Pelajar didampingi gurunya melakukan uji coba berkendara mobil listrik di SMKN 4 Pandeglang, Banten, Selasa (9/3/2021). Para pelajar dibantu guru SMKN 4 Pandeglang mengembangkan mobil listrik yang telah diuji coba dapat menempuh kecepatan hingga 40 km/jam | ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
22 Jul 2021, 11:42 WIB

Mengejar Target Produksi Sejuta Unit Mobil Listrik

Harga baterai mobil listrik terus mengalami penurunan.

OLEH ERIC ISKANDARSYAH Z

Pasar mobil listrik membawa peluang besar bagi Indonesia. Ini karena kita memiliki bahan baku baterai dan potensi pasar di sektor otomotif yang terbilang besar.

Hal ini pun mendorong Kementerian Perindustrian untuk mengejar produksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Tanah Air. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, saat ini, pemerintah telah menetapkan roadmap produksi untuk EV.

"Target produksi EV roda empat atau lebih pada 2025 adalah sekitar 400 ribu unit, kemudian pada 2030 meningkat jadi 600 ribu, dan pada 2035 ditargetkan mencapai satu juta unit," kata Agus Gumiwang saat menyampaikan keynote speech dalam Investor Daily Summit 2021 yang digelar beberapa waktu lalu.

Terkait

Dalam sesi diskusi dengan tema "Mendorong Industri Otomotif Ramah Lingkungan" itu, dia juga mengungkap bahwa target itu perlu diimbangi dengan sejumlah strategi. Antara lain, dengan imbauan penggunaan EV sebagai kendaraan operasional sejumlah instansi pemerintah.

"Ditargetkan, jumlah EV yang digunakan instansi pemerintah pada 2025 telah mencapai 65 ribu unit. Kemudian, pada 2030 jumlahnya bisa ditingkatkan menjadi 130 ribu unit," ucapnya.

Dengan roadmap itu, nantinya Indonesia akan mampu menekan emisi dan penggunaan bahan bakar fosil secara signifikan. Roadmap ini juga dinilai sejalan dengan target penerapan EV pada pasar global. Menurutnya, permintaan EV global pada 2040 akan mencapai 55 juta unit.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Perindustrian RI (kemenperin_ri)

Lewat roadmap produksi EV, diharapkan Indonesia mampu menjadi salah satu pemain utama dalam memenuhi permintaan EV yang terus mengalami peningkatan. Di pasar domestik, permintaan kendaraan hibrida pada 2019 berada di angka 685 unit.

Kemudian, sepanjang Januari hingga November 2020, permintaan kendaraan hibrida naik menjadi 927 unit. Peningkatan signifikan juga terjadi pada permintaan battery electric vehicle (BEV) yang pada Januari hingga November 2020 telah diserap pasar sebanyak 290 unit. Padahal, beberapa waktu silam, jenis kendaraan ini tidak diminati pasar.

Untuk terus mendongkrak permintaan EV, pemerintah juga terus menyiapkan sejumlah kemudahan kepemilikan yang dituangkan lewat Peraturan Bank Indonesia Nomor 22/13/PBI/2020. Dengan peraturan itu, konsumen EV dapat menikmati kemudahan berupa uang muka nol persen dan cicilan dengan bunga ringan. Konsumen yang membutuhkan tambahan daya listrik untuk memasang home charger juga dapat menikmati diskon biaya penambahan daya listrik.

 

Dukungan industri baterai

Besarnya potensi sumber daya baterai yang dimiliki oleh Indonesia diharapkan bisa membuat Indonesia menjadi salah satu pemain utama dalam pasar EV dalam negeri dan pasar global. Oleh karena itu, diperlukan kuda-kuda sehingga potensi itu dapat dimanfaatkan secara optimal dalam momentum yang tepat.

Salah satu ancang-ancang yang perlu dimatangkan adalah soal fasilitas produksi baterai.

Agus mengatakan, saat ini telah terdapat sembilan perusahaan baterai yang siap untuk mendukung Indonesia dalam pasar EV. "Sembilan perusahaan itu terdiri dari lima perusahaan pengolah bahan baku baterai dan empat perusahaan produsen baterai," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Perindustrian RI (kemenperin_ri)

Kesembilan perusahaan itu merupakan industri yang terletak di Sumatra, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Diharapkan, industri itu nantinya tak hanya mampu memenuhi kebutuhan baterai di dalam negeri. Akan tetapi, juga mampu mengisi kebutuhan ekspor baterai untuk pasar EV global.

"Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah sumber daya nikel terbesar di dunia. Karena, 30 persen sumber daya nikel yang ada terletak di wilayah Indonesia," ucapnya.

Cadangan nikel yang terdapat di Indonesia sendiri totalnya ada sebanyak 21 juta ton. Potensi ini pun diharapkan bisa dioptimalkan dengan baik, mulai dari proses eksplorasi, produksi, hingga pengelolaan limbah.

Dalam mobil listrik, baterai merupakan salah satu komponen utama penentu performa dan kepraktisan dari kendaraan. Baterai juga menjadi salah satu komponen utama yang menentukan harga dari kendaraan listrik.

Oleh karena itu, saat ini, sejumlah pabrikan terus mencari cara untuk mampu menyajikan baterai dengan harga yang murah. Chief Operating Officer (COO) Hyundai Motor Asia Pacific Lee Kang Hyun mengatakan, kondisi saat ini telah membuktikan bahwa harga baterai mobil listrik terus mengalami penurunan.

"Saat ini, harga baterai berada pada level 150 dolar AS per kWh. Diperkirakan, pada 2024, harganya akan berada di bawah 100 dolar AS per kWh," kata Lee Kang Hyun yang juga menjadi panelis dalam acara yang sama.

Dia yakin, penurunan itu akan terus terjadi karena memang selama ini harga baterai telah berhasil ditekan secara signifikan. Menurutnya, pada 2010, harga baterai EV berada pada level seribu dolar AS. Lima tahun kemudian, harganya sudah berada pada level 300 dolar AS per kWh.

 
Sekitar 40 persen harga mobil listrik dipengaruhi oleh harga baterai.
 
 

Dengan adanya penurunan harga baterai, nantinya harga EV juga bisa terus ditekan. Mengingat, baterai memiliki kontribusi yang sangat besar dalam menentukan harga baterai. "Sekitar 40 persen harga mobil listrik dipengaruhi oleh harga baterai," ucapnya.

Dalam menggarap pasar EV dalam negeri maupun pasar global, Hyundai juga telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mampu menyajikan produk yang unggul dalam harga kompetitif. Salah satu strategi yang telah dilakukan oleh pabrikan Korea ini adalah dengan memindahkan kantor pusat Hyundai Motor Asia Pacific dari Malaysia ke Indonesia.

Perpindahan yang dilakukan tahun lalu itu ditetapkan atas pertimbangan potensi sumber daya dan potensi pasar otomotif di Indonesia. Perpindahan itu pun diikuti oleh pembangunan pabrik di Cikarang, Jawa Barat.

"Kami melakukan investasi di Indonesia sebesar 1,5 miliar dolar AS. Investasi itu digunakan untuk membangun fasilitas produksi seluas 77 hektare dengan kapasitas produksi sekitar 150 ribu hingga 250 ribu unit per tahun," ucapnya. 


×