Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
10 Jul 2021, 03:45 WIB

Jangan Berjalan dalam Gelap

Menyampaikan berbagai informasi tentang Covid adalah bagian dari perjuangan

OLEH ASMA NADIA

"Saat ini saya bersitegang dengan keluarga besar alumni." Sepupu saya memulai cerita. 

"Kenapa?" Kejar saya penasaran.

Lelaki berusia empat puluhan itu selain supel dikenal memiliki rasa empati tinggi dan paling cepat bergerak ketika ada pihak yang membutuhkan. Sulit membayangkan dia menciptakan perang dingin atau ribut dengan orang lain. 

Terkait

"Setiap saya membagikan info penting tentang Covid, teman-teman seangkatan di grup Whatsapp, selalu menanggapi negatif. Ya nggak apa sih… risiko.”

Senyum pahitnya muncul sambil mengutip respons --tidak hanya dari grup alumni tapi nyaris semua grup.  Alih-alih mengingatkan prokes, salah satu admin memberi usulan tak biasa di tengah pandemi ini. 

"Yuk, kita reunian."

Sepupu saya yang keberatan, mengingatkan bahwa saat ini situasi masih riskan. 

Namun sang admin menjamin bahwa reuni akan berlangsung dengan prokes. Bukan cuma omong kosong karena beberapa waktu kemudian muncul foto reuni. Kesan akrab terpancar. Senyum lebar terlihat jelas sebab tak satu pun mengenakan masker, pun tanpa menjaga jarak. 

Walau diburu kekhawatiran, sepupu saya hanya menaruh kalimat singkat, "Semoga sehat semua ya."

Berbagai cibiran lalu membanjiri ruang silaturahim daring. "Sehatlah. Silaturahmi kan menyehatkan." “Selama jaga kesehatan dan makan makanan bergizi," 

“Dibawa hepi. Jangan takut biar imunitas nggak turun!” 

Sepupu saya tidak membalas. Hanya dalam hatinya mendoakan agar mereka selalu dilindungi Allah. Doanya makin kencang sebab menyadari, di luar sikap acuh, teman-temannya pastilah mereka anak yang dibutuhkan orang tua, pasangan yang dicintai, ayah atau ibu bagi anak-anak, dan serta bagian dari dunia profesi yang dibutuhkan. 

Tapi sikap senyapnya justru menyalakan semangat membandel berikutnya. Sukses dengan reunian, agenda kebersamaan lain pun digelar. Meski dalam kelompok yang lebih kecil hingga makin akrab, sepupu saya seperti sebelumnya tetap menolak hadir. 

“Terus?”

Adik sepupu saya menghela napas. 

Salah satu teman paling akrab semasa sekolah, Rio namanya, mengungkapkan kekecewaan melalui pesan pribadi. “Dibilang sombong aku, mbak…”

Padahal siapa yang tidak ingin berjumpa saudara, sahabat, dan teman-teman? Silaturahim tatap muka telah lama hanya mengisi angan. Kerinduan yang entah kapan akan mendapatkan ruang.

Waktu melesat. Grup bertukar pesan itu masih sama. Penuh optimisme melawan Covid --dengan cara tak membiarkan ketakutan mengintip. Berbagai imbauan dari pemerintah, ulama, dan pakar kesehatan tetap tak diindahkan.

Nggak usah lagi deh nyebarin informasi kayak gini.”

“Setuju gue!”

“Cuma bikin panik!”

Apakah sepupu saya lalu berhenti membagikan berbagai info yang menurutnya penting? Lelaki yang tak pernah meninggalkan masker saat keluar rumah, menggeleng.

 
Kita tidak pernah tahu siapa yang barangkali akan amat terbantu dan sedang membutuhkan informasi tersebut.
 
 

"Yang tidak boleh disebar adalah berita hoax atau yang tidak jelas sumbernya, yang cuma membuat orang pesimistis. Tapi rupa-rupa ikhtiar sehat di pandemi, informasi vaksin, apa yang harus dilakukan jika terpaksa isolasi mandiri --sebab semua rumah sakit penuh-- ke mana mengisi ulang oksigen, dll, menurut saya wajib disebarkan.”

Saya mengangguk tanpa keraguan. 

Kita tidak pernah tahu siapa yang barangkali akan amat terbantu dan sedang membutuhkan informasi tersebut. Secara tidak semua penderita yang terpapar berani mengumumkan dan bersikap terbuka.

Lagi pula sikap abai menunjukkan kesadaran masyarakat rendah. Artinya ruang edukasi masih dibutuhkan dan harus terus diisi. 

Suatu hari adik sepupu memberikan informasi baru berhubungan dengan grup-grup whats app yang diikuti.  

“Sekarang beritanya sudah beda, Mbak!” tuturnya lagi. 

“Mohon doanya, si Rio sakit.”

Belum sempat seluruh anggota grup menanggapi, kabar baru sudah muncul. 

“Kondisinya memburuk!”

Sahabat dekat sepupu saya itu terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan menurut dokter harus dirawat di ruangan ICU. 

 
Seorang teman memberikan konfirmasi. Sepupu saya lalu membagikan video  bagaimana kuburan Rio digali dengan menggunakan escavator kepada teman-temannya.
 
 

Namun antrian ICU puluhan. Fenomena Covid-19 di Tanah Air meledak cepat. Rumah sakit penuh, pasien bergelimpangan karena IGD kekurangan fasilitas dan ruangan, juga perawat. Rio harus menunggu lama sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir bahkan sebelum mendapatkan kesempatan dirawat di ICU. 

“Meninggal karena Covid!”

Seorang teman memberikan konfirmasi. Sepupu saya lalu membagikan video bagaimana kuburan Rio digali dengan menggunakan eskavator kepada teman-temannya.

Sedih dan kehilangan, apalagi hanya selang beberapa hari kemudian, seluruh keluarga besar Rio ikut terpapar, bahkan tak lama mertuanya pun meninggal. 

Setelah itu beberapa teman di grup mulai bercerita tentang anggota keluarga juga kenalan yang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Rekan-rekan yang dulu mencemooh, mengumbar teori konspirasi, satu per satu bertumbangan.

Berita yang kemudian membanjiri grup kini berkisar kenalan yang sakit, galang dana, tabung oksigen, dan informasi seputar covid yang sempat dianggap angin lalu.

Kelompok-kelompok yang dulu mencibir-berangsur berubah haluan, mereka rajin berbagi informasi seputar Covid-19. Sedikit terlambat tapi lebih baik daripada tidak sama.sekali.

 
Menyampaikan berbagai informasi tentang Covid, menurutnya adalah bagian dari perjuangan. 
 
 

“Semoga makin banyak yang sepertimu!”

Adik sepupu saya tersenyum.

Hingga kini sepak terjangnya tak berubah. Paling hati-hati dan detail untuk menjaga diri dan keluarga. Paling giat pula mengedukasi dan memberi contoh pada sekitar. 

“Takdir itu urusan Allah, tapi ikhtiar merupakan tugas manusia.” ujarnya.

Menyampaikan berbagai informasi tentang Covid, menurutnya, adalah bagian dari perjuangan. Lebih baik tahu hingga bisa membangun kewaspadaan. 

Bagaimana pun pengetahuan adalah cahaya yang menuntun seseorang menempuh arah yang benar, sekaligus menghindar ruas-ruas jalan yang sangat mungkin akan membahayakan diri dan keluarga. Sesuatu yang tidak dimiliki mereka yang tetap bersikeras bertahan dalam gelap. 


×