Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi Kiai Kuswaidi Syafiie | DOK YOUTUBE KUSWAIDI
25 Jul 2021, 01:51 WIB

Kuswaidi Syafi’ie: Beragama dengan Cinta

Cinta hamba kepada Allah itu pantulan, yaitu pantulan dari cinta Allah kepada hamba itu.

Setiap manusia ingin dicintai dan mencintai. Bagi seorang Muslim, cinta Allah merupakan puncak tertinggi dari segala cinta. Sebab, hanya Dia-lah Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman) lagi Maha Penyayang (Ar-Rahim).

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi Kiai Kuswaidi Syafi’ie, cinta adalah anugerah terbesar yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Mengutip penjelasan ahli tasawuf dari abad keempat Hijriyah, Abu Thalib al-Makki, dalam Quut al-Qulub, mereka yang diberi cinta Allah adalah orang-orang sungguh ikhlas beribadah.

Para salik dari generasi ke generasi selalu berpesan tentang keutamaan mahabah. Itu adalah kondisi ketika seseorang sudah mendahulukan cintanya kepada Allah SWT sehingga lupa akan pamrih atau kepentingan diri sendiri. Kiai Kuswaidi mengatakan, mahabah adalah energi paling dahsyat dalam mengekspresikan ajaran Islam.

“Jangankan berkaitan dengan dimensi spiritual. Berkaitan dengan cinta terhadap sesama saja, mahabah itu memiliki energi yang luar biasa untuk menjadikan seseorang tetap bisa survive,” katanya.

Terkait

Apa dan bagaimana cinta Allah itu? Bilakah seorang Muslim beragama dengan mengharap cinta-Nya? Untuk membahasnya, berikut adalah perbincangan wartawan Republika, Muhyiddin, dengan penulis buku-buku sastra sufi tersebut, baru-baru ini.

Bagaimana kaum sufi mendefinisikan atau menafsirkan konsep cinta?

Mereka para sufi sesungguhnya sadar betul bahwa penciptaan alam semesta didasarkan pada cinta. Karena itu, tentu Allah tidak memiliki pamrih sedikit pun di dalam menurunkan ajaran-ajaran-Nya kepada umat manusia.

Allah sama sekali tidak memiliki pamrih dengan wujud ingin disembah oleh manusia. Sebab, sembah sujud itu manfaatnya kembali kepada manusia itu sendiri. Karena itu, para sufi kemudian mati-matian untuk mengikuti dan “meniru” sifat Allah yang berupa cinta itu.

Jadi, cinta itu merupakan sifat Tuhan semesta alam. Kemudian, orang-orang pilihan itu bersungguh-sungguh untuk meniru sifat cinta Ilahi tersebut, sehingga ketika mereka melaksanakan ajaran agama, mereka itu terbebaskan dari pamrih duniawi dan pamrih ukhrawi.

Satu-satunya pamrih—kalau ini pantas disebut pamrih—adalah terlunasinya kerinduan mereka kepada asal-usul mereka atau kepada Sang Maha Kekasih, yaitu Allah SWT. Itulah yang disebut sebagai ekspresi cinta kaum sufi.

Apa yang dimaksud dengan cinta Ilahi?

Cinta Ilahi itu seluruh gejolak kerinduan dan gejolak cinta kepada asal-usul. Untuk menggambarkannya, ini serupa seseorang yang merindukan asal-usulnya atau kampung halamannya. Jadi, Allah SWT—menurut paradigma kaum sufi—adalah “kampung” asal-usul.

Nah, ini realisasinya tidak hanya berkaitan dengan ibadah mahdhah atau hubungan vertikal, tetapi juga tumpah di dalam hubungan horizontal. Maknanya, bersikap penuh kasih sayang dan cinta kepada sesama manusia. Lalu, kenapa cinta kepada sesama manusia itu masuk dalam kategori cinta Ilahi?

Sebab, pada makhluk-makhluk ciptaan Tuhan itu sesungguhnya hadir pula Allah SWT. Jadi, penghormatan mereka kepada sesama itu sejatinya adalah realisasi dari cinta Ilahi itu sendiri.

Dalam disiplin tasawuf, bagaimana cara seorang hamba Allah meraih cinta-Nya?

Dengan cara menyingkirkan adanya hasrat kepada yang-lain. Sebab, di dunia ini kita hidup di antara impitan-impitan rayuan, godaan, dan segala sesuatu yang sifatnya fatamorgana. Nah, itu dibuang dan disingkarkan di dalam hati. Dengan begitu, ketika hati sudah bersih maka yang akan muncul adalah benih-benih cinta Ilahiyah itu.

Jadilah kemudian hati sebagaimana mestinya, yang merupakan “istana” bagi Allah SWT. Atau, “Qolbun mu`min arsyullah.” “Hati seorang Mukmin adalah arasy Allah.” Sabda Nabi SAW itu berarti bahwa hati orang yang beriman itu adalah istana bagi Allah Ta’ala. Mukmin sempurna diibaratkan seperti insan kamil, sama halnya jika dikatakan bahwa masjid adalah rumah Allah.

Benarkah hakikat cinta adalah nir pamrih, sementara Allah telah menjanjikan surga dan neraka sebagai balasan bagi yang dikehendaki-Nya?

Betul, cinta itu memang nir pamrih. Nah, Alquran itu menggunakan logika perdagangan, yaitu istilah untung dan rugi. Nah, itu sesungguhnya terutama ditujukan kepada orang-orang yang belum memiliki cinta atau kerinduan.

Jadi, sesungguhnya balasan-balasan seperti itu untuk orang-orang yang masih berpamrih. Tapi, pamrih di dalam Islam—misalnya, jika tekun beribadah maka akan mendapatkan surga—itu pamrih yang sah atau halal. Tingkatan seperti ini adalah tingkatan orang-orang awam.

Namun, ada pula tingkatan para sufi, yaitu tingkatan cinta. Di mana, mereka sudah terbebaskan dari adanya rayuan pamrih itu sendiri. Jadi, walaupun di dalam Alquran dijanjikan surga, itu sudah tidak membuat mereka tergiur untuk beramal baik.

Maka apa yang membuatnya tergerak? Satu-satunya yang membuat mereka tergiur untuk beramal saleh adalah perjumpaan dengan Tuhan itu sendiri. Artinya, kerinduan hamba kepada Rabbnya.

Benarkah hadis yang mengatakan, “Jika sudah mencintai seorang hamba, Allah tidak akan lagi mempedulikan dosa-dosanya”?

Itu sangat rasional. Misalnya, kalau kita mencintai seseorang, maka kita pasti menafikan kekurangan-kekurangan orang yang kita cintai. Itu namanya ’ain al-hubbi (kacamata cinta). Adapun kebalikannya adalah ’ain asy-syukhthi (kacamata kebencian). Kalau kacamata kebencian, maka yang tampak di penglihatan seseorang itu adalah keburukan dari si orang yang dibenci itu.

Karena itu, ada doa dari salah satu wali kutub, yaitu Syekh Abul Hasan asy-Syadzili. Dikatakannya, “Allahumma ij'al sayyiatina sayyiaati man ahbabta, wala taj'al hasanaatina hasanati man abghadtah.” Ya Allah, jadikanlah keburukan kami sebagai keburukan yang Engkau cintai. Dan janganlah Engkau jadikan kebaikanku sebagai kebaikan yang Engkau benci.

Jadi, walaupun ada sebuah keburukan, tapi jika itu muncul dari orang yang dicintai oleh Allah SWT, maka cinta itulah yang akan menghapus keburukan-keburukan itu.

Kemudian, ada juga kisah ketika Allah Ta’ala menyampaikan kepada Syekh Muhammad Abdul Jabbar an-Nifari. Kisah ini terangkum dalam kitab Al-Mawaqif wal Mukhtabat. Jadi, betul kalau cinta Allah itu penghapus kesalahan-kesalahan.

Apakah itu berarti si hamba Allah tidak perlu lagi menjalankan syariat atau beribadah?

Bukan seperti itu cara memahaminya. Jadi, kalau Allah mencintai seorang hamba, otomatis hamba tersebut cinta kepada Allah. Kalau cinta kepada Allah Ta’ala, justru orang itu menjadi seorang insan yang paling terdepan dalam melaksanakan segala perintah-Nya.

Jadi, tidak mungkin Allah mencintai seorang hamba, tetapi hamba itu kemudian tidak cinta Allah. Sebab, cinta hamba kepada Allah itu pantulan, yaitu pantulan dari cinta Allah kepada hamba itu.

Sementara, orang yang tetap cinta Allah itu pasti paling terdepan dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya. Bahkan, ia akan dengan senang hati dan tanpa pamrih melakukannya. Dia akan mahabah, yakni lupa akan kepentingan diri sendiri karena mendahulukan cintanya kepada Allah SWT.

Bagaimana cinta Allah kepada hamba-Nya terkait dengan upaya orang itu meneladan Nabi Muhammad SAW?

Cinta Allah kepada hamba-Nya itu disyaratkan bahwa si hamba itu meneladan Kanjeng Rasul SAW. Sebab, kekasih paling agung di hadapan Allah adalah Nabi Muhammad SAW. Maka, adanya posisi beliau sebagai teladan menjadi syarat bagi seseorang untuk dicintai oleh Allah SWT.

Artinya, setiap jalur kita yang tertuju—dari hamba kepada Allah Ta’ala—itu pasti melewati pintu Kanjeng Nabi. Tidak ada pintu selain itu.

Kaum sufi sering mengekspresikan gagasannya dengan medium sastra. Apa yang membuat sastra begitu efektif?

Sastra itu kan menggunakan bahasa simbolik. Dan, bahasa simbolik itu kelebihannya adalah menampung sekian banyak makna di dalam kalimat-kalimat yang ringkas. Berikutnya, sastra juga merupakan alat ungkap yang sangat efektif.

Jadi, dimensi estetika di dalam sastra itu memungkinkannya menampung adanya nilai-nilai spiritualitas yang agung. Dengan demikian, sastra menjadi sarana untuk berkeluh kesah, bermunajat, yang dilakukan para sufi terhadap Tuhannya. Jadi, dengan bahasa sastra mereka menjadi lebih leluasa untuk mengungkapkan adanya perasaan-perasaan cinta kepada hadirat Ilahi.

Menurut Anda, mengapa mahabah diperlukan dalam laku beragama?

Karena mahabah itulah yang merupakan energi paling dahsyat di dalam mengekspresikan ajaran-ajaran agama. Jangankan berkaitan dengan dimensi spiritual. Berkaitan dengan cinta terhadap sesama saja, mahabah itu memiliki energi yang luar biasa untuk menjadikan seseorang tetap bisa survive.

Contohnya, kalau orang yang lagi kasmaran berdiam diri lama-lama dengan kekasihnya, maka itu akan terasa sangat sebentar. Itu disebabkan adanya energi yang luar biasa dalam cinta itu sendiri. Nah, kalau orang sampai jatuh hati kepada Allah SWT, maka ibadah-ibadah yang dikerjakannya itu akan sangat terasa sebentar saja, dan bisa berlama-lama karena ingin menikmatinya. Sebab, energi cinta itu menjadikan kekuatan seseorang menjadi berlipat-lipat.

photo
ILUSTRASI Dalam menghadapi wabah Covid-19, berprasangka baik kepada Allah harus selalu diutamakan. Demikian menurut pakar kajian tasawuf, Kuswaidi Syafiie. - (DOK REP Putra M Akbar)

Cara Sufi Memandang Pandemi

 

Indonesia hingga saat ini masih berjuang menghadapi pandemi. Dari sudut pandang kaum sufi, fenomena wabah Covid-19 tidak lepas dari Kemahakuasaan Allah SWT. Hal itu disampaikan Kiai Kuswaidi Syafi’ie, pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Jadi, Covid-19 ini bukan makhluk yang ‘gila tanpa aturan’, melainkan bagian dari pengejawantahan keagungan Allah Ta’ala, madhahir jalalillah,” ujar mubaligh yang banyak menulis buku-buku tasawuf itu saat dihubungi Republika beberapa waktu lalu.

Lelaki yang akrab disapa Cak Kus ini pun menyarankan kaum Muslimin agar selalu berbaik sangka kepada Allah. Di samping itu, ikhtiar yang benar juga perlu dilakukan. Salah satunya dengan mematuhi protokol pencegahan virus.

“Berbaik sangka itu sangat diperlukan. Ingat baik-baik bahwa Allah sendiri tidak pernah berbuat zalim atau bebuat aniaya kepada hamba-Nya. Allah berfirman (dalam hadis qudsi), ‘Inni harramtu zhulma ‘ala nafsi.’ Sesungguhnya Aku (Allah) mengharamkan atas diri-Ku berbuat zalim,” tuturnya.

Ada anggapan sementara kalangan bahwa Covid-19 merupakan azab. Namun, bagi Cak Kus, wabah tidak bisa dipandang sebagai azab sepenuhnya. Sebab, bagi sebagian manusia hal itu pun bisa berarti teguran ataupun ujian.

“Jadi tergantung. Bagi orang yang tidak memiliki ventilasi keimanan secuil pun dan yang ada cuma pengingkaran, mungkin bisa berarti azab. Sedangkan bagi orang yang waspada, berarti ini merupakan ujian,” katanya.

Profil

Bagi para penggemar karya sastra sufi kontemporer, nama Kuswaidi Syafi’ie mungkin tidak asing. Cak Kus memulai pendidikannya di Pondok Pesantren Nurul Islam, Kabupaten Sumenep. Begitu lulus dari Madrasah Aliyah pada 1992, ia memilih Jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi S-2 dijalaninya pada kampus yang sama dengan mengambil topik filsafat Islam.

Sejak 2012, pengkaji karya-karya Ibnu Arabi itu mendirikan Pondok Pesantren Maulana Rumi di Sewon, Bantul, DIY. Yang dibahas di sana hanyalah kitab-kitab tasawuf. Tidak ada umpamanya kajian atas kitab-kitab fikih atau ilmu alat. Pesantren tersebut rutin menggelar pengajian terbuka yang sering diikuti banyak kalangan, termasuk mahasiswa dan dosen.

“Yang ikut kajian bisa sampai 70-an orang dari berbagai kalangan. Sebelum pandemi, jumlahnya bisa sampai ratusan orang. Ada pengajian yang pekanan, ada yang per 35 hari,” jelasnya.

Dalam situasi pandemi, Cak Kus tetap menggelar pengajian kitab-kitab tasawuf. Salah satu kitab yang diulasnya adalah Fushush al-Hikam. Penyampaian materi pun dilakukan secara daring.

Sejauh ini, belasan buku yang berkaitan dengan tasawuf telah ditulisnya. Beberapa di antaranya adalah Kitab Kenabian, Allah Maha Pencemburu, Nada Dasar Cinta, Tarian Mabuk Allah, dan Berjumpa Tuhan di Gunung Sinai.


×