ILUSTRASI Masjid Umayyah di Damaskus. Seorang sufi agung, Ibnu Arabi, memilih ibu kota Suriah itu sebagai tempat mukimnya yang terakhir, yakni menjelang wafatnya. | DOK WIKIPEDIA
01 Aug 2021, 05:16 WIB

Perjalanan Syekh al-Akbar Ibnu ‘Arabi

Dalam rihlah Ibnu 'Arabi, pengamal tasawuf ini mengunjungi banyak kota, mengajarkan ilmu dan hikmah.

 

OLEH HASANUL RIZQA

Tawbah menjadi momen bagi Ibnu ‘Arabi untuk meninggalkan berbagai kesibukan duniawi. Sejak berusia 20 tahun, dia berfokus pada jalan sufi. Mula-mula, alim yang lahir pada 17 Ramadhan 560 H (28 Juli 1165 M) itu berkelana ke pelbagai daerah di Andalusia (Spanyol) dan Afrika Utara.

Dari rihlah itu, pemilik nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin ‘Arabi al-Tha’i al-Hatimi tersebut memperoleh banyak guru dan sahabat.

Terkait

Muhammad al-Fayyadl dalam Teologi Negatif Ibn ‘Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan (2012) memaparkan, sufi bergelar Syekh al-Akbar itu berinteraksi dengan banyak ulama, cendekiawan, serta salik dari banyak latar belakang dan mazhab. Itulah yang semakin mengayakan wawasan dan pengalaman religiusnya. Terhadap sesama salik, dirinya pun lebih menunjukkan hubungan yang bersifat persahabatan, bukannya hierarkis formal.

Kira-kira delapan tahun sejak mengalami tawbah, Ibnu ‘Arabi untuk pertama kalinya bepergian ke luar Andalusia. Begitu menyeberangi Selat Jabal Thariq (Gibraltar), langkah kakinya menuju ke Tunis. Di sana, ia belajar Khal al-Na’layn karangan Ibnu Qashi, seorang mursyid sekaligis pemberontak anti-Dinasti al-Murabithun.

Dalam ulasannya atas kitab tersebut, dia mengungkapkan kekaguman sekaligus kekecewaan terhadap sang pemimpin tarekat itu, yang dinilainya telah menjadi pendusta. Itu dikaitkannya dengan klaim Ibnu Qashi sendiri yang pernah mengaku Imam Mahdi, juru selamat Andalusia dari rongrongan Reconquista.

Ibnu ‘Arabi juga mempelajari Kitab al-Hikmah karya Ibnu Barrajan atas anjuran seorang guru sufi setempat, Abdul Aziz al-Mahdawi. Darinya pula, lelaki asal Mursia itu belajar banyak hal, terutama mengenai filsafat dan tasawuf. Abdul Aziz juga tergolong sufi yang aktif berjuang melawan rezim al-Murabithun. Sebab, dinasti tersebut dianggap zalim dan menyesatkan umat.

photo
ILUSTRASI Ibnu Arabi, seorang pemikir besar yang menyumbangkan banyak gagasan untuk dunia tasawuf. - (DOK WIKIPEDIA)

Dari Tunis, perjalanan Ibnu ‘Arabi berlanjut ke Fez, Maroko. Kota itu merupakan salah satu pusat tasawuf di Afrika Utara. Menurut al-Fayyadl, di sana sang sufi mengalami sejumlah momen spiritual. Hingga akhirnya, salik tersebut berhasil mencapai kedudukan (maqam) yang tinggi. Ia disebut-sebut telah memperoleh karamah, semisal mampu mengetahui situasi sosial-politik Andalusia tanpa perlu menyaksikan dengan mata kepala.

Ada banyak sufi yang menjadi teladannya di Fez. Dua orang di antaranya ialah Abu Abdullah al-Daqqaq dan Ibnu Hirzihim. Sejak masih di Andalusia, Ibnu ‘Arabi telah mengetahui sosok keduanya yang memang masyhur sebagai ahli tasawuf dengan banyak murid. Barulah ketika di Maroko, ia bisa menjumpai mereka dan mengenal lebih dekat ajaran-ajarannya.

Empat tahun lamanya Ibnu ‘Arabi bermukim di Fez. Dalam masa itu, ia berguru pula kepada seorang ahli hadis yang juga sufi: Muhammad bin Qasim bin Abdurrahman al-Fasi. Darinya, ia mendapatkan jubah khusus (khirqah) sebagai tanda pengakuan atas derajat kesufian.

Bagaimanapun, penulis kitab Futuhat Makiyyah dan Fushush al-Hikam itu sebelumnya sudah memperoleh khirqah, yakni khirqah khadiriyyah dari gurunya, Abu al-Abbas al-‘Uryabi. Disebut demikian karena penerimanya diyakini mewarisi derajat spiritual Nabi Khidir AS.

 
Ibnu 'Arabi disebut-sebut telah memperoleh karamah, semisal mampu mengetahui situasi sosial-politik Andalusia tanpa perlu menyaksikan dengan mata kepala.
 
 

Di antara sahabat-sahabatnya dari Fez ialah dua orang salik, Abu Abdullah al-Mahdawi dan Ibnu Takhmist. Dalam sebuah catatannya, ia mengenang mereka. Keduanya disebut biasa melakukan tindakan-tindakan aneh, semisal melanggar syariat di depan orang, hanya untuk menyamarkan identitas sebagai sufi.

Sebelum melanjutkan rihlah, Ibnu ‘Arabi menyempatkan diri pulang ke Andalusia. Tujuannya berpamitan dengan guru-gurunya di sana. Seorang di antara mereka ialah Abu Madyan, yang tidak lain guru pertamanya dalam bidang tasawuf. Sebelum mengarungi Selat Gibraltar, dia masih sempat menyelesaikan tulisannya, yang lalu menjadi kitab Mawaqi al-Nujum.

Begitu mendarat di Afrika, ia langsung meneruskan perjalanan ke arah timur bersama dengan sahabatnya, Badr al-Habasyi. Kota yang disinggahinya kemudian adalah Marrakech. Di sana, dia bersahabat dengan seorang sufi dengan maqam kesabaran yang tinggi, Muhammad al-Marrakusyi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Dari Marrakech, langkah kakinya tertambat lagi di Fez. Lantaran sebuah mimpi, dia merasa terpanggil untuk berjumpa dengan sahabat lamanya, Muhammad al-Hashshar. Ketiganya—Ibnu ‘Arabi, al-Habasyi, dan al-Hashshar—berjalan kaki hingga ke Tlemcen dan Bejaia (Aljazair).

Dari sana, perjalanan berlanjut ke Tunis. Di kota tersebut, Ibnu ‘Arabi bermukim sekitar sembilan bulan, untuk kemudian menuju Makkah al-Mukarramah pada 1201 M.

Untuk sampai ke Baitullah, tokoh berjulukan al-Muhyiddin (sang penghidup agama) itu melalui rute yang cukup panjang. Salah satu kota yang disambanginya ialah Kairo, bertepatan dengan adanya wabah kelaparan.

 
Salah satu kota yang disambanginya ialah Kairo, bertepatan dengan adanya wabah kelaparan.
 
 

Epidemi itu mengakibatkan banyaknya korban jiwa, termasuk Muhammad al-Khayyath bin Abu Abbas al-Hariri. (Mantan) guru Alquran tatkala Ibnu ‘Arabi masih anak-anak itu lebih dahulu wafat sebelum bisa menemaninya ke Tanah Suci.

Sesungguhnya, ada lintasan langsung antara Kairo dan Makkah, tetapi dia memilih jalan memutar. Ibnu ‘Arabi mampir terlebih dahulu di Hebron, antara lain, untuk berziarah ke makam Nabi Ibrahim. Sesudah itu, ia mengunjungi dan shalat di Masjid al-Aqsha. Baru setelahnya, langkah kakinya berlanjut ke Madinah dan Makkah, bertepatan dengan musim haji tahun 598 H (1202 M).

Bagi kalangan tasawuf, jelas al-Fayyadl, pemilihan rute tersebut menandakan panggilan spiritual yang hendak dipenuhi Ibnu ‘Arabi. Dalam arti, sang sufi ingin menziarahi kuburan-kuburan para nabi yang telah dijumpainya dalam mimpi. Mimpi itu pun dimaknai sebagai rihlah mi’raj, yakni persinggahan dari satu langit ke langit lainnya.

Pada langit ketujuh, yang terletak paling atas, dia “bertemu” dengan Nabi Ibrahim. Itulah mengapa, ziarah Ibnu ‘Arabi ke Hebron sebelum ibadah haji secara simbolis dimaknai, dirinya telah sampai di langit teratas. Maka, sampainya di Makkah pun dapat diartikan, ia telah wushul, ‘tiba di hadapan Allah'.

Saat di Makkah, Ibnu ‘Arabi mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Dalam mimpinya itu, ia dinobatkan sebagai pewaris Nabi Muhammad sehingga memperoleh haqiqah Muhammadiyah. Itulah sumber kewalian seseorang sejak zaman azali hingga akhir masa. Nabi SAW disebut mengamanahkan kepada dirinya untuk menyebarluaskan ajaran Sunnah yang adalah rahmat bagi seluruh semesta.

 
Saat di Makkah, Ibnu ‘Arabi mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW.
 
 

Masih di kota suci tersebut, ia berjumpa muka dengan seorang gadis cantik. Di kemudian hari, barulah diketahui bahwa perempuan tersebut adalah Nizham, putri seorang imam Masjidil Haram. Paras cantiknya membuat Ibnu ‘Arabi terinspirasi untuk menggubah kumpulan sajak, Tarjuman al-Ashwaq.

Karya itulah yang dituding sebagian kalangan sebagai teks erotis. Padahal, menurut pengarangnya, syair-syair di dalamnya murni bertujuan spiritual. Kecantikan Nizham menyadarkannya akan keindahan Tuhan pada diri wanita.

Salah satu risalah monumentalnya terinspirasi dari pengalamannya selama di Makkah: Futuhat Makiyyah (Pencerahan-pencerahan Makkah). Untuk menuntaskannya, Ibnu ‘Arabi memerlukan waktu hingga 19 tahun. Tebal naskahnya pun mencapai lebih dari 6.000 halaman.

Di sela-sela penyelesaian Futuhat, dia menulis pula beberapa kitab, semisal Hilyat al-Abdal, Taj ar-Rasa`il, Misykat al-Anwar, dan Ruh al-Quds.

Usai musim haji, Ibnu ‘Arabi setia dengan perjalanannya. Ia berkunjung dari satu kota ke kota lainnya, termasuk di Irak dan Anatolia (Turki). Dalam rihlah itu, pengikutnya kian bertambah banyak. Mereka biasa menggelar majelis untuk menyimak pembacaan kitab-kitab karya sang sufi. Ada banyak karangan yang lahir dari tangannya. Dalam kurun tahun 600-617 H saja, tercatat sebanyak 50 kitab ditulisnya.

 
Ada banyak karangan yang lahir dari tangannya. Dalam kurun tahun 600-617 H saja, tercatat sebanyak 50 kitab ditulisnya.
 
 

Sejak 620 H, dengan pertimbangan usia yang kian uzur, Ibnu ‘Arabi pun memutuskan untuk tinggal di Damaskus (Suriah). Di sana, dia mengajar dan membimbing para muridnya serta menghabiskan waktu dengan menulis. Begitulah kesibukannya sehari-hari hingga ia berpulang ke rahmatullah.

Hari itu, Jumat tanggal 28 Rabiul Akhir 638 H (16 November 1240 M). Ibnu ‘Arabi bermukim di rumah Qadli Muhyiddin bin az-Zanki, Damaskus. Malam itu, dirinya sedang menulis kitab tafsir Alquran, Al-Jam’u wa at-Tafsir fii Asrar Ma’ani at-Tanzil yang setebal 60 jilid. Saat sedang menelaah ayat ke-65 surah al-Kahfi, sang sufi mengembuskan napas terakhir.

Ayat itu mengisahkan awal mula perjumpaan Nabi Musa AS dengan Khidir AS untuk mempelajari ilmu laduni. Khidir itulah yang disebut oleh Allah Ta’ala dalam ayat di atas sebagai “seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”

Sepanjang hayatnya, Ibnu ‘Arabi mengaku tiga kali ditemui oleh Nabi Khidir. Dan, dalam pelbagai tulisannya, sosok nabi itu kerap disebutnya sebagai perlambang untuk menyimbolkan basth (kelapangan) serta pemahaman akan ilmu batin dan hakikat.

photo
Makam Ibnu Arabi di Damaskus, Suriah. - (DOK WIKIPEDIA)

Bertasawuf Menuju Al-Haq

Di sepanjang hayatnya, Ibnu ‘Arabi (560-638 H) berinteraksi dengan banyak sarjana. Itu terbaca dalam karya-karyanya yang ditaksir mencapai jumlah 560 kitab serta 2.000 tulisan “pendek". Muhammad al-Fayyadl dalam Teologi Negatif Ibn ‘Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan (2012) menjelaskan, sang salik bergaul dengan siapa saja tanpa pilih-pilih.

Bagaimanapun, lanjut al-Fayyadl, terhadap kaum filsuf dan teolog Ibnu ‘Arabi tampaknya memiliki pendirian khusus yang berbeda. Ada banyak filsuf Muslim yang hidup sezaman dengannya, seperti Ibnu Rusyd atau Averroes, Ibnu Sina, al-Kindi, atau Ibnu Thufail.

Namun, dalam karya-karyanya, Ibnu ‘Arabi tidak pernah menyebut nama mereka—kecuali Ibnu Rusyd. Menurut al-Fayyadl, hal itu mengindikasikan, tokoh kelahiran Andalusia itu dalam membangun ide-ide ketuhanannya ingin menempuh jalan yang berbeda daripada paradigma para filsuf.

Terhadap para teolog pun, ia memberikan penilaian kritis. Baginya, teologi atau ilmu kalam hanya berguna untuk mempertahankan keimanan dari serangan kaum rasionalis yang mengingkari Tuhan. Lagipula, tampaknya para mutakalim memiliki keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal. Padahal, akal rasional masih tidak memadai untuk memberikan penjelasan yang mendalam mengenai-Nya.

Maka, Ibnu ‘Arabi memilih tasawuf sebagai jalan hidup sekaligus jalan pencariannya akan Tuhan. Baginya, Allah adalah misteri. Kemisteriusan-Nya tidak mungkin dijelaskan melalui pemikiran spekulatif (filsafat) atau penalaran akal (teologis).

 
Baginya, Allah adalah misteri. Kemisteriusan-Nya tidak mungkin dijelaskan melalui pemikiran spekulatif (filsafat) atau penalaran akal (teologis).
 
 

Menurutnya, tarekat sufi dibangun di atas empat cabang, yakni bawa'its (instrumen yang membangkitkan jiwa spiritual); dawa'i (pilar pendorong ruhani jiwa); akhlak; dan hakikat-hakikat. Adapun komponen pendorongnya terdiri atas tiga hak: hak Allah; hak hamba terhadap sesama; dan hak hamba terhadap diri sendiri.

Dalam pandangannya, tauhid dijadikan sebagai konsumsi, iman sebagai cahaya hati. Alquran dipandang sebagai akhlak seorang hamba-Nya. Lalu naik ke tahap yang tak ada lagi selain Al-Haqiqah al-Wujud, yakni Allah SWT.

Ibnu ‘Arabi kerap kali dikaitkan dengan gagasan wahdatul wujud, padahal tak pernah dalam karya-karyanya istilah wahdatul wujud disebutkan. Adapun gagasan yang memang diajukannya terkait hubungan hamba dan Rabnya ialah konsep mengenai Al-Haq atau “kesatuan dari keserbameliputan” (ahadiyyah al-jam'i).

Menurutnya, perwujudan segala sesuatu adalah manifestasi dari 'aradh'Aradh pun adalah konkretisasi dari jauhar. Jauhar adalah pengejawantahan dari Tuhan.

Itulah mengapa, Ibnu ‘Arabi menghindari penyebutan bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta (Al-Khaliq), sedangkan selain-Nya adalah ciptaan (makhluq). Sebab, kedua istilah itu tak menggambarkan ahadiyyah al-jam'i. Dia lebih menyukai terminologi Al-Haq untuk Tuhan dan al-khalq untuk selain-Nya. Dengan begitu, terasa bahwa “garis pemisah” antara Tuhan dan makhluk menjadi samar-samar.


×