Calon penumpang kereta api melakukan tes GeNose C19, di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (11/6/2021). | Edi Yusuf/Republika
24 Jun 2021, 03:45 WIB

Penggunaan Genose Disoal

Genose telah digunakan di 65 stasiun KAI sejak Februari 2021.

JAKARTA – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengusulkan agar penggunaan Gadjah Mada Electric Nose Covid-19 (Genose C19) sebagai prasyarat perjalanan dievaluasi. YLKI menilai, akurasi Genose dalam ‘membaca’ seseorang terpapar Covid-19 atau tidak telah diragukan beberapa pihak.

“Tes Genose kini untuk prasyarat perjalanan atau prasyarat lainnya. Padahal, tingkat akurasinya mengindikasikan rendah,” kata Ketua YLKI Tulus Abadi saat dihubungi Republika, Rabu (23/6).

Ia khawatir konsumen akan menjadi korban jika akurasi hasil tes Genose rendah. Tulus mengusulkan tes Covid-19 menggunakan swab antigen.

Ahli Biologi Molekuler dari Universitas Yarsi, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, mengatakan, sampai sekarang hasil validasi eksternal penggunaan Genose belum dipublikasikan. Untuk itu, kata Ahmad, lebih baik alat tersebut dihentikan sementara waktu meski telah mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan.

Terkait

“Penghentian Genose sementara bukan karena Genose memiliki akurasi rendah. Tapi, saya hanya ingin agar validasi eksternal terhadap Genose yang dilakukan oleh tiga kampus merdeka untuk dipublikasikan agar muncul kepercayaan dalam penggunannya, mengingat ini teknologi baru,” ujar dia.

photo
Calon penumpang kereta api melakukan tes Genose C19, di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (11/6/2021). Tes GeNose C19 hingga saat ini terus dilakukan PT KAI disetiap stasiun untuk calon penumpang jarak jauh sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. - (Edi Yusuf/Republika)

Juru Bicara Genose C19 Mohamad Saifudin Hakim mengatakan, Genose tergolong alat elektromedis non invasif berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mengandalkan banyak data. Karenanya, kepatuhan standar prosedur operasional sangat penting untuk menghasilkan performa baik.

“Jika alat Genose C19 dioperasikan ketika kondisi lingkungannya belum ideal dan syarat-syarat belum terpenuhi, maka hasil tes bisa menunjukkan low signal atau memunculkan hasil positif maupun negatif palsu,” kata Saifudin.

SOP Genose telah disampaikan berkala melalui distributor dan ke semua operator. Misalnya, kata Saifudin, salah satu yang perlu diperhatikan adalah lokasi penempatan alat yang harus diletakkan di ruangan yang memiliki saturasi udara satu arah.

Genose juga sudah memiliki fitur analisis lingkungan yang otomatis mengevaluasi saturasi partikel sekeliling. Operator hanya perlu melakukan mode flushing untuk memeriksa udara atau lingkungan sekitar selama 30-60 menit sebelum memakai alat.

photo
Warga menunjukkan hasil tes Covid-19 menggunakan GeNose C19 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Jumat (11/6/2021). Setiap hari, sekitar 150 warga memanfaatkan layanan GeNose C19 yang dibagi menjadi dua waktu pagi dan malam.. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Software Genose C19 akan memberi tanda di layar monitor laptop kalau lingkungan sudah baik atau belum. Tanda warna hijau dan tulisan ‘GO’ artinya siap digunakan, sedangkan warna kuning atau merah dengan tanda seru berarti belum siap dioperasikan.

Menurut dia, tim peneliti telah menyiapkan mekanisme pemantauan penggunaan alat, pemutakhiran perangkat AI. Secara berkala dan berkelanjutan juga terus disampaikan melalui produsen maupun distributor.

Genose telah digunakan di 65 stasiun KAI sejak Februari 2021. Saat ini, Genose tengah menjalani proses validitas eksternal melibatkan tiga universitas. Uji validitas eksternal merupakan bagian dari post-marketing analysis, yakni ketika Genose C19 sudah digunakan oleh masyarakat umum.

“Pakar dari tiga universitas yakni Universitas Andalas, Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga menjadi penguji independen alat Genose C19. Ethical clearance sudah keluar untuk UI dan Unair,” kata Saifudin.


×