Warga mendistribusikan daging kurban secara door to door di kawasan Jati Padang RT 013/RW02, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (20/7/2921). melalui haji dan kurban, cinta Tuhan dan cinta kemanusiaan harus diaktualisasikan dalam memaknai kehidupan. | Republika/Thoudy Badai

Opini

21 Jul 2021, 03:45 WIB

Visi Kemanusiaan Haji dan Kurban

Melalui haji dan kurban, cinta Tuhan dan cinta kemanusiaan harus diaktualisasikan dalam memaknai kehidupan.

MUHBIB ABDUL WAHAB, Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah, Wakil Ketua Umum IMLA Indonesia

Pemerintah Arab Saudi tahun ini resmi tidak menerima kehadiran jamaah haji dari luar Saudi. Jamaah haji dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Indonesia, kembali batal berhaji karena alasan pandemi.

Keselamatan, kesehatan, dan kemaslahatan kemanusiaan menjadi pertimbangan utamanya. Pembatalan pemberangkatan haji tidak berarti pembatalan nilai-nilai kemanusiaan, yang idealnya tetap dipetik dari ibadah haji dan kurban.

Hikmah kemanusiaan dari prosesi ibadah haji dan kurban harus dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, haji dan kurban merupakan ibadah multidimensi paling unik, kaya visi, dan pesan kemanusiaan.

Dimensi haji

Haji merupakan ibadah multidimensi yang diikuti jutaan tamu Allah dari segala penjuru dunia. Haji pun berdimensi sosio-kultural.

 
Hikmah kemanusiaan dari prosesi ibadah haji dan kurban harus dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. 
 
 

Sepintas, ibadah haji tampak bersifat fisik, seperti berpakaian ihram, tawaf, sai antara bukit Safa dan Marwa, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, melempar jumrah dan mabit di Mina, serta mencukur atau memendekkan rambut (tahallul).

Namun, di balik semua ritualitas itu, sarat visi dan pesan kemanusiaan substansial, yang bermuara pada pembentukan kesalehan jamaah haji. Ibadah haji juga sarat dimensi edukasi, yaitu pendidikan sejarah evolusi dan transformasi kemanusiaan universal.

Sebab, haji dan kurban melibatkan aktor teladan kemanusiaan: Nabi Adam dan istrinya (Hawa’), Nabi Ibrahim, Hajar (istrinya), Nabi Ismail (anaknya), dan tentu saja Nabi Muhammad SAW serta para sahabatnya. Mereka teladan kemanusiaan yang menginspirasi.

Kompleks Masjidil Haram (Ka’bah, Hijir Ismail, sumur Zamzam, tempat sai), Arafah dan Jabal Rahmah, Muzdalifah, Mina, tempat ziarah keagamaan lainnya di Makkah dan sekitarnya juga sarat pelajaran sosial historis.

Menurut Imam al-Ghazali, haji sebagai ziarah spiritual merupakan manifestasi rahbaniyyah.

 
Artinya, jamaah haji yang berziarah tersebut, harus meninggalkan semua kegiatan duniawi dan berkonsentrasi penuh pada ziarahnya.
 
 

Artinya, jamaah haji yang berziarah tersebut, harus meninggalkan semua kegiatan duniawi dan berkonsentrasi penuh pada ziarahnya, dengan berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah untuk meraih 15 jenis pengampunan dan cinta-Nya.

Dimensi sosio-historis haji dengan aneka simbol yang “terkoneksi” dengan zikrullah dan taqarrub ila Allah merupakan peta jalan kehidupan, yang harus dilalui jamaah haji untuk merengkuh cinta Ilahi dan cinta kemanusiaan.

Ibadah haji menyerukan penyelaman jejak rekam masa lalu untuk menatap masa depan lebih humanis, progresif, produktif, dan mencerahkan. Manasik haji itu melatih dan membiasakan jamaah haji memiliki kompetensi dan keterampilan hidup manusiawi.

Dengan kata lain, orientasi sosial historis haji dan kurban adalah menumbuhkan kesadaran historis bahwa cinta Ilahi harus menjadi fondasi dan peta jalan kehidupan yang bervisi kemanusiaan.

Allah memerintahkan Ibrahim membangun Ka’bah sebagai poros dan kiblat ibadah berbasis akidah tauhid, beragama secara hanif: benar, lurus, dan autentik; dan beramal saleh yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

Spirit cinta

Haji dan kurban memang kaya spirit cinta. Karena spirit cinta, Adam dan Hawa, yang berpisah sekian lama dan saling mencari, dipertemukan kembali oleh Allah di Jabal Rahmah, padang Arafah. Keduanya mencari cinta sejati: cinta kemanusiaan dan cinta Tuhan.

 
Cinta kemanusiaan juga didemonstrasikan Hajar saat mencari air kehidupan bagi putranya yang kehausan.
 
 

Dalam merengkuh cinta kemanusiaan, spirit perjuangan dan kerelaan berkorban membuahkan kearifan (‘arafah) mendalam, baik personal, sosial, keduniaan, maupun kearifan keakhiratan.

Karena itu, jamaah haji yang belajar meraih cinta Ilahi harus berhenti sejenak dengan berefleksi (wuquf) di Arafah. Jadi, wukuf di Arafah, sebagai puncak ibadah haji merupakan perjuangan spiritual untuk menemukan cinta Ilahi dan cinta manusiawi sejati.

Dimensi cinta Ilahi dan manusiawi diaktualisasikan dengan mengembangkan kesadaran humanis, menghormati, dan menegakkan HAM, dan kesadaran eskatologis dalam menatap cinta masa depan: cinta ukhrawi dan cinta Tuhan.

Di Arafah pula, Nabi menyampaikan orasi wada’, yang menyerukan pentingnya cinta kemanusiaan dengan tidak menumpahkan darah, menjaga properti (antikorupsi, antikekayaan ilegal, dan tidak halal), serta menjaga harga diri, harkat, dan martabat kemanusiaan.

Cinta kemanusiaan juga didemonstrasikan Hajar saat mencari air kehidupan bagi putranya yang kehausan. Saat diminta tinggal oleh suaminya, Ibrahim, sekaligus ditugasi merawat bayi Ismail, di tanah tandus dan gersang, cinta Hajar tumbuh mengasihi buah hatinya.

Karena keyakinan dan cintanya kepada Allah yang tulus, Hajar berusaha membesarkan dan mendidik putranya dengan sentuhan kasih sayang. Cinta buah hati membuat sang ibu mengerahkan segala tenaga dan usahanya demi masa depannya.

Etos pengorbanan tanpa mengenal lelah demi sang buah hati menginspirasi sang ibu berhati mulia dan tulus (shafa), sehingga usahanya semata-mata mencapai keberkahan dan kepuasan (marwah) bagi masa depan anaknya.

 
Tradisi pengorbanan manusia atas nama apa pun harus dihapuskan. Yang harus disembelih adalah sifat kebinatangan negatif dan destruktif. 
 
 

Cinta seorang ibu yang tanpa pamrih, mengantarkan masa depan Ismail menjadi anak berbakti dan penuh dedikasi. Namun, saat sang anak mencapai usia sanggup berusaha, Ibrahim mendapat ujian keimanan, kesabaran, dan ketulusan melalui mimpi.

Allah memerintahkannya “menyembelih” Ismail. Drama pengorbanan ini sarat pembuktian cinta Tuhan dan kemanusiaan. Untuk menggapai cinta Tuhan diperlukan keimanan, kesabaran, dan keikhlasan autentik.

Cinta Tuhan harus mengalahkan segala bentuk cinta: keduniaan, harta benda, kedudukan, dan kekuasaan. Cinta Tuhan mengharuskan totalitas kepasrahan, ketaatan, dan ketulusan mengorbankan yang dicintainya, termasuk anak sendiri.

Mengapa yang dikorbankan anak yang dicintainya? Karena, manusia sering terjebak cinta dunia. Ketulusan Ibrahim mengorbankan anaknya yang diganti oleh Allah dengan hewan sembelihan besar, menunjukkan manusia tidak sepatutnya dikorbankan.

Tradisi pengorbanan manusia atas nama apa pun harus dihapuskan. Yang harus disembelih adalah sifat kebinatangan negatif dan destruktif. Selain itu, ibadah kurban merupakan tolok ukur cinta seorang hamba kepada Tuhannya.

 
Karena itulah, hakikat ibadah kurban bukan terletak pada darah yang dialirkan dan daging yang dimakan atau dibagikan, melainkan pada visi kemanusiaan berupa ketulusan cinta dan takwa hamba kepada Allah.
 
 

Jika panjang jarak dan luas diukur dengan meter, kilometer atau mil; berat benda diukur dengan gram, kilogram, kuintal dan ton; dan kadar emas diukur dengan karat, kadar cinta kepada Allah diukur keikhlasan hamba mengorbankan “Ismail” yang dicintainya.

Jadi, melalui ibadah haji dan kurban, visi dan nilai kemanusiaan harus dihormati, dihargai, dicerdaskan, dan diberdayakan. Manusia tidak sepatutnya dikorbankan atau dijadikan objek kekerasan, penindasan, pelecehan, pembunuhan, dan sebagainya.

Karena itulah, hakikat ibadah kurban bukan terletak pada darah yang dialirkan dan daging yang dimakan atau dibagikan, melainkan pada visi kemanusiaan berupa ketulusan cinta dan takwa hamba kepada Allah.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi takwa dari (lubuk hati) yang dapat mencapainya.” (QS al-Hajj [22]: 37).

Dalam Sacrifice and Islamic Identity, Abelilah Ljamai menegaskan, haji dan kurban bukan ibadah ritual tahunan semata, melainkan identitas dan tradisi keberagamaan liberatif: menyelamatkan dan membebaskan manusia dari identitas dan karakter kebinatangan.

Dengan demikian, melalui haji dan kurban, cinta Tuhan dan cinta kemanusiaan harus diaktualisasikan dalam memaknai kehidupan, yang penuh perjuangan, pengabdian, kebermanfaatan, dan keberkahan. 


×