AGH Abdurrahman Ambo Dalle, seorang tokoh masyarakat dan pemimpin agama di Sulawesi Selatan. | DOK KEMENAG WIL SULBAR

Mujadid

AGH Abdurrahman Ambo Dalle, Mahaguru dari Tanah Bugis

Gurutta Ambo Dalle, ulama asal Wajo ini aktif dalam dunia pendidikan dan pergerakan.

OLEH MUHYIDDIN 

Sejarah mencatat, Islam mulai berkembang pesat di Sulawesi Selatan sejak abad ke-17. Pada perkembangannya kemudian, masyarakat setempat kian berperan besar dalam mensyiarkan agama ini. Termasuk di antaranya ialah Suku Bugis.

Pada abad ke-20, dari Tanah Bugis bermunculan banyak alim ulama. Salah seorang dari mereka adalah AGH Abdurrahman Ambo Dalle. Singkatan AGH itu adalah Anregurutta (AG) dan haji. AG secara harfiah berarti ‘mahaguru kita’ sehingga menjadi sebuah gelar kehormatan bagi kaum ulama di Sulawesi Selatan.

Gurutta Ambo Dalle, demikian masyarakat Bugis memanggilnya, lahir sekitar tahun 1900 M di Desa Ujung, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Ayahnya, Andi Ngati Daeng Patobo, adalah seorang bangsawan. Adapun ibundanya bernama Andi Candara Dewi.

Dalam buku Biografi Kayai H Abdurrahman Ambo Dalle, Muhammad Yusuf Khalid menjelaskan bahwa nama tokoh ini memiliki arti yang cukup unik. Ambo bermakna ‘bapak’, sedangkan dalle ialah ‘rezeki’. Maka, yang tersirat dari nama tersebut adalah doa dan harapan, yakni agar dirinya senantiasa murah rezeki dan dekat dengan kebaikan.

Sejak kecil, Ambo Dalle ditempa karakternya supaya bermental disiplin. Kedua orang tuanya sangat ketat dalam hal manajemen waktu. Ambo Dalle kecil diatur agar mematuhi jadwal yang sudah ada. Misalnya, pada pagi hari, dirinya bersekolah di Volk School atau Sekolah Rakyat. Sepulang dari sekolah, usai beristirahat anak lelaki ini mesti belajar mengaji di masjid terdekat. Barulah pada bakda isya, ia kembali ke rumah.

Penerapan pola disiplin itu membuahkan hasil. Saat masih berusia tujuh tahun, Ambo Dalle sudah mampu menghafal Alquran 30 juz. Sebagai bentuk apresiasi, seorang ulama lokal, KH Muhammad Ishak, menambahkan “Abdurrahman” pada awal namanya sehingga menjadi “Abdurrahman Ambo Dalle.”

Pada masa mudanya, Ambo Dalle tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu agama Islam, seperti tajwid Alquran, qiraat tujuh, nahwu, sharaf, tafsir, dan fikih. Ia juga mengikuti kursus bahasa Belanda di sekolah formal Hollandsch-Inlandsche School (HIS), yakni setingkat SD sekarang. Dengan kemampuan bahasa Belanda itu, dirinya semakin tertarik pada dunia pedagogis. Untuk itu, putra daerah Bugis ini pernah belajar pada Sekolah Guru yang diselenggarakan Sarekat Islam (SI) di Makassar.

Saat berusia sekitar 28 tahun, Ambo Dalle mendengar kabar ada seorang ulama besar dari Makkah yang telah kembali pulang ke Sengkang-Wajo. Nama orang alim itu ialah Syekh AGH Muhammad As’ad bin Abdul Rasyid al-Bugis. Untuk menambah wawasan ilmu agamanya, ia pun menimba ilmu kepada sang syekh.

Suatu waktu, Syekh As’ad menguji secara lisan murid-muridnya. Di antara mereka adalah Ambo Dalle. Dalam ujian itu, ternyata remaja tersebut dianggap yang paling tepat dan sahih. Maka, sejak saat itu dirinya pun diangkat menjadi asisten yang bertugas mengajar para murid bilamana sang syekh berhalangan hadir.

Pada 1935, gurunya tersebut juga mengajaknya untuk menunaikan ibadah haji. Di Makkah al-Mukarramah, dirinya tentu tidak hanya melaksanakan rukun Islam kelima. Kesempatan rihlah ke Tanah Suci dimanfaatkannya secara maksimal demi menuntut ilmu-ilmu agama. Beberapa bulan lamanya, dirinya menetap di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW itu. Kepada banyak ulama setempat, khususnya para imam Masjidil Haram, putra daerah Sulawesi Selatan ini berguru.

Sejak berhubungan dekat dengan Syekh As’ad, Ambo Dalle pun mulai ikut mengajar. Dirinya secara intens menekuni dunia pendidikan Islam. Pada saat yang sama, gurunya tersebut melakukan pembaruan sistem pengajian. Salah satu keputusannya iala membangun beberapa madrasah, mulai tingkat dasar sampai tingkat menengah.

Lembaga pendidikan itu akhirnya resmi bernama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Sengkang. Ambo Dalle kemudian diserahi tugas untuk memimpin madrasah ini. Dalam waktu singkat, MAI Sengkang pun menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.

Setelah itu, Ambo Dalle mendapatkan izin dari gurunya untuk memimpin cabang lembaga pendidikan baru. Institusi ini akan dibuka di Mangkoso. Setelah melalui berbagai persiapan, pada 21 Desember 1938 sekolah yang direncanakan pun terwujud. Sejak itu, sang gurutta memboyong serta keluarga dan beberapa santrinya ke Mangkoso.

photo
AGH Abdurrahman Ambo Dalle bersama dengan BJ Habibie (kiri) - (DOK BLOGSPOT)

Kedatangannya mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan jajaran pemerintahan daerah setempat. Bahkan, residen menyediakan beberapa fasilitas yang dibutuhkannya, seperti rumah. Tempat tinggal itu tidak hanya untuk Gurutta Ambo Dalle dan keluarganya, tetapi juga beberapa  santri yang datang dari luar Mangkoso. Area hunian tersebut memang cukup luas untuk didirikan lebih dari satu bangunan.

Setelah berlangsung tiga pekan, Gurutta Ambo Dalle kemudian membuka madrasah dengan tingkatan tahdiriyah, ibtidaiyah, i’dadiyah, dan tsanawiyah. Fasilitas pendidikan yang diperlukan serta biaya hidup mereka beserta guru-gurunya ditanggung oleh penguasa setempat. Seiring waktu, bentuk lembaga ini tak ubahnya pondok-pondok pesantren di Tanah Jawa.

Dalam mengelola pesantren atau madrasah tersebut, Anregurutta  Haji Ambo Dalle dibantu belasan orang santri senior. Mereka adalah M Amberi Said, Harun Rasyid Sengkang, Abd Rasyid Lapasu, Abd Rasyid Ajakkang, Burhanuddin, dan M Makki Barru. Di kemudian hari, para santri tersebut menjadi tokoh pemuka agama dan menyandang gelar gurutta.

Berkat dukungan dan simpati dari pemerintah dan masyarakat Mangkoso, pertumbuhan dan perkembangan madrasah ini sangat pesat. Terbukti, makin banyak permintaan dari luar daerah datang kepada AGH Ambo Dalle untuk membuka cabang-cabang MAI Mangkoso.

Masa revolusi

Namun, masalah mulai muncul ketika balatentara Jepang merangsek masuk ke Nusantara. Dalam waktu relatif singkat, Sulawesi Selatan diduduki Dai Nippon. Kegiatan belajar dan mengajar di MAI Mangkoso pun terkendala. Terlebih lagi, pemerintah pendudukan Jepang tidak mengizinkan sekolah-sekolah, termasuk yang berhaluan agama, untuk beroperasi.

Untuk mengatasi masalah ini, AGH Ambo Dalle terus berupaya maksimal. Pengajaran yang sebelumnya dilakukan di dalam kelas, dipindahkan ke dalam masjid dan bahkan rumah-rumah guru. Kaca daun pintu dan jendela masjid kemudian dicat hitam agar pada malam hari cahaya lampu tidak tembus dari luar. Dengan cara itu itulah, kegiatan belajar dan mengajar dilangsungkan agar luput dari pengawasan Jepang.

Setelah beberapa tahun memimpin MAI Mangkoso, Gurutta Ambo Dalle terus dihadapkan pada kondisi Indonesia. Bangsa ini sedang sangat berjuang merebut kemerdekaan. Di mana-mana, gema perjuangan bergelora, memompa semangat untuk kian cinta Tanah Air.

Hingga saat itu, fokus Gurutta Ambo Dalle masih pada aspek membenahi sistem pendidikan. Sebab, ia menyadari bahwa selain bertempur melawan penjajah dengan senjata, berperang melawan kebodohan pun sama pentingnya. Sebab, kebodohanlah salah satu penyebab negeri ini terbelenggu kolonialisme selama berabad-abad.

 
Ia menyadari bahwa selain bertempur melawan penjajah dengan senjata, berperang melawan kebodohan pun sama pentingnya.
 
 

Terjadilah peristiwa yang dalam sejarah dikenal sebagai Peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan. Tentara NICA di bawah komando Kapten Westerling membantai rakyat yang tak bersalah. Tindakan keji itu dilakukannya hanya karena mereka dituduh sebagai ekstremis.

Peristiwa tersebut juga berdampak pada kegiatan di MAI Mangkoso. Banyak santri yang ditugaskan oleh Gurutta Ambo Dalle untuk mengajar di cabang-cabang MAI di berbagai daerah, menjadi korban keganasan Westerling.

Namun, situasi itu tidak menyurutkan semangat sang gurutta untuk mengembangkan MAI Mangkoso. Bahkan, dalam keadaan demikian, ia bersama beberapa ulama alumni MAI Sengkang mengadakan pertemuan alim ulama se-Sulawesi Selatan. Rapat akbar ini digelar di Watang Soppeng pada 5-7 Februari 1947.

Dalam forum itu, Gurutta Ambo Dalle bersama para ulama lainnya menyepakati pembentukan organisasi baru. Namanya, Darud Da’wah wa al-Irsyad (DDI). Fokus pergerakan itu berada dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan.

Dalam pertemuan itu, Anregurutta Ambo Dalle juga dipercaya sebagai ketua DDI. Setelah itu, MAI Mangkoso beserta seluruh cabang-cabangnya juga berubah nama menjadi DDI. Mangkoso pun ditetapkan sebagai pusat organisasi.

 
Dalam kesibukannya memimpin organisasi DDI dan perguruan itu, Anregurutta Ambo Dalle tidak melalaikan kewajibannya sebagai warga negara yang taat.
 
 

Pada 1950, Anregurutta Ambo Dalle kemudian hijrah ke Parepare. Ia membangun rumah dan menetap di Ujung Baru bersama keluarganya. Pada tahun itu pula, markas pusat DDI dipindahkan ke Parepare. Lokasinya menempati sebuah gedung yang cukup representatif di sebelah selatan Masjid Raya.

Dalam kesibukannya memimpin organisasi DDI dan perguruan itu, Anregurutta Ambo Dalle tidak melalaikan kewajibannya sebagai warga negara yang taat. Ia bersama KH Fakih Usman dari Departemen Agama Pusat dipercayakan oleh pemerintah RI untuk membenahi dan merealisasi pembentukan Departemen Agama Provinsi Sulawesi.

Berkat ketekunan dan kesabaran Gurutta Ambo Dalle, tugas itu pun dapat dilaksanakan dengan baik. Sebagai Kepala Depag yang pertama diangkatlah KH S yukri Gazali. Sedangkan Gurutta Ambo Dalle sendiri diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Parepare pada 1954.

Di usia senjanya, Gurutta Ambo Dalle juga masih sempat berkunjung ke Makkah untuk melakukan umrah dan memenuhi undangan Raja Serawak (Malaysia Timur), meskipun harus digendong. Hingga akhirnya Gurutta Ambo Dalle berpulang dalam usia mendekati satu abad, tepatnya pada 29 November 1996.

Berbilang tahun ‘tersandera’ di hutan

Bagi umat Islam, khususnya kaum Muslimin di Sulawesi, sosok AGH Abdurrahman Ambo Dallet sangat masyhur. Kiprah dan perannya di tengah masyarakat tidak diragukan lagi, baik dalam kapasitasnya sebagai ulama karismatik ataupun pejuang kemerdekaan bangsa.

Secara fisik, Gurutta Ambo Dalle memang tidak pernah secara langsung memanggul senjata melawan penjajah. Namun, pada zaman revolusi kediamannya tak pernah sepi dari para pejuang yang meminta didoakan keselamatannya.

Misalnya, Laskar Pemuda Pejuang Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS). Kelompok ini dipimpin Andi Mattalatta. Salah satu misinya ialah melakukan ekspedisi ke Jawa pada 1946, mereka menemui Gurutta Ambo Dalle untuk didoakan keselamatannya dalam memperjuangakan bangsa dan negara.

 
Pada zaman revolusi kediamannya tak pernah sepi dari para pejuang yang meminta didoakan keselamatannya.
 
 

Perjalanan hidupnya pun terus bergulir dengan segala dinamika yang mengiringinya. Hingga pada suatu hari, tepatnya pada 18 Juli 1955, mubaligh tersebut diadang segerombolan simpatisan DI/TII. Grup ini dipimpin Kahar Muzakkar.

Waktu itu, DI/TII memang banyak mengajak para ulama lokal untuk dibawa masuk ke hutan. Tujuannya agar mereka mau menjadi penasehat Kahar Muzakkar. Adapun para dai yang menolak permintaan itu, akan diculik. Termasuk di sini, GuruttaAmbo Dalle.

Segerombolan pemberontak tersebut tidak memberikan kesempatan Ambo Dalle untuk berbicara. Ia langsung dinaikkan ke atas usungan. Sang gurutta lalu dibawa masuk ke hutan untuk bergabung dengan Kahar Muzakkar, yang memang sudah lama ingin menculiknya.

 
Dengan pengawalan yang cukup ketat dari para gerilyawan, Gurutta Ambo Dalle sama sekali tidak punya peluang untuk keluar dari hutan dan kembali ke kota.
 
 

Ketika Gurutta Ambo Dalle dihadapkan kepada Kahar Muzakkar, tokoh pemberontak ini pun sangat gembira. Sementara, dengan pengawalan yang cukup ketat dari para gerilyawan, Gurutta Ambo Dalle sama sekali tidak punya peluang untuk keluar dari hutan dan kembali ke kota.

Mubaligh tersebut berada di hutan belantara, di tengah kancah perjuangan idealisme kaum gerilyawan DI/TII sekitar delapan tahun. Jika ada pasukan yang terluka kena tembakan dari serangan TNI, ia pun mengobati hanya dengan air putih yang telah didoakan. Berangsur-angsur luka itu sembuh. Alhasil, banyak di antara mereka yang menjadi murid.

Pada 1963, Operasi Kilat yang dilancarkan oleh pemerintah (TNI) semakin menekan kaum pemberontak itu. Situasi itu digunakan oleh Gurutta Ambo Dalle untuk mencari kontak dengan TNI dan berusaha keluar dari hutan. Akhirnya, ia berhasil dijemput oleh seorang tentara nasional yang dipimpin A Patonangi. Dari sana, merea langsung dibawa menghadap Panglima Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel M.Yusuf.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat