Keluarga Palestina duduk di dalam rumah mereka di Gaza yang rusak parah kibat pengeboman oleh militer Israel, Juni 2021 lalu. | AP/Adel Hana
24 Jul 2021, 03:45 WIB

PBB: Pillay Selidiki Konflik Israel-Palestina

Tim akan melaporkan temuan mereka di Dewan HAM PBB pada Juni 2022.

JENEWA – Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, Kamis (22/7) menunjuk Navi Pillay untuk memimpin komisi penyelidikan internasional atas dugaan kejahatan yang dilakukan selama konflik terbaru antara Israel dan Hamas di Gaza. Tim penyelidik ini akan mempresentasikan laporan pertama mereka pada Juni 2022.

Pada akhir Mei 2021, Dewan HAM PBB sepakat untuk membuka penyelidikan dengan mandat luas untuk mengungkap dugaan pelanggaran HAM dalam perang terbaru yang terjadi pada 10-21 Mei 2021. Penyelidikan tim pimpinan Pillay tidak hanya meliputi Gaza dan Tepi Barat, tapi juga pelanggaran di Israel selama konflik tersebut.

Piliay akan memimpin panel tiga orang yang juga terdiri dari pakar asal India, Miloon Kothari, dan pakar asal Australia, Chris Sidoti. Para penyelidik diminta mengidentifikasi pelaku pelanggaran yang terjadi sepanjang perang. Tujuannya adalah untuk meminta pertanggungjawaban mereka.

Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Michelle Bachelet mengatakan kepada Dewan HAM pada saat itu bahwa serangan mematikan Israel di Gaza mungkin merupakan kejahatan perang. Sedangkan Hamas juga dinilai telah melanggar hukum humaniter internasional karena menembakkan roket ke Israel.

Terkait

Israel pun mengulangi penolakannya terhadap penyelidikan tersebut. "Tidak mengherankan, tujuan dari mekanisme ini adalah untuk menemukan pelanggaran Israel sambil menutupi kejahatan yang dilakukan oleh Hamas, sebuah organisasi teroris di Jalur Gaza," kata misi Israel untuk PBB di Jenewa dalam sebuah pernyataan.

"Seperti yang diumumkan Israel segera setelah sesi khusus, tidak dapat dan tidak akan bekerja sama dengan penyelidikan semacam itu," katanya pada Kamis.

Pada 10-21 Mei lalu, Israel menggempur Gaza. Aksi itu dilancarkan sebagai respons atau balasan atas serangan roket kelompok Hamas. Ketegangan di Masjid al-Aqsha menjadi alasan Hamas meluncurkan serangan ke Israel.

Sedikitnya 270 warga Gaza, 66 di antaranya adalah anak-anak, wafat selama agresi Israel. Sementara warga yang mengalami luka-luka dilaporkan mencapai lebih dari 1.900 orang.

Menurut Kementerian Perumahan Gaza, pertempuran itu menghancurkan 1.500 unit rumah. Sebanyak 1.500 unit rumah lainnya rusak dan tak dapat diperbaiki. Seorang pejabat di Kementerian Perumahan Gaza menyebut biaya pembangunan kembali dapat mencapai 150 juta dolar AS. 

photo
Navi Pillay. - (AP Photo/Paul Schemm)

Mengenal Navi Pillay

Navi Pillay adalah warga Afrika Selatan kelahiran 1941. Ia meraih gelar BA dan LLB dari Natal University di Afsel. Gelar master dan doktor ia peroleh dari Harvard University, Amerika Serikat.

Ibu dua anak ini menjadi perempuan pertama yang membuka praktik hukum di Provinsi Natal, Afrika Selatan. Ia kerap mewakili para aktivis antiapartheid dan mampu membongkar penyiksaan di penjara di Robben Island, Afrika Selatan.

Menurut laman resmi Dewan HAM PBB, Pillay dipilih Majelis Umum PBB untuk menjadi hakim Pengadilan Kejahatan Internasional (ICT) untuk Rwanda pada 1995. Pada 1999-2003, ia kemudian menjadi presiden ICT. Pillay berperan dalam menetapkan dasar hukum yang menyatakan pemerkosaan sebagai genosida.

Pillay kemudian menjadi hakim Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada 2003-2008. Bersama tokoh lain, ia membentuk organisasi HAM wanita internasional, Equality Now. Ia juga terlibat dalam sejumlah organisasi lain yang terkait anak-anak, tahanan, dan korban penyiksaan serta hak budaya.

Pillay kemudian menjadi Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia dari 2008-2014. Saat ini ia menjadi hakim di Pengadilan Internasional (ICJ) yang mengadili dugaan genosida di Myanmar. 

Sumber : Reuters/Associated Press


×