Warga memasak makanan yang akan diberikan kepada warga yang menjalani isolasi mandiri di zona merah Covid-19 RT 006 RW 03, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (22/6/2021). | Prayogi/Republika.
24 Jun 2021, 03:50 WIB

Suka Duka Isolasi Mandiri

Penanganan isolasi mandiri di berbagai wilayah belum seragam.

OLEH M FAUZI RIDWAN

Lonjakan Covid-19 terjadi di sejumlah daerah, mengantarkan Indonesia kembali pada masa-masa lonjakan awal 2021 lalu. Ranjang-ranjang di berbagai rumah sakit penuh terisi, kematian terus meningkat. Republika meliput situasi kebingungan dan keresahan itu di akar rumput. Berikut tulisan bagian keempatnya.

Lonjakan penularan Covid-19 membuat isolasi mandiri kembali marak di berbagai wilayah zona merah. Kisah-kisah kemudian bermunculan dari protokol pencegahan penularan ini.

Di Kelurahan Gumuruh, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat, seorang warga mengeklaim dimaki-maki oleh aparat kewilayahan saat sedang menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah kontrakan. Ia yang terkonfirmasi positif Covid-19 itu membagikan rekaman video ke Twitter dan memicu reaksi warganet.

Terkait

Camat Batununggal, Tarya menceritakan, kejadian ini bermula saat pihaknya menerima laporan dari ketua RT setempat bahwa warga tersebut terkonfirmasi positif Covid-19 dan tinggal bersama ibu dan saudaranya. Pihaknya kemudian menawarkan bantuan agar ibu dan saudaranya tinggal terpisah sementara waktu agar tidak terjadi penularan.

photo
Anggota Satpol PP Kelurahan Gandaria Selatan memantau rumah warga yang sedang isolasi madiri di zona merah Covid-19 RT 006 RW 01, Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (21/6/2021). - (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

Belakangan, warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 itu justru kedapatan ditemani oleh seorang laki-laki yang diketahui merupakan pacarnya. "Ibunya merasa khawatir dengan anaknya sehingga memutuskan kembali ke rumah kontrakan. Setelah dilakukan tes antigen tanggal 22 Juni 2021, ibunya dinyatakan positif dan juga pacarnya," ujar Tarya kepada Republika, Rabu (23/6).

Ia mengatakan, pihaknya melakukan pengecekan lapangan kemarin dan terjadi keributan karena pasien sempat menolak untuk dipisah. "Namun tidak benar bahwa terjadi pengusiran maupun caci maki," katanya.

Menurut Tarya, warga tersebut akan dibantu untuk melakukan isolasi mandiri di rumah isolasi yang telah disediakan.

Lurah Gumuruh, Nurma Safarini mengakui bahwa petugas puskesmas dengan aparat kewilayahan berupaya memisahkan warga yang terkonfirmasi positif Covid-19. "Jadi sekarang kami akan lakukan untuk isolasi mandiri di tempat yang lebih layak. Dia seperti itu, jadi insya Allah kita kan daripada ribut, kasihan sama yang sakit. Sok kita tempatkan untuk dimanusiakan seperti itu," ia melanjutkan.

Di lokasi lain, Raffy Faraz (27 tahun) justru mengeluhkan lambannya imbauan isolasi mandiri dari aparat setempat. Ia bersama istri pertama kali dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan uji usap antigen secara mandiri, Sabtu (5/6) lalu. Di tengah kondisi demikian, ia melapor ke pihak RT dan RW pada Ahad (6/6). 

photo
Anggota Satgas Penanganan Covid-19 bersama polisi bersiap memberikan makanan pada warga yang menjalani isolasi mandiri di kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (22/6/2021). - (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Pada Senin (7/6) lalu, pihak RT dan RW melapor ke puskesmas. Namun setelah itu, pihak puskesmas tidak melakukan tindakan apa pun. Tak ada juga arahan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

“Ke depan harus lebih tanggap karena orang terpapar Covid-19 di awal-awal pasti bingung, harus menjaga imun, dan kepikiran bener. Ada tanggapan cepat di awal, biar penderita nggak kaget, nggak pusing gimana. Puskesmas yang terdekat lebih paham, lebih tanggap, sekadar telepon jadi lebih tenang,” ujarnya kepada Republika pekan lalu.

Saat itu, ia menjalani isolasi mandiri hari ketujuh bersama istri di salah satu rumah kontrakan milik keluarganya yang sedang tidak diisi. Pada Jumat (11/6) lalu, akhirnya pihak relawan puskesmas menghubungi untuk menanyakan kondisi kesehatannya. “Setelah beberapa hari dicuekin, ada tindakan hari keenam atau ke ketujuh ditanggapi sama kader,” katanya.

Saat menanyakan terkait penanganan yang lamban, pihak puskesmas menjelaskan bahwa di lingkungannya terdapat empat keluarga yang terpapar Covid-19.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari pada hari pertama isolasi mandiri, ungkapnya, sempat telat makan. Sebab, saat hendak meminta tolong saudara membawakan makanan, mereka sedang bekerja semua. Namun setelah itu relatif lancar.

Saat ini, kondisinya lebih membaik dan tidak terdapat gejala. “Ada orangtua dan mertua ngirim makanan. Kalau dari warga nggak ada,” katanya.

photo
Anggota satuan tugas penanganan Covid-19 bersama polisi menggantungkan makanan di pagar rumah warga yang menjalani isolasi mandiri di kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (22/6/2021). - (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Hal berbeda dirasakan oleh Rio Risdianto dan istrinya, warga Cilengkrang, Desa Cisurupan, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat. Ia mengatakan penanganan lebih baik dari Puskesmas Cilengkrang saat terpapar Covid-19.

Istrinya terlebih dahulu dilakukan tes PCR di puskesmas pada 31 Mei dan sempat dinyatakan negatif. Namun, karena memiliki gejala demam, batuk, dan lainnya, akhirnya dites ulang dan hasilnya positif Covid-19.

Rio pun turut dites uji usap PCR oleh puskesmas pada tanggal yang sama karena selama ini melakukan kontak erat dengan istrinya. Hasilnya, pada 2 Juni dinyatakan positif Covid-19 dengan gejala tidak berat. Ia langsung melakukan isolasi mandiri di rumah. Pihak puskesmas menyarankan agar istrinya dirujuk ke Secapa AD untuk dirawat lantaran bergejala panas dan batuk.

Selama isolasi mandiri, ia banyak mengonsumsi air kelapa, madu, dan vitamin serta terapi kayu putih. Kurang lebih lima hari pasca dinyatakan positif Covid-19, indera penciumannya kembali berfungsi. Ia pun bersyukur karena keluarga besar di sekitar rumah memberikan dukungan dan sering menyuplai makanan.

“Selama isolasi, Ibu Evi dari puskesmas selalu Whatsapp menanyakan kondisinya gimana. Dia bilang ‘Kalau udah nggak ada gejala bisa beraktivitas biasa tapi disarankan minimal 10 hari,” katanya.

Selama isolasi mandiri, ia tinggal satu rumah dengan ibu yang memiliki riwayat penyakit asma dan kedua anaknya. Beruntung hingga saat ini, ibu dan kedua anaknya negatif Covid-19.

photo
Warga memasak makanan yang akan diberikan kepada warga yang menjalani isolasi mandiri di zona merah Covid-19 RT 006 RW 03, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (22/6/2021). - (Prayogi/Republika.)

“Waktu isolasi di kamar kakak saya, peralatan makan terpisah dan cuci sendiri. Kamar mandi satu kamar. Setelah melakukan kegiatan di rumah selalu sterilisasi, dispenser setelahnya pakai handsanitizer. Lantai saya pel dengan Dettol termasuk kamarnya turut disterilisasi,” katanya.

Namun, ia menceritakan, kondisi berbeda dialami sepupu istrinya yang terpapar Covid-19 di salah satu kelurahan lain hingga akhirnya meninggal dunia. “Ada sepupunya kena Covid-19, tapi responsnya cuek. Padahal ada ambulans, tapi Satgas nggak mau kooperatif dan bilangnya hari libur. Akhirnya, saudara istri pingsan jam 06.00 pagi. Dijemput ambulans jam 08.00, dua jam. Akhirnya oksigen hilang,” katanya.


×