Pekerja menyelesaikan pembuatan perangkat alat elektronik rumah tangga di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/8/2020). | Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO
12 Jun 2021, 03:45 WIB

Industri yang Keropos

Kalau perlu belajar pada Vietnam, sekalipun seperti belajar pada anak kecil. Tak mengapa.

AZHAR SYAHIDA, Peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia

Sekali lagi, pandemi membuka mata. Seperti ultrasonografi atau USG, pandemi bekerja memberi gambaran jejak kaki ekonomi Indonesia yang lemah secara konsep dan institusi. Satu di antaranya, pembangunan industri manufaktur.

Dalam kaitan ini, terdapat kelindan antara surplus perdagangan di tengah pandemi, struktur impor, dan industri manufaktur dalam negeri.

Selama pandemi, secara berturut-turut, Indonesia mengalami surplus perdagangan terbesar dalam kurun lima tahun ke belakang. Surplus terbesar pada Oktober 2020, mencapai 3,5 miliar dolar AS.

Terkait

Sementara, sepanjang 11 bulan terakhir, sejak April 2020 hingga Maret 2021, Indonesia mencatatkan nilai surplus perdagangan 25 miliar dolar AS atau lebih kurang Rp 356 triliun. Salah satu catatan nilai surplus terbesar sepanjang sejarah republik ini berdiri.

 
Selama pandemi, secara berturut-turut, Indonesia mengalami surplus perdagangan terbesar dalam kurun lima tahun ke belakang. 
 
 

Pada dasarnya, surplus perdagangan adalah situasi menguntungkan. Surplus diartikan sebagai kondisi di mana sebuah negara lebih banyak mengekspor ketimbang mendatangkan barang dari luar negeri.

Kendati demikian, pertanyaannya, apakah selamanya surplus itu baik? Para ekonom yang kritis lantas ramai menganalisis angka surplus tersebut. Dan, semua bersepakat surplus perdagangan Indonesia kali ini bukanlah kondisi yang baik.

Sebab, surplus perdagangan sekarang bukan karena kinerja ekspor yang bagus, melainkan impor yang tersungkur lebih dalam. Selain itu, untuk memaknai surplus perdagangan Indonesia baik atau buruk, kita dapat mendekatinya dengan menilik komposisi impor Indonesia.

Kita tahu, selama ini impor Indonesia terbagi ke dalam tiga kelompok barang utama: barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal. Dari ketiga komponen tersebut, impor terbesar Indonesia berasal dari bahan baku/penolong, 77 persen pada Maret 2021.

Kelompok impor bahan baku atau barang penolong adalah komponen utama industri dalam negeri.

 
Imbasnya, pasokan impor bahan baku Indonesia terhambat, yang secara langsung memukul industri manufaktur domestik.
 
 

Maka tak heran saat gelombang sampar menyerang Indonesia pada Maret 2020, negara mitra dagang utama Indonesia, Cina, yang juga tengah mengalami kegagapan serangan pandemi, membatasi aktivitas perdagangan internasional.

Imbasnya, pasokan impor bahan baku Indonesia terhambat, yang secara langsung memukul industri manufaktur domestik.

Keropos

Teka-teki industri manufaktur Indonesia yang justru jatuh ketika kita mengalami surplus perdagangan, harus dibaca sebagai sinyal peringatan dini. Sebab, di sisi lain, lebih dari separuh komposisi ekspor Indonesia adalah komoditas mentah.

Beberapa kalangan memprediksi, menapaki awal 2021, komoditas ekstraktif memasuki awal periode supercycle: kenaikan harga secara signifikan dan berkepanjangan. Artinya, tumbuhnya ekspor Indonesia adalah gambaran karikatif dan semu belaka, selaras dengan adagium: ‘ketiban durian runtuh’.

Mau tidak mau, kita mesti legowo mengakui struktur industri manufaktur Indonesia berongga di bagian tengah. Padahal, membangun industri haruslah penuh dan utuh.

Mendorong industrialisasi tanpa menyiapkan peta jalan yang runtut, adalah kesia-siaan. Sejarah mencatat, industrialisasi memiliki fase. Ada tingkatannya. Kita tidak bisa mengharapkan industrialisasi yang kuat jika melompati satu saja tahap yang seyogianya dilalui.

Maka, jika jalan industrialisasi Indonesia hanya industri yang bergantung pada pasokan bahan baku negara lain, sementara bahan mentahnya dari negeri sendiri, sama halnya kita membangun industri yang keropos. Sebuah industri tanpa tulang punggung yang kokoh.

Itulah mengapa pembangunan industri perantara adalah keniscayaan yang perlu dipertimbangkan. Tentu kita tidak bisa serentak membangun industri perantara yang mengubah bahan mentah menjadi bahan baku bagi industri manufaktur.

 
Itulah mengapa pembangunan industri perantara adalah keniscayaan yang perlu dipertimbangkan.
 
 

Perlu prioritas. Industri manufaktur mana yang perlu didahulukan dan bisa dikerjakan kemudian. Kita bisa memprioritaskan industri manufaktur yang penguasaan pasarnya besar, permintaannya kuat, dan berpotensi memperbaiki kinerja ekspor.

Umpamanya, kita memprioritaskan pembangunan industri perantara untuk industri tekstil dan pakaian jadi. Meski, banyak kalangan meragukan, bahkan menganggap industri tekstil dan pakaian jadi sudah menahun (sunset Industry). Dianggap tidak bertenaga.

Namun, sebagai negara dengan bahan mentah melimpah untuk memproduksi kain, tak logis ketika membiarkan industri tekstil dan pakaian jadi terus mengimpor bahan baku. Perlu langkah konkret meruntuhkan ketergantungan impor bahan baku tersebut.

Angka-angka empiris mencatat, impor bahan baku industri tekstil dan pakaian jadi, meningkat dari 2013 mencapai 48 persen menjadi 60 persen pada 2017.

Selain itu, sepanjang 2019, kita mengalami defisit perdagangan cotton 1,8 juta dolar AS dan sepanjang 2016-2020 pertumbuhan impor produk cotton kita teramat tinggi, menyentuh sembilan persen.

Inilah mengapa pada triwulan I 2021, pertumbuhan tahunan industri tekstil dan pakaian jadi masih jatuh, -13,28 persen ketika pasokan bahan baku dari luar terhambat.

Belakangan, kita lihat Vietnam mulai bangkit industri manufakturnya. Tanpa membusungkan dada, kita memang perlu sesekali menengok kembali industrialisasi kita. Kalau perlu belajar pada Vietnam, sekalipun seperti belajar pada anak kecil. Tak mengapa. 


Terkini

×