Ayah ikut berperan dalam pengasuhan anak (ilustrasi) | Huanshi Unsplash
12 Jul 2021, 08:23 WIB

Yuk, Ayah Ikut Terlibat Mengasuh Buah Hati

Ayah ideal adalah ayah yang berusaha untuk menjadi lebih baik.

Pasangan Rey Mbayang dan Dinda Hauw saat ini sedang berbahagia setelah dikaruniai seorang anak lelaki bernama Arshakalif Muhammad Mbayang pada akhir Juni lalu. Untuk mengurus sang buah hati, keduanya pun memutuskan untuk mengurusnya sendiri.

Lewat akun Instagram, Rey dan Dinda sering membagikan momen bersama merawat bayi yang disapa Shaka.

Langkah serupa juga dilakoni oleh Yandra Rahadian Perdana, seorang ayah asal Yogyakarta. Dia mengakui menjalankan peran sebagai ayah di masa sekarang sangat menantang. Menurutnya, apa yang merupakan teori dalam peranan sebagai ayah dan apa yang terjadi pada kenyataannya sangat berbeda.

“Kehadiran ayah itu tidak hanya ketika anak lahir saja, tetapi kehadiran ayah itu sejak proses istri sedang hamil anak sampai nanti anak itu bertumbuh dan mencapai masa depannya. Di situlah peran ayah sesungguhnya,” jelas Yandra.

Terkait

Pria yang aktif dalam organisasi AyahASI tersebut mendorong para ayah untuk berperan dalam mengasuh anak. Dia dan kelompok tersebut berusaha menghilangkan batas dan cara-cara pandang tradisional bahwa ayah hanya berperan sebagai pencari nafkah dalam keluarga.

Ayah, kata dia, sebaiknya tak hanya hadir secara fisik dalam pengasuhan anak, namun turut memainkan peran di dalamnya sehingga kasih sayang ayah kepada anak tak menjadi putus.

Menjadi seorang ayah, kata Yandra, seperti belajar dalam kehidupan yang kompleks. Berbagai hal baik eksternal maupun internal bisa mempengaruhi kehidupan, termasuk dalam pola pengasuhan anak.

Sebagai ayah, dia mengaku lebih sering mencari sesuatu yang lebih mudah untuk dikendalikan, yakni dengan memberikan nilai-nilai kehidupan kepada anak di samping memenuhi kebutuhan anak seperti menemani bermain.

Nilai-nilai kehidupan itu adalah seperti bagaimana cara menghormati orang lain, bagaimana cara berbuat baik, dan bagaimana agar tidak merundung. “Pada intinya menjadi ayah itu menyiapkan nilai-nilai kehidupan yang akan dibawa oleh anak ke masa depan lebih baik,” jelas dia.

Selain itu, penting pula untuk membangun komunikasi dua arah dengan anak. Sering kali ayah yang sibuk bekerja menolak ajakan anaknya untuk bermain. Menurut Yandra, hal itu bisa saja dikompromikan dengan anak.

Ayah, kata Yandra, dapat mengatakan dengan jujur mengenai pekerjaan yang tak bisa dihindari yang harus dikerjakan saat anaknya memintanya untuk bermain. Ayah bisa meminta waktu beberapa menit untuk menyelesaikannya, lalu menyepakatinya dengan anak. Jika waktunya telah habis, ayah bisa menepati janjinya untuk bermain dengan anak.

Secara khusus, menurut Yandra, ayah yang ideal bagi keluarga adalah ayah yang terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Ayah ideal adalah ayah yang tak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu yang pernah dilakukan. 

Yandra menyebut, bagi para ayah bisa saling bercerita dan mendengarkan apa yang menjadi keluhan dan permasalahan dalam pengasuhan anak. Melalui bercerita kepada para ayah yang lain, mereka bisa saling mendukung satu sama lain tanpa menghakimi satu sama lain dan dapat mencari solusi bersama.

 

 

 
Ayah ideal adalah ayah yang tak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu yang pernah dilakukan. 
Yandra Rahadian Perdana
 

 

Kasus kekerasan

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti mengatakan pada prinsip-prinsip pengasuhan sebenarnya peran kedua orang tua adalah sama. “Bukan segala hal urusan mengenai anak menjadi urusan ibu,” tutur Retno dalam ajang pertemuan virtual.

Dalam pengawasan KPAI, lanjut Retno, ada sejumlah dampak yang terjadi saat ayah tidak mengoptimalkan perannya dalam mengasuh anak. Hal itu tecermin pada kasus-kasus perundungan yang dikawal oleh KPAI.

Menurutnya, anak-anak yang tumbuh kembang tanpa pengasuhan dan peranan ayahnya, pada akhirnya membuat anak menjadi lebih tidak percaya diri. Bahkan, mereka juga cenderung sampai berbuat kriminalitas.

Beberapa kasus perundungan di kalangan anak-anak sekolah, kata dia, rata-rata memiliki pelaku anak yang bermasalah dalam pengasuhan keluarganya. Hal itu terkait dengan pola pengasuhan yang negatif atau adanya kekerasan dalam pola pengasuhan anak yang merundung dan juga ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan anak.

KPAI mencatat, kasus pengasuhan mengalami tren yang meningkat pada 2020 lalu atau sejak dimulainya pandemi Covid-19. Pengaduan yang diterima oleh KPAI pun meliputi kasus-kasus kekerasan anak, mulai dari kekerasan verbal sampai ke kekerasan fisik seperti dipukul, ditendang, diinjak, dan dikurung di ruangan gelap.

Pengaduan dilakukan oleh tetangga atau saudara anak seperti tante atau kakek neneknya. Menurut Retno, adanya pandemi memicu orang tua memiliki tekanan ekonomi atau masalah psikologi yang mengakibatkan pelampiasan kepada anak.

Kurangnya partisipasi ayah pada saat masa pandemi juga disoroti Retno. Dia berharap, para ayah bisa membantu ibu yang kerap kewalahan mendampingi anaknya pada saat pelajaran jarak jauh di masa pandemi, sementara ibu pun sebenarnya tengah bekerja.

“Saya berharap agar para orang tua yang merupakan orang dewasa, bisa melindungi anak-anak yang membutuhkan kasih sayang. Meski anak-anak kecil sebenarnya masih belum memahami kasih sayang, namun orang tua bisa menunjukkannya dengan memegangnya dan memeluknya,” jelas Retno.

Ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan anak tak dimungkiri juga pernah terjadi pada ayah masa kini di masa lalu. Mereka yang pernah mengalami kekosongan dalam peran ayah di hidupnya, tak menutup kemungkinan juga memiliki traumatis sehingga membuat mereka berperan yang sama kepada anak-anaknya.

Bagi ayah masa kini yang mengalami hal demikian, hal pertama yang harus ditekankan adalah ayah harus mengobati masa lalu terlebih dahulu sebelum menikah dan memiliki anak. Pengalaman di masa kecil seharusnya menjadi panduan yang tepat bagi para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka.

“Peran ayah itu sangat kuat. Jika anak melihat para ayah menghargai ibunya, ayah peduli kepada ibunya, anak akan melakukan hal yang sama karena anak adalah peniru ulung. Apa yang orang tua lakukan, pasti ditiru oleh anak-anaknya,” kata Retno.

Ayah juga penting memposisikan diri jika dia diperlakukan tak menyenangkan seperti dipukul, dibentak, atau dikagetkan dengan menggebrak meja. Retno mengatakan tak ada yang senang diperlakukan demikian, sehingga ayah tidak perlu melakukannya kepada anak-anak.

Selain itu, memantau anak-anak di sekolah menjadi tugas guru sebagai orang tua kedua bagi anak. Jika anak memiliki orang tua yang bercerai, maka guru bisa menangani anak tersebut secara khusus agar anak bisa nyaman berada di sekolah dan menjadikannya rumah kedua. “Paling tidak anak tidak akan kita biarkan sendiri dalam menghadapi masalah,” jelas Retno.

photo
Ayah ikut berperan dalam pengasuhan anak (ilustrasi) - (Picsea Unsplash)

 

Pentingnya Konseling dan Komunikasi

Kondisi ketidakhadiran ayah dalam pola pengasuhan anak biasa terlihat pada anak-anak itu sendiri. Menurut psikolog anak Mira Amir, ciri yang paling terlihat pada anak yang kemungkinan mengalami ketidakhadiran ayah adalah anak yang kurang percaya diri. Bahkan, anak-anak yang mengalami hal tersebut juga kerap menarik diri.

Pada anak dengan usia yang lebih tua, anak-anak yang tak mengalami kehadiran ayah juga cenderung lebih rentan terlibat penyalahgunaan obat-obatan terlarang. “Dari sisi kesehatan mental, anak-anak juga lebih rentan mengalami masalah seperti gangguan kecemasan, depresi, bahkan sampai melakukan perundungan, dan tidak menutup kemungkinan mereka pun akhirnya mengalami bunuh diri,” kata Mira dalam kesempatan yang sama.

Ciri terakhir yang biasa didapati pada anak-anak yang mengalami ketidakhadiran ayah adalah anak mengalami pencapaian akademis yang lebih rendah. Hal itu dikarenakan beberapa faktor, termasuk kesulitan untuk berkonsentrasi di kelas. Ketidakhadiran ayah dalam keluarga bisa membuat anak tak bisa berkonsentrasi dalam belajar.

Mira mengatakan, anak-anak itu juga sering kali memiliki motivasi belajar yang rendah daripada anak-anak yang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua mereka. Mereka cenderung tak ingin berprestasi lebih lanjut.

Pada anak usia sekolah menengah, mereka juga lebih rentan untuk berhenti atau putus sekolah. Sulitnya berkonsentrasi serta ketiadaan motivasi belajar membuat mereka merasa lebih baik tidak melanjutkan sekolah. Belum lagi tak sedikit dari mereka memiliki kesulitan ekonomi di keluarganya.

Oleh karenanya, menurut Mira, penting bagi para calon ayah dan calon ibu untuk mempersiapkan diri dalam membina keluarga kelak. Memulai menjadi orang tua yang baik tak hanya terjadi saat anak lahir ke dunia.

Hal itu dimulai sedini mungkin yakni saat sebelum menikah. Mira mengapresiasi pasangan-pasangan calon suami-istri yang datang kepadanya untuk berkonseling mempersiapkan diri untuk menikah dan memiliki anak. Terlebih mereka memang memiliki kondisi tidak ideal, belum siap, dan belum matang.

Saat konseling pranikah baru terlihat adanya isu-isu di masa lampau berupa pengasuhan yang mereka dapati sewaktu kecil. Konseling itu pun dilakukan sebagai tindakan preventif untuk mengantisipasi kondisi yang tidak diinginkan terjadi pada keluarga kelak, terutama ketika mereka berinteraksi dengan anak-anak mereka. “Di konseling pranikah itu pula kita diskusikan pula tentang pola pengasuhan anak yang ideal,” jelas Mira.

Dalam pengasuhan anak pula, selain kedua orang tua perlu memberikan kasih sayang yang berlimpah kepada anak-anaknya, Mira menegaskan kedua orang tua perlu mampu bersikap tegas. Kedua orang tua perlu menerapkan aturan kepada anak-anak yang jelas dan juga konsisten.

Mira juga menyarankan kedua orang tua untuk terus kompak dan satu suara dalam pengasuhan anak. Masing-masing harus saling memahami mengapa mereka harus kompak dan konsisten.

Komunikasi menjadi hal yang penting dalam pengasuhan anak. Dalam hal ini, orang tua diminta untuk menjalin komunikasi yang baik dengan anak dengan mengadakan komunikasi dua arah. Orang tua disarankan untuk mendengarkan apa yang dirasakan oleh anaknya.

“Tak hanya mendengarkan kata-kata atau omongan anak-anak saja saat berkomunikasi dengan orang tua melainkan juga menyimak bahasa tubuh mereka. Menyimak apa yang hendak disampaikan oleh anak,” jelas Mira.


×