Takmir menyalurkan zakat fitrah ke tempat kerja warga di kawasan Jalan George Obos, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu (12/5/2021). | Makna Zaezar/ANTARA FOTO
11 Jun 2021, 03:45 WIB

Zakat dan (Pelestarian) Kemiskinan

Penghimpunan zakat merupakan aspek penting, tetapi program pemberdayaan berkualitas lebih penting lagi.

MUHAMMAD SYAFI'IE EL-BANTANI, Direktur Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa

Ruh gerakan zakat adalah mengubah mustahik menjadi muzaki. Terminologi muzaki bisa diterjemahkan lebih luas menjadi SDM unggul sehingga mampu mandiri dan memberikan kontribusi bagi agama dan bangsa.

Karenanya, keberhasilan dari intervensi program-program pemberdayaan berbasis zakat diukur dari seberapa besar dampaknya pada pengentasan kemiskinan dan lahirnya SDM unggul  yang mandiri dan memberikan kontribusi.

Di sinilah perlu ilmu, keahlian, dan kecermatan mendesain program pemberdayaan dhuafa berbasis zakat. Kealpaan dalam mendesain dan menjalankan program pemberdayaan, bisa berdampak pada kegagalan program atau minimal hasil yang tidak optimal.

Terkait

Jika itu terjadi, alih-alih mengentaskan kemiskinan melalui zakat, secara tidak sadar lembaga ziswaf terjebak melakukan pelestarian kemiskinan. Karena, program pemberdayaan berbasis zakat tak berdampak pada pengentasan kemiskinan. Bahkan, lebih jauh lagi tidak melahirkan SDM unggul.

 

 
Ruh gerakan zakat adalah mengubah mustahik menjadi muzaki. 
 
 

Deviasi terbesar biasanya terjadi saat merumuskan tahapan proses dalam siklus input-process-output-outcome-impact pada model logical framework analysis yang biasa digunakan lembaga ziswaf dalam merancang program. 

Merumuskan tahapan proses memang paling sulit karena membutuhkan kecermatan dan ketelitian di samping keahlian. Banyak variabel berpengaruh yang perlu diperhatikan terhadap pencapaian output.

Alpa mengidentifikasi variabel berpengaruh bisa berdampak pada ketidaktercapaian output. Kemudian, pada tataran implementasi program, tahapan proses juga paling menantang. Rekayasa input tidak sesulit melakukan rekayasa proses.

Kompetensi SDM pelaksana program menjadi variabel paling berpengaruh dalam keberhasilan rekayasa proses. Sering kali secara desain program sudah bagus tetapi masalah muncul karena ada gap antara desain program dengan kompetensi SDM pelaksana.

Karena itu, setelah merumuskan desain program yang teruji, variabel penting selanjutnya adalah memastikan kompetensi SDM pelaksana program sesuai kualifikasi yang dipersyaratkan.

 
Kerja pemberdayaan bukanlah kerja “seikhlasnya”, melainkan kerja profesional yang menuntut kompetensi dan pertanggungjawaban yang amanah.
 
 

Kerja pemberdayaan bukanlah kerja “seikhlasnya”, melainkan kerja profesional yang menuntut kompetensi dan pertanggungjawaban yang amanah.

Tahapan selanjutnya, pada tataran implementasi program, yang penting adalah Monitoring dan evaluasi (monev).

Monev bukanlah menggugurkan kewajiban dalam rangkaian aktivitas implementasi program atau sekadar memenuhi klausul ISO 9001 tentang sistem manajemen mutu melainkan aktivitas untuk memastikan program pemberdayaan berjalan sesuai perencanaan dalam desain program.

Karenanya, metodologi dan alat ukur monev menjadi penting. Terkadang aspek alat ukur kurang diperhatikan. Padahal, mengukur dengan alat ukur yang salah sudah pasti akan menghasilkan pengukuran yang keliru.

Di sinilah keberadaan tim riset dan pengembangan (litbang) menjadi penting bagi lembaga ziswaf. Tim litbang bersama tim program merancang dan memvalidasi alat ukur yang digunakan dalam monev.

Dengan demikian, aktivitas monev menghasilkan data perkembangan program dan penerima manfaat yang valid, untuk kemudian dilakukan perbaikan dan pengembangan.

 
Dengan demikian, aktivitas monev menghasilkan data perkembangan program dan penerima manfaat yang valid, untuk kemudian dilakukan perbaikan dan pengembangan.
 
 

Tahapan penting berikutnya, mengukur tingkat keberhasilan program. Ketika program pemberdayaan sudah sampai pada akhir periode, maka perlu dilakukan pengukuran keberhasilan program secara valid dan objektif.

Pengukuran inilah yang menentukan apakah output tercapai atau tidak? Ada pada kategori atau level apa ketercapaiannya? Dalam hal ini, validitas alat ukur kembali menjadi variabel penting untuk memperoleh hasil pengukuran yang objektif.

Selain itu, objektivitas dan validitas pengukuran output juga untuk memberikan gambaran terbangunnya semacam “jembatan penghubung” dari output menuju outcome.

Karena, outcome adalah hasil tak langsung yang dicapai dari ketercapaian output pada waktu akan datang. Memastikan tergambarnya “jembatan penghubung” dari output menuju outcome, penting untuk memastikan tercapainya impact.

Impact adalah tahapan paling akhir dalam siklus program pemberdayaan. Ia dampak yang diharapkan terjadi dengan tercapainya output dan outcome oleh penerima manfaat program.

 
Penghimpunan zakat merupakan aspek penting tetapi lebih penting lagi menerjemahkannya dalam program pemberdayaan berkualitas.
 
 

Karenanya, riset kaji dampak program perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan inti, yaitu apakah program pemberdayaan dhuafa berbasis zakat berdampak terhadap pengentasan kemiskinan atau malah secara tidak sadar melestarikan kemiskinan?

Karena itu, sebuah keniscayaan bagi setiap lembaga ziswaf memberikan perhatian besar pada kualitas perancangan, pelaksanaan, sampai pengukuran program-program pemberdayaan dhuafa berbasis zakat.

Penghimpunan zakat merupakan aspek penting tetapi lebih penting lagi menerjemahkannya dalam program pemberdayaan berkualitas.

Di sinilah diharapkan zakat mampu menjawab persoalan sosial dan bangsa ini, yaitu mengentaskan kemiskinan, membangun kemandirian, dan memeratakan kesejahteraan. 


×