Sejumlah pekerja beraktivitas kembali di area Kilang Pertamina RU IV Cilacap, Jateng, Sabtu (12/6/2021). Pertamina menghemat cost inventory hingga miliaran dolar AS. | ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
28 Jul 2021, 11:13 WIB

Pertamina Tekan Cost Inventory

Pertamina menghemat cost inventory hingga miliaran dolar AS.

JAKARTA -- Sejalan dengan restrukturisasi yang telah berjalan setahun terakhir, PT Pertamina (Persero) telah berhasil menekan cost inventory menjadi 47,9 juta barel atau setara dengan dengan 3,1 miliar dolar AS. Sebelumnya, pada 2020, totalnya sebesar 80 juta barel atau setara 5,2 miliar dolar AS, sehingga terdapat penurunan biaya 40 persen atau 2,1 miliar dolar AS yang dapat digunakan untuk aktivitas lain.

Penghematan tersebut diperoleh dari upaya integrasi operasional yang telah berjalan di Direktorat Logistik dan Infrastruktur Pertamina di tingkat holding. Peran strategis sebagai integrator operasional tersebut untuk memastikan distribusi energi ke seluruh pelosok negeri berjalan aman dan lancar.

Sebagai integrator operasional, seluruh penugasan-penugasan dari pemerintah ke Pertamina mulai dari pendistribusian bahan bakar Jenis BBM Tertentu (JBT) dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP), distribusi LPG 3 kg kepada masyarakat, penyaluran BBM 1 Harga, pembangunan infrastruktur BBM/LPG di Indonesia Bagian Timur, dan gasifikasi di 56 pembangkit PLN, harus dipastikan berjalan dengan baik.

Dengan tugas tersebut, Direktorat Logistik dan Infrastruktur harus memastikan keandalan seluruh infrastruktur dan jaringan distribusi yang dimiliki holding sehingga bisa berjalan sinergis di tengah restrukturisasi yang sedang dijalankan. 

Terkait

“Hal ini menjadi concern kami agar masing-masing subholding, anak perusahaan dan afiliasinya tidak berjalan sendiri-sendiri. Semuanya harus inline karena saat ini infrastruktur yang kami jalankan harus sesuai dengan kebutuhan market dan energy mix,” Direktur Logistik & Infrastruktur Pertamina Mulyono.

Keseimbangan antara layanan masyarakat dan optimasi target keuntungan untuk Pertamina harus terpenuhi, dengan cara menekan biaya, sinergi, dan optimasi di semua subholding

Menurutnya, masing–masing subholding harus mandiri dan lincah untuk mengambil keputusan yang efektif dan efisien. Catatannya, subholding harus fokus melakukan efisiensi, namun efisiensi ini tetap harus memberikan manfaat atau benefit bagi Pertamina Group. 

Pertamina melalui Direktorat Logistik & Infrastruktur juga terus melakukan percepatan dan sinergi untuk penugasan proyek pemerintah dan pembangunan infrastruktur distribusi energi. Tak hanya cepat, proyek juga dipastikan harus mendukung industri dalam negeri dengan penyerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) harus sesuai target.

“Kami juga harus memastikan penugasan pemerintah terkait penyerapan TKDN harus sesuai target. Pada 2020, target implementasi TKDN 25 persen dan 2021 sebesar 30 persen. Saat ini, Pertamina Group mampu merealisasikan TKDN di atas 50 persen,” kata Mulyono.

PTFI-Pertamina gunakan energi bersih

PT Freeport Indonesia (PTFI) berkomitmen ambil bagian dalam mendorong bauran energi dan penggunaan energi bersih di Indonesia untuk mencapai target zero emission. Direktur Utama PTFI Clayton Alley Wenas menjelaskan, PTFI sudah melakukan berbagai hal untuk mendorong upaya penggunaan energi bersih.

Tony, sapaan akrab Clayton Alley Wenas, menjelaskan, saat ini PTFI menggunakan biofuel sebagai bahan bakar alat berat dan transportasi operasional tambang. Ia menargetkan penggunaannya akan terus bertambah hingga 2024 mendatang.

"Ini kami telah menggunakan biofuel di peralatan berat dataran rendah dan sejak 2020 sampai 2024, kami akan meningkatkan B.30 dari 7 juta liter per tahun jadi 100 juta liter per tahun," kata Tony dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Senin (26/7).

Tony mengatakan, PTFI juga membangun pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) yang merupakan pembangkit yang memakai double fuel. Namun, dari sisi minyaknya PTFI menggunakan biofuel.

Dari sisi reklamasi lahan bekas tambang, Tony menjelaskan, PTFI melakukan upaya reklamasi lahan tambang dengan menanamkan kembali tanaman yang mendukung penambahan carbon credit. Ia mengatakan, beberapa luasan hutan yang menjadi target reklamasi lahan tambang harapannya bisa menambah luasan lahan hijau di Indonesia.

Di satu sisi, Tony menyampaikan, hasil dari operasional tambang PTFI sebenarnya mendukung adanya program energi bersih ke depan. Penggunaan kendaraan listrik, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) butuh tembaga yang lebih banyak dibandingkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) biasa.

"Misalnya, per megawatt (MW) PLTS butuh tembaga 5 ton, maka PLTB itu perlu 1,5 ton per MW-nya. Ini energi baru dan terbarukan (EBT) ke depan tetap butuh tembaga jauh lebih banyak sebagai penghantarnya," ujar Tony.

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) berupaya menurunkan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dan liquified petroleum gas (LPG) yang tidak ramah lingkungan. Upaya ini harapannya bisa meningkatkan porsi energi bersih dalam bauran energi.

SVP Bidang NRE Pertamina Aris Mulya Azof menjelaskan, Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengambil peran penting dalam mendukung upaya pemerintah mendongkrak penggunaan energi bersih. Di satu sisi, upaya transisi energi ini dilakukan Pertamina untuk mengurangi emisi karbon.

"Pertamina sudah mengantisipasi perubahan tren energi saat ini. Sebagai bisnis yang energi fosil, kami mengejar target transisi energi ini, saat ini energi yang dipasok masih fosil, tapi pertumbuhan EBT akan agresif,” kata Aris.

Selain mengurangi porsi BBM dan LPG yang tidak ramah lingkungan dari 86 persen seperti sekarang ini ke 64 persen pada 2024, Pertamina juga akan meningkatkan porsi penggunaan gas bumi di semua lini Pertamina. Aris mengatakan, Pertamina meningkatkan porsi gas dari 13 persen naik 19 persen dan EBT dari 1 persen naik jadi 17 persen.

Pertamina juga mempunyai peran penting dalam meningkatkan pemanfaatan panas bumi. Ia menjelaskan, Pertamina menargetkan kapasitas terpasang dari pembangkit panas bumi bisa sebesar 1.128 MW pada 2026.

"Pada 2020-2024 untuk pengembangan EBT ini, salah satunya adalah dalam bidang panas bumi. Pengembangan panas bumi pada 2020 ini 672 MW menjadi 1.128 MW pada 2026," ujar Aris.

Pertamina mengalokasikan sekitar miliar dolar AS untuk investasi energi bersih pada kurun 2020-2024. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, alokasi belanja modal untuk sektor EBT mencapai sekitar 9 persen dari total investasi untuk 2020 hingga 2024.

Jumlah ini dinilai telah melampaui besaran investasi International Oil Company (IOC) lainnya yang berkisar 4,3 persen.  Adapun, investasi pada sektor energi bersih ini meliputi 4 miliar dolar AS untuk pengembangan pipeline distribusi dan transportasi gas, 0,3 miliar dolar AS untuk liquefaction & regasification, 3 miliar dolar AS untuk integrasi pembangkit listrik dan 0,7 miliar dolar AS untuk investasi proyek lainnya.


×