Haedar Nashir | Daan Yahya | Republika
24 Jul 2021, 03:50 WIB

Kredo Kemanusiaan Semesta

Pandemi dan problem semesta saat ini meniscayakan filosofi baru tentang kredo kemanusiaan.

OLEH PROF HAEDAR NASHIR 

Dunia kemanusiaan masih berduka! Satu persatu orang-orang tercinta di sekitar kita meninggal terkait Covid-19. Secara manusiawi tiada derita yang memilukan kecuali terpapar pandemi ini. Sejak sakit hingga meninggal terisolasi.

Rumah sakit penuh melebihi kapasitas. Dokter dan tenaga kesehatan harus memilih pasien yang berlawanan dengan jiwa etika profesinya. Meski profesional, hati mereka terluka oleh situasi tragis ini. Apalagi dituding mengcovidkan pasien.

Tapi ironi. Sebagian orang masih memproduksi teori konspirasi dan cara pandang negatif yang muaranya meragukan Covid-19 dan vaksinasi. Lalu abai seolah duka pandemi ini lumrah dan wabah ini hanya flu biasa. Mereka yang waspada dan gigih berikhtiar malah dipandang paranoid dan penakut.

Terkait

Jumlah kematian Covid-19 masih diperbandingkan dengan kasus yang lebih besar. Padahal data membuktikan, orang yang meninggal dan terpapar sangatlah besar. Hingga minggu ketiga Juli tercatat 4,1 juta lebih warga dunia dan 79 ribu saudara sebangsa meninggal akibat pandemi ini. Apa masih kurang?

 
Penderitaan akibat pandemi ini mestinya diletakkan dalam kredo kemanusiaan yang humanistik dan profetik tentang hakikat hidup dan mati dari makhluk Tuhan yang bernama manusia. 
 
 

Menjaga kehidupan

Kita tidak sedang meratapi pandemi dan kematian. Musibah bagi kaum beriman adalah takdir yang niscaya diterima ikhlas disertai ikhtiar dan sabar.

Kematian itu pasti. Ketika ajal tiba siapapun tidak dapat menunda atau menyegerakan (QS an-Nahl: 61). Masalahnya, mengapa masih berpikir instrumental yang negatif dalam memandang pandemi dengan korban yang memilukan itu?

Penderitaan akibat pandemi ini mestinya diletakkan dalam kredo kemanusiaan yang humanistik dan profetik tentang hakikat hidup dan mati dari makhluk Tuhan yang bernama manusia. Manusia yang Tuhan sendiri menghormati dan memuliakannya “fi ahsan at-taqwim”, sebaik-baik ciptaaan. Makhluk yang nilai satu jiwa baik hidup maupun mati sangat berharga di mata Tuhan (QS al-Maidah: 32).

Maka letakkan musibah global ini dalam pandangan kemanusiaan menurut Steven Pinker (2018) disebut “a humanistic sensibility”, yang menumbuhkan sentimen empati seperti kemurahan hati, belas kasih, dan rasa saling memahami satu sama lain.

Sifat-sifat empati tersebut menghidupkan watak alami manusia sebagai makhluk yang “merasa” (sentient) seperti senang dan sedih, suka dan duka, bahagia dan derita. Sifat-sifat manusiawi yang alamiah itu boleh jadi sering terdelusi oleh pola pikir sekuler yang rasional-instrumental maupun pandangan keagamaan yang puritan dangkal.

Islam sejatinya kaya dengan pemikiran dan orientasi sikap hidup yang humanistik itu, yang memperoleh pijakan kokoh pada humanisme-profetik. Islam agama yang mengajarkan keadaban akhlak mulia sebagai risalah utamanya bersama misi rahmatan lil-‘alamin.

Allah dengan tegas memfirmankan, yang artinya “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS al-Isra: 70).

 
Pandemi ini mestinya makin menyadarkan manusia untuk menghargai hidup dan mati dalam satu paradigma metafisika yang utuh, bukan parsial dan instrumental.
 
 

Maka sungguh mulia manakala sesama manusia menaruh empati dan simpati kepada saudara-saudara yang ditimpa musibah akibat wabah yang ganas ini. Jika tidak atau belum bisa menolong, setidaknya jangan mengabaikan dan menambah beban sesama. Bersikaplah welas asih. Bukankah Nabi Muhammad mengajarkan, "Sungguh Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.'' (HR Muslim).

Mereka yang sakit dan meninggal itu manusia yang harus dihormati martabatnya. Kematian pun diletakkan secara manusiawai dalam mata rantai hidup yang bermakna.

Pandemi ini mestinya makin menyadarkan manusia untuk menghargai hidup dan mati dalam satu paradigma metafisika yang utuh, bukan parsial dan instrumental. Cara pandang keagamaan yang lebih menghargai kematian ketimbang kehidupan dalam fatalisme jabariah dan puritanisme dangkal mesti diperbarui dengan perspektif bayani, burhani, dan irfani yang utuh.

Pandangan pragmatis yang menempatkan kepentingan ekonomi, politik, dan pola pikir instan yang mengabaikan keselamatan jiwa manusia mesti dikoreksi ke paradigma yang interkoneksi. Sama halnya silang sengketa, oportunisme, dan kegarangan politik yang menambah berat beban bangsa mesti diluruhkan agar politik berjiwa futuwah dan berwawasan kemanusiaan.

Agama dan umat beragama atas nama Allah niscaya prokemanusiaan. Lokus utamanya pada kredo kemanusiaan profetik untuk menjaga jiwa manusia (hifdz al-nafs) sebagai satu kesatuan tujuan syariat dalam menjaga agama (hifdz din), menjaga harta (hifdz al-mal), menjaga keturunan (hifdz al-nasl), dan menjaga akal pikiran (hifdz al-‘aql) untuk kelangsungan hidup manusia meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Umat beragama hadir dengan pikiran dan tindakan cerdas mencerahkan. Hidup dan mati manusia diletakkan berharga, bermakna, dan bertujuan mulia!

Reorientasi pandangan

Pandemi Covid-19 dan berbagai bencana alam yang terjadi di seluruh belahan bumi secara kauniah mengajarkan manusia agar makin rendah hati terhadap sesama maupun alam semesta, serta lebih berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Pencitpa. Kuasa takhta, materi, ilmu, dan segala otoritas manusia saat ini nyaris tak berdaya menghadapi makhluk Tuhan yang bernama korona.

Arogansi dan oligarki apa pun tak berguna hadapi virus yang mematikan ini. Diperlukan ilmu dan hikmah yang melintasi dalam menghadapi pandemi yang sangat berat ini.

 
Cara pandang menghadapi pandemi Covid-19 yang dahsyat ini memerlukan perenungan teologis atau filosofis baru yang lebih humanistik, transedensi, dan membumi.
 
 

Mereka yang beriman tidak menunjukkan sikap tazakku (semuci) dan takabbur (angkuh diri) dalam belenggu paham keagamaan yang merendahkan martabat manusia, dunia, ilmu pengetahuan, dan akal budi. Mereka yang sekular tidak merasa paling digdaya di atas singgasana rasionalitas, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang mengabaikan Tuhan dan agama.

Pintu langit dan bumi niscaya dibuka bersama untuk penyelamatan hidup seluruh umat manusia dan alam semesta yang dianugerahkan Tuhan untuk semua. Hidup umat manusia dan ekosistem dunia saat ini sudah terlalu sarat beban jika dikelola secara rakus, egois, hegemoni, dan arogansi.

David Wallace-Wells (2019) mengingatkan ancaman “The Uninhibitable Earth”, tentang masa depan ketika bumi tidak dapat lagi dihuni. Ancaman dari perubahan iklim lebih total dan lebih luas ketimbangan ancaman dari bom bikinan manusia.

Berbagai bencana alam yang tidak lagi alami, badai, kelaparan, laut yang sekarat, udara yang tidak dapat dihirup, wabah akibat pemanasan, ambruknya ekonomi, konflik akibat iklim, terkait dengan perubahan iklim global. Kehidupan di ambang kepunahan menyerupai kiamat (the day after). Manusia tidak dapat lagi memilih planet karena inilah tempat satu-satunya di alam semesta yang dapat disebut sebagai rumah.

Cara pandang menghadapi pandemi Covid-19 yang dahsyat ini memerlukan perenungan teologis atau filosofis baru yang lebih humanistik, transedensi, dan membumi. Pendekatannya tidak bisa instrumental ala positivisme ilmu maupun paham agama yang dogmatis.

Egoisme iptek, keagamaan, ekonomi, politik, dan golongan dalam menghadapi pandemi yang dahsyat ini hanya akan menambah rumit persoalan ketimbang memberi jalan keluar. Apalagi disertai sengketa politik tak berkesudahan yang menyebabkan kehidupan kolektif makin sarat beban. Semua pihak niscaya menyatukan pandangan dan langkah terbaik dan rendsh hati demi penyelamatan hidup bersama.

 
Di negeri ini dan fora dunia hadir praksis kemanusiaan yang luhur demi penyelamatan hidup umat manusia tanpa batas.
 
 

Khusus bagi para petinggi negeri yang disumpah atas nama konstitusi agar sepenuh hati dan menunjukkan konsistensi dalam melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Elite negeri dari semua golongan dituntut kearifan dan konstribusinya yang nyata untuk mengedepankan kepentingan kemanusiaan di atas ego diri dan kelompok.

Nasib rakyat dengan segala penderitaannya menjadi pertaruhan utama yang menuntut budi luhur para pimpinannya. Para pemimpin dengan filosofi prokehidupan dan properadaban adiluhung dengan visi kemanusiaan yang melintas batas. Bukan elite-elite negeri pengejar kursi, legasi, dan popularitas diri yang egois dan miskin visi.

Roy Scranton, ketika mengupas “Learning to Die in the Anthropocene”, memperingatkan bahwa masalah terbesar yang dihadapi manusia saat ini adalah tantangan filosofis, yakni bagaimana mengerti bahwa peradaban ini sudah “mati”. Pemikiran ini menggambarkan peralihan pemikiran menuju “kiamat”, baik secara harfiah maupun budaya, politik, dan etika. Atau ada pilihan lain berupa refleksi menghadapi pergulatan manusia  menuju ke arah sebaliknya.

Artinya pandemi dan problem semesta saat ini meniscayakan filosofi baru tentang kredo kemanusiaan yang mengajarkan cara pandang dan praksis kebajikan yang melintasi untuk menyelamatkan kehidupan dan peradaban umat manusia di bumi milik bersama. Di negeri ini dan fora dunia hadir praksis kemanusiaan yang luhur demi penyelamatan hidup umat manusia tanpa batas.

Muhammadiyah selain proaktif memberi panduan beragama di kala darurat, berkiprah nyata menghabiskan dana ratusan miliar lebih atasi pandemi. Sejumlah pengusaha humanis tergerak hatinya berbagi rezeki untuk meringankan nasib bangsa.

Dari Oxford University Inggris tampil sosok Sarah Gilbert, yang melepas hak paten ilmiahnya untuk vaksin Astrazeneca, padahal jika mau dia bisa kaya raya setara pengusaha kelas dunia. Semua memberi contoh kearifan menghidupkan kredo kemanusiaan semesta adiluhung untuk penyelamatan peradaban hidup bersama!


×