Pegawai beristirahat makan siang di salah satu kantor di Jakarta, Senin (14/6/2021). | ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
16 Jun 2021, 03:45 WIB

Mencegah Klaster Perkantoran

Salah satu yang perlu diantisipasi, mencegah berbagai klaster di masyarakat, termasuk perkantoran.

PROF TJANDRA YOGA ADITAMA, Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI dan  Guru Besar FKUI

Dalam hari-hari ini, jumlah kasus Covid-19 terus meningkat di negara kita. Menteri kesehatan menyampaikan, puncak kenaikan kasus Covid-19 pascaliburan kali ini diprediksi terjadi akhir bulan Juni ini, dan mungkin masih akan tinggi pada Juli.

Dalam hal ini, berbagai upaya dilakukan untuk mencegah dan atau mengantisipasi kenaikan kasus. Rumah sakit sudah disiapkan, juga upaya karantina di lingkungan rumah kalau ada yang sakit sesudah kembali dari daerah asal misalnya, serta upaya lainnya.

Salah satu yang perlu diantisipasi, mencegah berbagai klaster di masyarakat. Di antaranya, klaster perkantoran yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Kantor merupakan tempat sebagian besar masyarakat menghabiskan banyak waktu di dalamnya.

Terkait

Bila kita analisis, ada lima kemungkinan terjadinya klaster perkantoran sesudah libur kali ini dan pemahaman tentang hal tersebut, akan membantu kita menghindari dan menanganinya.

 

 
Kantor merupakan tempat sebagian besar masyarakat menghabiskan banyak waktu di dalamnya.
 
 

Penularan dalam ruangan

Kemungkinan pertama terjadinya klaster perkantoran adalah beberapa orang yang bekerja bersama di dalam satu ruangan dan tidak cukup menjaga jarak. Kita mengetahui, anjuran kesehatan adalah untuk berjarak setidaknya satu meter.

Ini bisa lebih buruk kalau karyawan di kantor tak disiplin memakai masker, mungkin karena merasa sesama teman sudah saling kenal.

Analisis kedua tentang kemungkinan penularan di kantor adalah ruangan yang tertutup. Kita tahu, cukup banyak gedung bertingkat tinggi yang tidak punya jendela yang dapat dibuka, dindingnya berbentuk kaca yang tidak dapat dibuka.  

Publikasi WHO Maret 2001 berjudul “Roadmap to improve and ensure good indoor ventilation in the context of COVID-19”, risiko mendapat Covid-19 lebih tinggi di ruangan penuh orang dan dengan ventilasi tak memadai, bila di ruangan itu ada pasien Covid-19 (yang bisa saja tanpa gejala) yang cukup lama berada di dalam ruangan itu, juga cukup dekat jaraknya.

Jurnal kedokteran internasional “Lancet” pada 15 April 2021 menyampaikan salah satu artikel yang banyak mendapat perhatian, “Ten scientific reasons in support of airborne transmission of SARS-CoV-2”.

 

 
Analisis kedua tentang kemungkinan penularan di kantor adalah ruangan yang tertutup. 
 
 

Dalam analisisnya, antara lain disebutkan tentang penularan pada ruang tertutup, salah satunya bisa saja merupakan ruangan kantor.

Sebenarnya, diskusi tentang penularan di udara ini pernah jadi berita pada Juli 2020 ketika pakar dari 32 negara menulis ke WHO, memang ada bukti ilmiah virus korona menyebar secara “airborne”. Ada juga publikasi CDC (Center of Disease Control) AS tentang hal ini.

Pada September 2020, CDC AS memublikasikan informasi tentang kemungkinan penularan Covid-19 melalui “airborne” di udara bebas, tapi publikasi itu segera dicabut dan disebutkan ada kesalahan dalam memublikasikannya. Hal ini cukup menghebohkan.

Akhirnya, pada 5 Oktober 2020, CDC membuat publikasi baru yang menyatakan, "pada keadaan tertentu" ada potensi Covid-19 dapat menyebar secara “airborne”. Disebutkan, "under the special circumstances favorable to potential airborne transmission".

Untuk mengatasi kedua analisis kemungkinan di atas, tiga hal dapat dilakukan. Pertama, membatasi jumlah orang yang ada dalam satu ruangan, prinsipnya dengan tetap menjaga jarak dengan baik. Bukan hanya di ruang kerja melainkan juga di ruang umum lain, seperti ruang rapat.

Kedua, disiplin memakai masker ketika bekerja di dalam kantor. Ketiga, mengupayakan ventilasi udara yang baik di dalam kantor. Maka itu, perlu pemanfaatan teknologi memadai untuk mengatur aliran udara dan pengendalian sistem sentral pendingin ruangan.

 
Maka itu, perlu pemanfaatan teknologi memadai untuk mengatur aliran udara dan pengendalian sistem sentral pendingin ruangan.
 
 

Deteksi kasus dan sanitasi

Analisis ketiga terkait adanya kasus di suatu kantor yang kemudian jadi sumber penularan bagi teman-temannya. Untuk ini, ada tiga hal yang perlu dilakukan. Pertama, setiap karyawan perlu mengetahui, apakah dia kemungkinan tertular Covid-19 atau tidak.

Artinya, kalau memang menyadari kita pernah ada dalam kerumunan selama musim libur Lebaran, akan lebih baik kalau memeriksakan diri, apakah dia sakit atau tidak. Kedua, kalau memang ada kecurigaan tertular, isolasi dulu sambil memastikan status kesehatannya. Sedangkan ketiga, dilakukan tes berkala bagi para pekerja di kantor-kantor tempat kita bekerja. 

Analisis keempat kemungkinan penyebab klaster perkantoran adalah tentang sanitasi di dalam kantor. Kita tahu, Covid-19 dapat saja menyebar melalui permukaan benda yang ada di kantor, seperti meja kerja dan meja ruang rapat, laptop, gagang pintu, tombol lift, dan lainnya.

Sejumlah hal perlu ditempuh, yakni kepatuhan staf kantor untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau “hand sanitizer”. Hal ini harus terus diingatkan, misalnya pada setiap rapat rutin di kantor.

 
Covid-19 dapat saja menyebar melalui meja kerja dan meja ruang rapat, laptop, gagang pintu, tombol lift, dan lainnya.
 
 

Kedua, selalu membersihkan permukaan benda yang biasa disentuh banyak orang di lingkungan kantor, bukan hanya setiap pagi ketika baru masuk kerja, melainkan juga beberapa kali dalam sehari saat jam kerja aktif.

Lebih baik lagi kalau setiap pegawai dibekali semprotan pembersih yang dapat dipakai untuk membersihkan mejanya sendiri, keyboard komputer, dan lainnya. Jadi jangan bergantung pada petugas kebersihan kantor.

Hal seperti ini sudah jadi kebiasaan sejak tahun lalu di kantor WHO South East Asia Regional Office, tempat saya pernah bekerja. Upaya ketiga, melakukan penyemprotan lingkungan kantor secara berkala.

Mutasi baru

Analisis kemungkinan kelima, kemungkinan adanya mutasi atau varian baru Covid-19. Kalau ada kejadian yang tidak biasa dalam suatu wabah, kemungkinan mutasi tetap perlu jadi perhatian.

Kenaikan kasus di India yang amat tinggi pada Maret-April 2021, diduga terkait lima faktor, yaitu 3M yang kendur, “event-event” besar dengan pengumpulan massa, tak patuh protokol kesehatan sesudah di vaksin, menurunnya jumlah tes dan telusur, serta adanya varian dan mutasi baru di India.

Kalau ada klaster perkantoran di mana cukup banyak orang sakit di suatu tempat tertentu, kemungkinan ada mutasi baru juga patut jadi perhatian. Tentu, harus dibuktikan dengan pemeriksaan “whole genome sequencing” dulu.

 
Bukan tidak mungkin bentuknya klaster besar di perkantoran-perkantoran. Namun, sekali lagi hal ini tentu harus dibuktikan secara ilmiah dulu.
 
 

Kita tahu, salah satu spesifikasi varian atau mutasi baru memang penyakitnya lebih mudah menular. Bukan tidak mungkin bentuknya klaster besar di perkantoran-perkantoran. Namun, sekali lagi hal ini tentu harus dibuktikan secara ilmiah dulu.

Dalam hal ini, informasi Kementerian Kesehatan beberapa hari lalu bahwa sudah ada 59 kasus mutasi baru di negara kita, apalagi ada yang tergolong “variant of concern”, tentu perlu kita waspadai dalam konteks kemungkinan terjadinya klaster perkantoran juga.

Pandemi Covid-19 masih bersama kita. Dari waktu ke waktu kita lihat berbagai perkembangan baru muncul silih berganti, yang selalu harus kita tangani dengan baik. Termasuk klaster perkantoran yang perlu kita cegah agar jangan terjadi dalam hari-hari sekarang ini, menjelang prediksi puncak kasus pada akhir bulan ini dan awal bulan Juli mendatang. 


×