Sisa-sisa benteng di Dumat al-Jandal, Provinsi al-Jauf, Kerajaan Arab Saudi. | DOK FLICKR
04 Jul 2021, 11:18 WIB

Dumat al-Jandal, Saksi Dinamika Sejarah Islam

Dumat al-Jandal menyimpan memori historis Muslimin, sejak zaman Nabi hingga empat khalifah.

OLEH HASANUL RIZQA

Jazirah Arab merupakan salah satu region yang kaya akan peninggalan bersejarah. Daerah seluas 3,2 juta km persegi itu telah dihuni manusia sejak ribuan tahun sebelum Masehi (SM). Bahkan, menurut keyakinan Muslimin, Nabi Adam AS sebagai manusia pertama membangun fondasi tempat ibadah di sana, tepatnya Ka’bah, Makkah al-Mukarramah.

Salah satu kawasan yang bernilai historis di Arab ialah Dumat al-Jandal. Situs arkeologis ini berlokasi di Provinsi al-Jauf, Kerajaan Arab Saudi. Kata Dumat atau Dumah merujuk pada nama salah seorang putra Nabi Ismail AS. Maknanya, area tersebut dahulunya merupakan daerah kekuasaan kabilah Bani Dumah. Adapun al-jandal dimaknai sebagai ‘bebatuan’ atau ‘lembah berbatu’.

Daerah ini telah dihuni manusia setidaknya sejak abad ke-10 SM. Catatan dari tablet bangsa Asiria menyebutnya sebagai Adummatu, ibu kota Kerajaan Arab Qidri. Pada masa pra-Islam, paganisme mengakar kuat di tengah penduduk wilayah setempat. Mereka membangun banyak kuil tempat menaruh berhala dan melaksanakan ritual-ritual.

Terkait

Syiar Islam tidak seketika menyinari Dumat al-Jandal. Barulah sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah, masyarakat lokal mendengar sedikit-banyak tentang ajaran beliau. Hingga akhirnya, Rasulullah SAW mengutus seorang sahabat, Abdurrahman bin Auf, untuk menjadi dai yang bertugas ke sana.

“Bersiaplah engkau, sesungguhnya aku akan mengirimmu kepada sebuah kabilah,” ujar Nabi SAW kepada sahabat yang terkenal akan kekayaan dan kedermawanannya itu. Kepada Abdurrahman, beliau menyebut Dumat al-Jandal sebagai lokasi dakwahnya.

Tiga hari lamanya, sahabat Nabi SAW itu mengajak penduduk Dumat al-Jandal untuk memeluk Islam. Pada hari terakhir, Asbagh bin Amar al-Kalbi mengucapkan dua kalimat syahadat. Lelaki itu adalah kepala kabilah lokal dan mulanya mengimani ajaran Kristen. Pengalaman Abdurrahman ini termaktub dalam kitab Risalah ad-Dakwah, tepatnya sebuah hadis riwayat Imam Daruquthni.

Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadith al-Nabawi menerangkan kondisi geografis lembah tandus itu. Dumat al-Jandal, katanya, sejak zaman Nabi SAW dan para sahabat sudah dikenal luas. Lokasinya ada di antara Syam (Suriah) dan Madinah al-Munawarrah, atau dekat Gunung Thayyi. Kontur tanahnya cenderung datar. Dari kota terdekat, Tayma, jaraknya kira-kira sejauh 450 km.

Paling tidak, ada tiga peristiwa penting yang pernah terjadi di Dumat al-Jandal. Pertama, sebuah perang pada era Rasulullah SAW. Kedua, daerah ini pun sempat menjadi medan jihad pada zaman khulafaur rasyidin, yakni Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Ketiga, yang mungkin paling dikenang, lembah tersebut merupakan lokasi arbitrase (tahkim) antara pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib dan kubu Muawiyyah.

Pada Rabiul Awal 5 H/Agustus 626 M, Rasulullah SAW pernah memimpin pasukan Muslimin untuk memerangi kaum kafir yang mengganggu Islam di Dumat al-Jandal. Peristiwa itu terjadi ketika beliau baru kembali ke Madinah selama beberapa bulan setelah berperang. Seorang sahabat, Siba bin Urfuthah al-Ghifari, ditunjuknya sebagai imam sementara selama beliau di luar kota. Akan tetapi, peperangan tak sampai terjadi. Sebab, pasukan Islam yang dipimpin Nabi SAW tak menjumpai seorang pun musuh di Dumat al-Jandal. Maka mereka pun kembali ke Madinah.

Berikutnya, nama Dumat al-Jandal kembali mencuat tatkala Abu Bakar menjadi amirul mukminin. Ketika itu, muncul fenomena orang-orang yang mengaku sebagai nabi. Salah satu nabi palsu adalah Musailamah al-Kazzab. Selain murtad dan berhalusinasi menerima wahyu, dirinya pun terang-terangan memberontak terhadap pemerintahan yang sah.

photo
Bagian lorong di kawasan Dumat al-Jandal. Dahulu, inilah tempat terjadinya tahkim antara kubu Ali dan Muawiyah. - (DOK WIKIPEDIA)

Khalifah Abu Bakar pun tak tinggal diam. Bersama pasukan Islam, Abu Bakar memerangi kaum murtad itu dalam sebuah pertempuran bernama Perang Yamamah pada Desember 632 M. Kemenangan diraih pasukan Islam.

Delapan bulan kemudian, tepatnya Agustus 633 M, terjadi lagi pemberontakan yang dilakukan Bani Kilab yang tinggal di Dumat al-Jandal. Pemimpin kabilah itu ternyata mengikuti jejak al-Kazzab, yakni mengeklaim diri sebagai nabi. Pasukan Muslimin berupaya menangkap si gembong perusuh itu.

Dalam misi ini, Khalifah Abu Bakar mengirim sebanyak empat ribu pasukan yang dipimpin Iyadh bin Ghanam. Pengiriman balatentara ke Dumat al-Jandal itu lantas mendapatkan perlawanan dari 15 ribu pasukan yang dikomandoi Judi bin Rabiah dan Ukaidar bin Abdul Malik. Kekuatan pasukan murtad itu cukup tangguh karena memiliki sumber perbekalan yang melimpah.

Iyadh lalu berkirim surat kepada Khalid bin al-Walid. Intinya, pasukan yang dipimpinnya tak mampu menembus basis pertahanan musuh. Sosok berjulukan “Pedang Allah yang terhunus” itu bergegas menuju Dumat al-Jandal, segera setelah memenangkan pertempuran di Ainul Tamar. Mobilisasi dirinya bersama enam ribu pasukan Muslimin ini telah direstui Abu Bakar.

Gabungan antara balatentara Iyadh dan Khalid akhirnya mampu menjebol pertahanan kaum murtad. Dumat al-Jandal pun kembali ke pangkuan Islam. Namun, dalam jihad tersebut cukup banyak Muslimin yang gugur, termasuk Iyadh sendiri.

photo
Menara Masjid Umar di kawasan Dumat al-Jandal, Arab Saudi. - (DOK WIKIPEDIA)

Pada masa Umar bin Khattab menjadi khalifah, Dumat al-Jandal tak luput dari perhatian. Di sana, sosok bergelar al-Faruq itu menginisiasi pembangunan masjid pada tahun 17 Hijriyah. Itu dilakukannya saat singgah di Dumat al-Jandal dalam perjalanan ke Baitul Makdis. Hingga kini, tempat ibadah itu dikenal pula sebagai Masjid Umar.

Memori historis tentang Dumat al-Jandal yang terkuat barangkali mengenai tahkim antara Khalifah Ali dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Ketegangan antara keduanya bermula sejak terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan. Sang Dzun nurain gugur setelah rumahnya diserbu kaum pemberontak.

Muawiyah mendesak Ali agar menghukum pelaku pembunuhan Usman. Sementara, sepupu Nabi SAW itu tidak mau menyerahkan para perusuh yang telah membunuh Utsman, mengingat jumlah mereka ribuan orang. Penolakan ini dianggap gubernur Syam itu sebagai alasan untuk menentang Ali.

Sempat terjadi Perang Siffin antara kubu Ali dan Muawiyah. Sebelum benar-benar kalah, kelompok Muawiyah mengajak ber-tahkim guna menyelesaikan konflik yang terjadi. Perundingan itu dilaksanakan di Dumat al-Jandal pada Ramadhan 37 H.

Begitulah sekelumit jejak sejarah Islam di sana. Bila Anda berkesempatan mengunjunginya, jangan lewatkan pula berbagai bangunan menakjubkan di Provinsi al-Jauf. Misalnya, Benteng Za'abal yang dibangun pada abad ketujuh SM. Sedangkan, Batu yang berdiri di ar-Rajajil merupakan peninggalan bersejarah pada zaman megalitikum, diperkirakan umurnya sekitar 5.000 tahun, dibangun sebagai alat untuk penunjuk waktu, semacam jam matahari.

photo
Situs Masjid Umar bin Khattab di area Dumat al-Jandal. Masjid ini dibangun Khalifah Umar dalam perjalanannya ke Baitul Makdis. - (DOK WIKIPEDIA)


Terkini

×