Pasukan Marinir melaksanakan latihan tempur di Kampung Pesisir Wonosobo, Kabupaten Sorong, Papua Barat, Selasa (8/12/2020). Kakatua Raja Perkasa Prajurit Brigif 3 Marinir melaksanakan latihan operasi pertempuran muara, rawa, sungai dan pesisir (Mupe) untu | OLHA MULALINDA/ANTARA FOTO
14 Jun 2021, 03:00 WIB

Operasi ‘Setengah Hati’

Bolehlah kita sebut, kedua operasi ini bukan Operasi Setengah Hati.

A MAKMUR MAKKA, Wartawan Senior

 

Mengubah sebutan Tentara Pembebasan Nasional-“Organisasi Papua Medeka” (TPN-OPM) menjadi Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB), apapun labelnya, kemungkinan menimbulkan kendala operasi militer ahkir-akhir ini di Papua.

Dengan mengganti label itu, operasi menghadapi OPM yang militan dan mulai teroraganisasi rapi, terkesan hanya operasi militer yang setara jika  menghadapi pengacau keamanan dan teroris biasa yang tidak profesional.

Terkait

Padahal KKSB/OPM punya idealisme besar, memperjuangkan kemerdekaan Papua lepas dari NKRI. Gerakan makar, sesuai istilah yang selalu menjadi alasan pemerintah melawan pemberontakan dalam negeri.

Misalnya, PRRI di Sumatra Barat dan Permesta di Sulawesi akhir 1950-an. Jika KKSB/OPM dianggap teroris kriminal biasa, kini tak lagi tepat jika kita membaca deretan berita dalam dua tahun terakhir mengenai kondisi keamanan di Papua.

Berita besar rentetan peristiwa tersebut adalah gugurnya Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha, kepala Bidang Intelejen Papua di Kampung Dambet, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Ahad (25/4/2021).

Membaca prestasi tempurnya, ternyata KKSB kini sudah menjelma jadi kelompok bersenjata yang patut disegani.

 
Membaca prestasi tempurnya, ternyata KKSB kini sudah menjelma jadi kelompok bersenjata yang patut disegani.
 
 

Padahal nalar pembaca, KKSB adalah pasukan yang hanya berklaster pada beberapa kawasan, tidak ada garis komando langsung, tidak ada konsentrasi pasukan setara satu batalion, bahkan mungkin konsentrasi satu kompi pun tidak punya.

Mereka pasukan dengan keterampilan alami, tak punya persenjataan canggih kecuali dari rampasan. Personelnya kebanyakan tak pernah mengikuti latihan kemiliteran, hanya punya satu atau dua desersi TNI yang mungkin pernah mengikuti pelatihan standar bintara.

Melihat taktik perlawanannya, KKSB selalu melancarkan semacam perang gerilya. Dalam doktrin perang gerilya, setahu saya, setiap serangan bukan ajakan untuk perang total. Penyerang hanya memperlihatkan eksistensi dan gangguan kepada musuh.

Namun, seperti diberitakan media, taktik gerilya KKSB ke pos jaga pasukan TNI banyak menewaskan TNI, bahkan merebut sejumlah senjata. Mereka dikejar, biasanya berakhir nihil karena pasukan KKSB kabarnya selalu menghilang “seperti siluman” dalam hutan.

 
Ini melahirkan pertanyaan, apakah kontak tembak selalu dalam hutan lebat dan bercuaca ekstrem?
 
 

Ini melahirkan pertanyaan, apakah kontak tembak selalu dalam hutan lebat dan bercuaca ekstrem? Ternyata tidak juga, beberapa serangan KKSB di medan terbuka. Apakah betul ada “operasi militer” di sana? Apakah yang dihadapi hanya separatis biasa?

Pertanyaan lain, apakah personel militer kita belum memadai untuk bergerak total melakukan “blitzkrieg” (serangan kilat, sebagai balasan) pada suatu daerah bergolak yang menjadi tanggung jawab komando resort militer (Korem) setempat?

Namun, kombatan, bukankah lebih dari cukup dari Polda Papua dan Papua Barat serta bantuan kendali operasi (BKO) dari Kodam luar Papua? Apalagi, dua Kodam pada dua provinsi dalam satu pulau seyogianya memiliki kekuatan besar.

Hitunglah berapa kombatan dalam satu Korem dan berapa Korem di dua provinsi terdekat. Mereka terdiri atas kekuatan tempur, bantuan tempur, bantuan administrasi, intelijen, cadangan kombatan. Jadi apa yang kurang?

Atau ada kesengajaan Kadispen Kodam di Papua tidak merilis hasil berita glorious pasukan TNI dalam setiap operasi?

 
Atau ada kesengajaan Kadispen Kodam di Papua tidak merilis hasil berita glorious pasukan TNI dalam setiap operasi?
 
 

Sebab, pasukan kita tidak perlu naik octagon ( mimbar kemenangan) karena khawatir memancing opini publik dalam dan luar negeri yang berkilah, "Lihat nih! Pemerintah Indonesia menewaskan pasukan KKSB secara masif."

Sejarah operasi militer TNI, di antaranya menumpas PRRI dan Permesta pada 1958. Untuk menumpas PRRI, dibentuk operasi gabungan darat, laut, udara bersandi “17 Agustus”. Pemerintah Jakarta menyatakan PRRI melakukan pemberontakan.

Operasi dimulai dengan serangan kilat. Komando operasi di tangan Kolonel Ahmad Yani, perwira cemerlang di AD saat itu dan dalam waktu singkat operasi ini dinyatakan berhasil.

Operasi yang ada kesamaan di Papua adalah di Sulawesi Selatan pada 1965, menghadapi pasukan DI/TII pimpinan Letnan Kolonel Kahar Muzakkar. Operasi dengan sandi ”Operasi Kilat”, ditugaskan kepada Divisi Siliwangi dipimpin Kolonel Solichin GP.

Kekuatan DI/TII Kahar Muzakkar sekitar satu divisi yang memencar dari arah selatan Sulawesi Selatan sampai ke utara kawasan hutan Gunung Latimojong, melebar ke Sulawesi Tengah. Kekuatan Kahar terpusat di sepanjang lereng Gunung Latimojong.

 
Medan pertahanan dan markas Kahar Muzakkar, pada 1949-1965 juga tak kalah berat.
 
 

Medan pertahanan dan markas Kahar Muzakkar, pada 1949-1965 juga tak kalah berat karena kawasan hutan perawan yang masih lebat, dingin, licin berlumut serta tanjakan terjal di sekitar puncak Rante Mario di Gunung Latimojong. 

Operasi militer “Kilat” hanya dalam hitungan bulan. Kahar Muzakkar tewas di Bonepute, Sulawesi Tengah. Siliwangi bersenjata seadanya, berkekuatan kurang lebih satu batalion karena sebagian pasukan masih menghadapi pemberontakan Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Ini operasi militer mengesankan, dilakukan dengan tuntas. Risiko memang ada, baik "Operasi 17 Agustus" maupun "Operasi Kilat” menyisakan penderitaan bagi masyarakat setempat bahkan sampai sekarang.

Namun, bolehlah kita sebut, kedua operasi ini bukan “Operasi Setengah Hati”.


×