Petugas kesehatan membawa pasien Covid-19 ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Kota Bandung, Rabu (16/6/2021). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
18 Jun 2021, 03:40 WIB

Lonjakan Kasus Covid-19 Semakin Parah

Libur panjang akan ditiadakan guna mencegah lonjakan kasus Covid-19 makin parah.

JAKARTA -- Pemerintah merilis data teranyar yang menunjukkan lonjakan kasus Covid-19 pada periode satu bulan setelah Lebaran tahun ini, lebih signifikan ketimbang pada periode yang sama tahun 2020. Lonjakan kasus cukup tinggi terjadi pada satu pekan terakhir atau tepat empat pekan setelah Lebaran.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengungkapkan, lonjakan kasus pada pekan keempat setelah Lebaran 2021 tercatat 112,22 persen. Angka ini lebih tinggi dari empat pekan setelah Lebaran tahun lalu, yakni 93,11 persen.

"Kenaikan yang signifikan tahun ini tidak dipungkiri karena pada pekan keempat setelah Lebaran terjadi penambahan kasus secara signiikan dibandingkan pekan-pekan sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, kenaikan bisa dua kali lipat," kata Wiku dalam keterangan pers, Kamis (17/6).

Terkait

Dalam 30 hari terakhir, laporan kasus harian menanjak tajam dari hanya 2.000-an kasus per hari pada pertengahan Mei lalu menjadi 12.624 kasus pada Kamis (17/6). Angka penambahan kasus pada Kamis menjadi yang tertinggi selama 2021. Jumlah kasus aktif Covid-19 juga kembali tembus menjadi 125.303 orang.

Satgas Penanganan Covid-19 meyakini bahwa lonjakan kasus merupakan imbas dari tingginya mobilitas warga selama libur Lebaran lalu. Padahal, sejak Februari sampai pertengahan Mei, angka kasus berhasil konsisten turun. Bahkan angka keterisian rumah sakit (BOR) bisa dijaga di angka 30 persen.

“Sangat disayangkan bahwa perkembangan di pekan ini sangat tidak diharapkan mengingat kita sempat mengalami penurunan kasus pekanan pada pekan lalu,” ujar Wiku.

Lonjakan kasus pada pekan ini mencapai 38,3 persen. Peningkatan kasus ini dikontribusikan oleh DKI Jakarta yang naik 7.132 kasus, Jawa Tengah naik 4.426 kasus, Jawa Barat naik 2.050 kasus, DIY naik 973 kasus, dan Jawa Timur naik 939 kasus.

photo
Petugas kesehatan beristirahat di depan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Kota Bandung, Rabu (16/6/2021). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Wiku melanjutkan, fakta angka ini membuat pemerintah terus berupaya menekan angka penularan. Pemerintah, ujar dia, menyadari adanya kenaikan signifikan dalam waktu singkat di beberapa daerah seperti Kabupaten Bangkalan, Pati, Kudus, Jepara, Bandung, dan Kota Cimahi.

"Adanya kenaikan kasus ini menunjukkan dalam melihat situasi tidak bisa di level provinsi saja, tapi harus ke kabupaten kota. Kalau ada kabupaten kota naik tinggi, harus segera ditangani, sebelum meluas di level provinsi," ujar Wiku.

Sejumlah daerah mengonfirmasi terjadinya lonjakan kasus. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra mengatakan, pada Kamis (17/6) terdapat penambahan 178 kasus positif.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Satuan Tugas Covid-19 (satuantugascovid19)

Menurut dia, grafik penambahan kasus di tempatnya masih terus mengalami kenaikan. Ia memprediksi kasus masih akan terus meningkat hingga akhir Juni 2021 dan didominasi klaster keluarga dan klaster perjalanan usai Lebaran. "Karena sekarang memang pas empat pekan usai Lebaran. Kita dari awal sudah prediksi akan terjadi lonjakan sampai akhir Juni," kata dia.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Sonny Harry B Harmadi mengatakan, pemerintah sedang mempertimbangkan kebijakan peniadaan agenda libur panjang sebagai strategi pencegahan Covid-19. "Jadi, kami memang sedang mempertimbangkan agar sebaiknya kita tidak ada lagi libur panjang. Karena begitu ada libur panjang, selalu diikuti oleh kenaikan kasus," kata Sonny, kemarin.

Sonny mengatakan, lonjakan kasus yang melanda sejumlah daerah di Indonesia diakibatkan aktivitas penduduk usai libur Lebaran 2021. Pemerintah, kata dia, telah berupaya mengantisipasi lonjakan kasus berdasarkan agenda empat kali libur panjang 2020.

"Tetapi faktanya masih cukup banyak yang mudik. Ada sekitar 1,8 juta orang yang ternyata melakukan mudik sebelum pelarangan tanggal 6 sampai 17 Mei dan setelahnya," katanya. 


×