Jazirah Arab menjadi lokasi tempat keturunan Nabi Ibrahim AS, melalui Ismail AS, tinggal dan berkembang. | DOK WDL ORG
19 Jun 2021, 21:28 WIB

Melacak Jejak Quraisy

Leluhur kaum Quraisy dapat ditelusuri jauh hingga zaman Nabi Nuh AS.

OLEH HASANUL RIZQA

Allah SWT menakdirkan, Nabi Muhammad SAW berasal dari Suku Quraisy. Leluhur Rasulullah SAW itu merupakan anak keturunan Nabi Ismail AS, yang bersama Nabi Ibrahim AS memulihkan fondasi Baitullah Ka'bah di Makkah. Dari generasi ke generasi, mereka terus menjadi pemimpin di Tanah Suci.

Generasi Arab Pra-Quraisy

 

Terkait

Jazirah Arab memiliki luas sekira 3,1 juta km persegi. Semenanjung terluas di dunia ini berada di Asia bagian barat daya, yakni antara Afrika Timur Laut dan Anak Benua India.

Nyaris seluruhnya tertutupi padang pasir dan bukit-bukit batu. Gurun terluasnya adalah Rub’ al-Khali, sedangkan puncak tertingginya berada di Jabal as-Sarat. Tidak ada satu pun sungai mengaliri lembah-lembah di jazirah ini. Sebagai sumber air, penduduk lokal mengandalkan oasis atau turunnya hujan.

Jan Resto dalam The Arabs in Antiquity (2002) menjelaskan, berdasarkan kajian arkeologis, penggunaan kata Arab yang paling awal terdokumentasi ialah pada artefak tablet tanah liat (cuneiform) dari abad kesembilan sebelum Masehi (SM). Cuneiform yang ditulis dalam bahasa Akkadia tersebut menceritakan penaklukkan Asiria atas Aram, sebuah suku bangsa berbahasa Semit Kuno di Suriah.

Dalam artefak yang sama disebutkan bahwa salah satu sekutu Aram ialah Suku Badui yang menghuni Jazirah Arabia di bawah pemerintahan Raja Gindibu. Merekalah yang disebut sebagai orang-orang ar-ba-a-a dalam dokumentasi ini. Raja Asiria, Shalmaneser III, diketahui mengambil 1.000 ekor unta dari masyarakat tersebut sebagai rampasan perang.

KH Moenawar Chalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW (2001) mengatakan, sejarah orang-orang Arab dapat ditelusuri hingga zaman Nabi Nuh AS. Salah seorang rasul Ulul Azmi itu memiliki tiga putra, yaitu Sam, Yafits, dan Ham. Masing-masing menurunkan bangsa-bangsa dengan warna kulit tersendiri.

 
Kebanyakan ahli riwayat meyakini, tempat lahirnya keturunan Sam bin Nuh yang pertama kali ialah lembah Sungai Eufrat dan Tigris, Irak.
 
 

 

Bangsa Arab, lanjut Chalil, termasuk golongan bangsa Semit, yakni berasal dari keturunan Sam—yang darinya diambil nama Semit. Kebanyakan ahli riwayat meyakini, tempat lahirnya keturunan Sam bin Nuh yang pertama kali ialah lembah Sungai Eufrat dan Tigris, Irak.

Dari sana, di antara mereka ada yang bermigrasi ke banyak daerah sekitar. Sebab, kawasan Irak tak lagi bisa menampung seluruhnya. Akhirnya, terlahirlah bangsa Asiria dan Babilon di Irak, Fenisia dan Aram di Suriah, ‘Ibri di Palestina, Habsyi di Ethiopia, serta Arab di Jazirah Arab.

Orang-orang Arab mendapatkan tempat di daerah luas dengan kondisi tanah yang berbukit-bukit, beriklim gurun, serta jarang dialiri sumber air yang melimpah. Karena itu, karakteristiknya menjadi nomaden. Mereka suka berpindah-pindah tempat tinggal ke lokasi mana saja yang sesuai untuk keperluan hidup sehari-hari dan hewan ternaknya.

Menurut Chalil, itulah sebabnya orang-orang tersebut dinamakan Arab. Perkataan arab sama artinya dengan rahlah, yakni ‘mengembara’. Bangsa Arab dinamakan demikian karena mereka termasuk bangsa pengembara.

 
Bangsa Arab dinamakan demikian karena mereka termasuk bangsa pengembara.
 
 

 

Sam bin Nuh mempunyai putra bernama Iram. Darinya, lahirlah banyak keturunan yang bermuara pada sembilan bangsa. Mereka adalah Ad, Tsamud, Amim, Amil, Thasam, Jadis, Imliq, Jurhum Ula, dan Wabaar.

Dari semua itu, beberapa menjadi masyhur. Misalnya, kaum Ad dan Tsamud. Untuk yang pertama, Allah SWT mengutus Nabi Hud, sedangkan Nabi Shalih diutus kepada kaum Tsamud. Alquran surah al-Haqqah ayat 4-6 menuturkan nasib keduanya yang sama-sama dimusnahkan oleh Allah karena mereka mendustakan rasul-rasul yang sampai kepadanya.

Chalil menerangkan, generasi Arab yang muncul setelah era sembilan suku para anak Iram bin Sam ialah Arab al-Muta’aribah. Nasabnya diyakini sampai kepada Qahthan bin Nabi Hud, yang memiliki sejumlah putra. Ya’rib bin Qahthan menguasai Arab selatan atau Yaman. Jurhum bin Qahthan memegang kendali atas daerah Hijaz. Negeri Syihr dikuasai ‘Aad bin Qahthan, sedangkan Arab tenggara kepada Oman bin Qahthan.

Ya’rib memiliki cicit bernama Abdu Syamsin. Gelarnya adalah Saba karena kemahirannya dalam memenangkan banyak pertempuran. Keturunannya kemudian mendirikan sebuah kerajaan besar di Yaman dengan mengambil namanya. Bahkan, Alquran mengabadikan nama negeri tersebut dalam surah ke-34.

Dari seluruh Jazirah Arab, bagian selatanlah yang paling subur. Ma’rib menjadi kota terbesar di Yaman. Kota itu terkenal akan bendungannya yang canggih pada masa itu. Kemakmuran Negeri Saba dijelaskan Allah dalam surah Saba ayat 15.

photo
Reruntuhan bekas bendungan Marib di masa kerajaan Saba. - (DOK Wikipedia)
 

Di sisi barat Bendungan Ma’rib, terdapat area yang luas tempat pepohonan menghasilkan berbagai macam buah-buahan. Adapun di sisi timurnya, terbentang kebun sayur-mayur aneka jenisnya. Daya tampung bendungan itu juga mengagumkan. Air yang ditampungnya dapat mencukupi kebutuhan masyarakat setempat selama beberapa musim kemarau panjang.

Akan tetapi, penduduk Saba berubah haluan. Tidak seperti sebelumnya, mereka lama-kelamaan mulai meninggalkan agama tauhid. Allah SWT menjatuhkan azab-Nya kepada orang-orang kafir setempat. Bendungan Ma’rib jebol. Banjir besar seketika melanda nyaris seluruh kawasan Yaman, termasuk lahan-lahan pertanian yang selama ini dibanggakan warga Saba. Malapetaka ini oleh kalangan sejarawan disebut sebagai Banjir Arim.

Kejadian banjir tersebut menelan banyak nyawa dan harta. Sebagian penduduk Arab al-Muta’aribah yang selamat di Yaman lalu hijrah ke arah utara. Ada yang sampai ke Syam, Irak, serta negeri-negeri lain yang berdekatan.

Dan, ada pula yang ikut merintis terbentuknya peradaban baru di Bakkah (Makkah), tempat Baitullah Ka’bah berada. Dikatakan “ikut” karena perintis sesungguhnya adalah Sang Khalilullah Nabi Ibrahim AS beserta istrinya, Siti Hajar, dan putranya, Nabi Ismail AS.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Way to Learn (learngoodthink)

Dibangunnya Makkah

Banjir Arim menjadi tonggak berakhirnya fase generasi Arab al-Muta’aribah. Sesudahnya, menurut Chalil, lahirlah generasi Arab al-Musta’rabah atau Arab Ismailiyah. Ini bermula dengan hijrahnya Nabi Ismail dan ibundanya, dengan ditemani Nabi Ibrahim AS, dari Palestina ke Makkah. Semua dilakukan Sang Khalilullah semata-mata atas perintah wahyu dari Allah.

Sesudah ditinggal suaminya, Siti Hajar mendapati bayinya kehausan. Dengan cemas, dirinya berlari-lari dari satu bukit ke bukit lainnya untuk mencari air. Atas izin Allah, di dekat kaki Ismail memancarlah air dari dalam tanah. Begitu derasnya air itu, sehingga Hajar berkata, “Zam, zam”, yang dalam bahasa Palestina berarti ‘berkumpul-lah.’

Pada saat yang sama, rombongan orang-orang Arab Jurhum berarak tak jauh dari sana. Mereka telah bertolak dari Yaman karena kampung halamannya itu sudah rusak akibat jebolnya Bendungan Ma’rib. Begitu dekat Makkah, mereka heran lantaran kawanan burung terbang rendah dan berputar-putar di kejauhan. Setelah mengutus seseorang, didapatilah kabar bahwa di sana terdapat mata air, yang ditunggui seorang perempuan dengan bayi lelakinya.

Para muhajirin—baik lelaki, perempuan, tua dan muda maupun kanak-kanak—dari Yaman itu segera ke lokasi yang dimaksud. Pemimpin mereka lalu meminta izin kepada Hajar agar berkenan mengizinkan kaum ini untuk tinggal bersamanya. Istri Nabi Ibrahim AS itu merestui.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Islamic History & Post (isslamichistory)

Maka, sejak itu terbentuklah sebuah komunitas Arab “baru” di lembah Hijaz ini. Kelak ketika dewasa, Ismail AS bersama ayahnya membangun Ka’bah, yang lantas menjadi pusat keagamaan para penganut tauhid, bahkan hingga detik ini. Memang, kesucian Baitullah sempat lama dikotori pengikut paganisme, khususnya sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Nabi Ismail berkeluarga dan memiliki 12 putra. Mereka menurunkan sejumlah anak cucu, yang ketika dewasa mengembara ke pelbagai daerah Jazirah Arab. Sepeninggalan Ismail AS, kekuasaan atas Makkah dan sekitarnya terus berada di tangan anak keturunannya selama berabad-abad.

Namun, kira-kira pada abad ke-9 SM, Hijaz jatuh ke tangan Raja Babilon. Sebab, koalisi Arab saat itu kalah dalam pertempuran. Memasuki tahun 539 SM, imperium Babilonia ditaklukkan Persia yang diperintah Koresh Agung. Orang-orang Arab pun kembali menguasai Jazirah Arab meskipun tak membentuk kesatuan utuh.

Bani Jurhum dikalahkan oleh Bani Khuza’ah yang datang dari Yaman. Hingga dua abad lamanya, menurut Chalil, Suku Khuza’ah menguasai Hijaz dan sekitarnya. Akan tetapi, Makkah tetap di bawah kendali salah satu suku keturunan Ismail AS yang bertahan di sana. Kaum ini adalah anak-anak Fihr bin Malik.

Nasab Fihr, yakni 10 generasi di atasnya, sampai kepada Adnan bin Hanaisa. Karena itu, keturunannya disebut pula sebagai Bani Adnan. Adapun kakeknya, yaitu an-Nadhar bin Kinanah—bapak dari Malik—dikisahkan pernah naik kapal bersama suatu rombongan.

 
Nadhar digelari al-Quraisy, yakni dari bahasa Arab qarisy yang berarti 'hiu'.
 
 

Dalam pelayaran itu, tiba-tiba seekor hiu besar muncul. Para penumpang kapal panik, tetapi putra Kinanah ini dengan gagah berani menombak hewan tersebut. Kepala ikan karnivor itu dipotong, lalu dibawanya ke Makkah. Sejak itu, Nadhar digelari al-Quraisy, yakni dari bahasa Arab qarisy yang berarti 'hiu'.

Fihr bin Malik bin Nadhar menurunkan banyak putra. Di antaranya adalah Ghalib, yang kemudian menjadi ayah dari Lu’ay. Dua generasi sesudahnya berturut-turut adalah Ka’ab dan putranya, Murrah. Darinya, lahir Kilab bin Murrah, yang kelak menjadi bapak kandung Zaid alias Qushay.

Qushay bin Kilab menikah dengan Hubayya, seorang putri bangsawan dan hartawan di Makkah. Bapak perempuan itu, Hulail, adalah pemimpin Bani Khuza’ah yang juga pemegang kunci Ka’bah.

 
Sejak itu, kendali atas Baitullah kembali ke tangan Bani Adnan.
 
 

Sebelum wafat, Hulail sempat mewasiatkan agar kunci Baitullah diberikan kepada sang putrinya tercinta, Hubayya. Namun, wanita tersebut menolaknya dengan halus. Wasiat yang sama lalu diajukan kepada Mukhtarasy, putra kesayangan Hulail. Akan tetapi, yang ada darinya juga penolakan halus.

Akhirnya, Hulail menunjuk menantunya, yakni suami Hubayya, untuk memegang jabatan penting itu. Qushay bin Kilab bersedia mengemban amanah, asalkan semua pihak sama-sama ikhlas. Tak lama sesudah wasiat ini disanggupi, mertua Qushay tersebut pun meninggal. Sejak itu, kendali atas Baitullah kembali ke tangan Bani Adnan.


×