Hikmah Republika Hari ini | Republika
16 Jun 2021, 03:30 WIB

Tugas Umat Terbaik

Ada tiga syarat untuk memenuhi kriteria menjadi umat terbaik.

OLEH NUR FARIDAH

Umat Islam disebut Allah sebagai umat terbaik. Kualitas ini tidak dilihat dari penampilan fisik, tetapi dari aktivitasnya dalam kehidupan disertai dengan kondisi hati yang selalu terpaut dengan Allah dan tak melupakan-Nya.

Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran [3]: 110).

Ibnu Katsir dalam kitabnya, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menyebutkan hadis Durrah binti Abi Lahab, ia menceritakan bahwa ada seseorang menemui Rasulullah sewaktu beliau berpidato di atas mimbar, lalu ia bertanya, “Siapakah orang yang terbaik itu, wahai Rasulullah?”

Terkait

Beliau menjawab, “Manusia yang terbaik adalah manusia yang paling baik bacaan Alqurannya, paling bertakwa kepada Allah, paling giat melakukan amar makruf nahi mungkar dan paling suka bersilaturahim.”

Al-Qurthubi dalam kitabnya, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, mengutip perkataan Mujahid menyebutkan bahwa kualitas unggul umat Islam hanya terjadi jika mereka memenuhi tiga syarat utama seperti dikatakan pada ayat itu.

Pertama, menyuruh kepada yang makruf. Kedua, mencegah dari yang mungkar. Ketiga, beriman kepada Allah. Sebagian ulama salaf mengatakan, “Mereka bisa menjadi umat terbaik jika mereka memenuhi tiga syarat tersebut. Siapa saja yang tidak memenuhi syarat di atas, maka dia bukanlah umat terbaik.”

Baik umat Islam di masa Nabi maupun di masa sekarang, jika memenuhi tiga syarat itu, mereka adalah umat berkualitas unggul. Az-Zamakhsyari dalam tafsirnya, al-Kasysyaf, menjelaskan bahwa dalam ilmu Allah, mereka adalah umat terbaik. Bisa diartikan juga, mereka disebut-sebut di kalangan umat terdahulu sebagai umat berkualitas unggul.

Tidak perlu dipertentangkan apakah yang terbaik di antara mereka, yang awal atau yang akhir. Nabi bersabda, “Umatku bagaikan hujan, tak diketahui yang lebih baik itu yang pertama ataukah yang terakhir.” (HR at-Tirmidzi dan ath-Thayalisi).

Perintah amar makruf nahi mungkar mengisyaratkan bahwa umat Islam tidak boleh bersikap pasif apalagi permisif melihat realitas di sekitarnya yang buruk. Mereka harus aktif dan kritis melakukan perubahan dari yang buruk kepada yang baik, dan dari yang baik menjadi lebih baik.

Adapun iman kepada Allah mengisyaratkan bahwa dalam sikap aktif dan kritis itu perlu didasari dengan keyakinan kepada Allah, sehingga segalanya terkontrol dan terarah sesuai dengan tuntunan-Nya dan Nabi-Nya. Dengan iman ini pula, kemaslahatan di dunia akan tercapai dengan baik.

Sufyan ats-Tsauri mewanti-wanti, “Jika engkau mengajak kepada yang makruf, itu akan membuat kukuh pijakan orang Muslim, dan jika engkau mencegah perbuatan mungkar niscaya engkau telah membuat jengkel orang munafik (hipokrit).”

Umat Islam adalah umat terbaik hanya jika mereka melakukan tugas amar makruf nahi mungkar dan beriman kepada Allah. Artinya, secara eksternal mereka proaktif dan ikut berkontribusi positif di ranah sosial, sementara secara internal mereka selalu menjaga dan membersihkan hatinya dari hasrat-hasrat buruk dan jahat.

Wallahu a’lam.


×