Almarhumah wafat pada usia 75 tahun di RSUD Banten setelah berjuang melawan infeksi virus Covid-19.

Prof Huzaemah dikenal sebagai salah satu ulama perempuan Tanah Air yang menguasai ilmu fikih dan Alquran. Ulama kelahiran Donggala Sulawesi Tengah 30 Desember 1946 itu meraih gelar doktor dalam ilmu fikih perbandingan mazhab dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir pada 1981 dengan predikat cumlaude

Kiprahnya dalam dunia dakwah dan pendidikan sangat besar. Ia pernah memimpin Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, almarhumah menjabat sebagai Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) selama dua periode (2014-2018 dan 2018-2022). Almarhumah juga berkiprah sebagai wakil ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

 
Kepergian almarhumah menambah jumlah ulama perempuan yang meninggal pada masa pandemi Covid-19.
 
 

Kepergian almarhumah menambah jumlah ulama perempuan yang meninggal pada masa pandemi Covid-19. Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) bahkan mencatat sejak September-Juli ada 136 ulama perempuan yang wafat. Grafik ulama perempuan bahkan semakin meningkat. Pada Juli saja terdapat 45 ulama perempuan yang wafat. 

Ketua Umum RMI NU, KH Abdul Ghaffar Rozin, menilai para ulama perempuan di masa lalu maupun masa kini memiliki peran yang luar biasa. Menurut dia, lebih dari 60 persen para santri putri di pesantren diasuh langsung oleh para ibu nyai yang mempunyi keilmuan mendalam dan keistiqamahan dalam mendidik santri.

Kepergian mereka menjadi kehilangan yang sangat besar bagi umat terutama bagi para santri perempuan. "Pesantren dan umat Islam memang harus bekerja sangat keras untuk menyiapkan para ulama yang wafat selama pandemi, tentu saja termasuk ulama perempuan kita,” kata Gus Rozin.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Ketua MUI bidang Perempuan Remaja dan Keluarga Prof Dr Amany Burhanuddin Umar Lubis berharap umat Islam di Tanah Air dapat memetik hikmah di balik banyaknya ulama perempuan yang wafat belakangan ini. Menurut dia, umat harus dapat mencontoh perjuangan mereka dalam menggemakan syiar Islam di Indonesia.

Amany menilai, ulama perempuan telah menunjukkan bagaimana menerapkan ajaran agama begitu fleksibel terlebih dalam hal muamalah dan bernegara. Tidak sedikit diantara mereka yanga lantang menyuarakan hak asasi manusia (HAM), memberi perlindungan kepada orang yang lemah, serta memberi pandangan akomodatif terhadap situasi yang terjadi. Peran mereka juga amat besar dalam memberi pandangan-pandangan hukum, khususnya seputar hukum Islam.

Rektor UIN Jakarta ini menjelaskan, peran ulama perempuan sangat besar dalam membentuk generasi Muslim yang berakhlak luhur, berilmu pengetahuan dan berwawasan luas. Mereka berkontribusi melalui berbagai lembaga pendidikan, pondok pesantren, majelis taklim, madrasah, dan lainnya.

Mereka juga berkiprah di berbagai bidang dari pendidikan, hukum, hingga menjadi motor gerakan sosial kemanusiaan. Kontribusi pemikiran mereka di kancah internasional juga sangat dihormati.

Dia menilai, regenerasi ulama perempuan di Tanah Air berjalan dengan baik. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya santriwati di pondok pesantren serta para mahasiswa yang mengambil studi pendalaman keagamaan di Perguruan Tinggi Islam (PTI). Ia optimistis para wanita Muslim generasi muda saat ini dapat melanjutkan tongkat estafet perjuangan para ulama perempuan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Penulis Genealogi Ulama Intelektual Betawi, Ustaz Rakhmad Zailani Kiki mengatakan, banyak ulama perempuan Betawi yang kondang berkat kiprah mereka bidang dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Mereka tidak hanya memiliki karya sosial, tetapi juga karya intelektual.

Di bidang dakwah, mereka tampil di ruang publik sebagai mubalighah, contohnya Ustazah Salehah Thabrani (1950-1960). Generasi mubalighah kondang Jakarta selanjutnya yang menguasai podium, radio, dan televisi adalah Ustazah Tutty Alawiyah, Ustazah Siti Suryani Taher, dan Ustadzah Siti Romlah Adnan.

Sedangkan mubalighah kondang Jakarta saat ini adalah Mamah Dedeh dan Ustazah Lulu Susanti. "Ulama perempuan Jakarta yang berkiprah sebagai mubalighah memang masih banyak, masih terus beregenerasi, tetapi yang kondang atau terkenal belum muncul lagi. Ini tentu menjadi tantangan," kata dia. 

Selain berkiprah sebagai mubalighah, ulama perempuan Jakarta masa lalu juga berkiprah di majelis taklim. Popularitas dan jumlah cabang majelis taklim yang didirikan dan dipimpin oleh mereka ada yang mampu mengalahkan majelis taklim pimpinan kiai.

Contohnya, yakni Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) yang didirikan pada 1 Januari 1981 dan dipimpin oleh Ustazah Tutty Alawiyah. Selain itu, ulama perempuan ini juga memiliki karya tulis yang bisa dinikmati khalayak. 

Saat ini, Ustaz Kiki menjelaskan, ulama perempuan Jakarta yang dikenal berkat tulisan-tulisan populernya nyaris belum ada. Jika pun memiliki karya tulis maka karya tersebut bukanlah karya populer. Kebanyakan sebatas karya tulis akademis yang punya segmentasi pembaca amat terbatas.

Ustaz Kiki pun menjelaskan, tantangan dakwah pada masa yang akan datang lebih kompleks karena perkembangan media amat cepat. Karena itu, dia menjelaskan, ulama perempuan harus mampu menguasai dan memanfaatkan media dakwah di era industri 4.0 yang berbasis internet agar dakwahnya dapat sampai ke mad'u, objek dakwah dengan maksimal.


×